Cara Mengefektifkan Peran Kepala Sekolah

Pengantar

Sekolah merupakan sebuah sistem yang terorganisasi terdiri dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, komite dan menjadi satuan warga sekolah. Sekolah dapat diibaratkan sebagai kapal yang perlu nahkoda. Nahkoda yang dimaksud adalah kepala sekolah.

Kepala sekolah adalah guru yang mendapatkan tugas tambahan untuk memanajemen sekolah yang dipimpinnya. Bagi kepala sekolah (baru), yang baru mendapat tugas tentu harus mempersiapkan diri. Tak jarang, saat ini, kepala sekolah yang sudah memimpin sekolah belum mendapat pelatihan sebagai calon kepala sekolah. Mereka ini sering dikenal dengan pelaksana tugas (Plt). Nah, apa yang harus dilakukan oleh pelaksana tugas kepala sekolah ketiga bertugas?

Kepala sekolah bertanggungjawab terhadap keberlangsung sekolah. Keberlangsungan yang dimaksud meliputi administrasi, kinerja guru, keberlangsungan pembelajaran, penyedian sarana prasarana, dan berbagai kegiatan yang harus menjaga marwah sekolah itu.

Cara mengefektifkan peran kepala sekolah

Beberapa hal yang dapat dilakukan kepala sekolah antara lain:

  1. Melakukan pendekatan awal dengan situasi lingkungan sekolah
    Pendekatan yang dimaksud adalah bagi kepala sekolah baru di sekolah tersebut, dapat mencari informasi dan melakukan pemetaan kebutuhan. Lingkungan sekolah antara satu dengan yang lain tidak selalu homogen. Oleh karena itu, mendapatkan berbagai informasi sangat membantu kepala sekolah untuk melakukan pemetaan awal
  2. Adaptasi program sebelumnya
    Perencanaan program yang dilakukan harus berdasarkan analisis kebutuhan sekolah. Sebagai orang baru, pelajariilah program-program kepala sekolah sebelumnya. Lakukan identifikasi program yang baik dan perlu dilanjutkan. Sebagai orang baru, tidak harus menolak program yang sudah ada. Bahkan, jika program terdahulu sangat relevan untuk dilaksanakan, tentu sepatutnya dilanjutkan.
  3. Petakan Sumber Daya Manusia
    Tidak dimungkiri bahwa guru adalah sumber daya utama di sekolah. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh sumber daya guru. Sumber daya yang dimaksud tidak hanya dari segi lulusannya saja, melainkan membangun komitmen untuk bersama memajukan pendidikan di sekolah. Perkembangan teknologi di era ini tidak dapat dihindari. Kondisi guru yang ada di sekolah juga tidak sama. Ada guru yang belum mahir dan melek dalam perkembangan teknologi. Artinya, sumber daya guru harus dielaborasi dan dikolaborasi sehingga dapat saling melengkapi.
  4. Kenalkan fitur-fitur teknologi yang membantu pengarsipan administrasi
    Selama ini, masalah administrasi selalu menjadi kendala, terutama dalam pengarsipan. Administrasi yang paling kentara di guru adalah tersedianya RPP, silabus, dan raport. Administrasi yang umumnya dicetak, dapat pula dibuat dalam bentuk file (softcopy) dan disimpan melalui cloud. Sekarang banyak fitur yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyimpanan arsip melalui cluod, yaitu: googledrive, onedrive. Kepala sekolah perlu membuatkan sistem pengarsipan dalam bentuk folder-folder yang dapat diedit bersama (kolaborator).
  5. Keputusan Bersama
    Sebagai pengambil keputusan, kepla sekolah memiliki kewenangan untuk memutuskan sesuatu untuk kepentingan sekolah. Sudah sepatutnya apa yang menjadi keputusan telah melalui proses musyawarah sebagai keputusan bersama.

Penutup

Demikian tadi beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengefektifkan peran kepala sekolah. sekali lagi, sebagai sebuah sistem, maka setiap orang wajib melaksanakan peran dan tanggungjawabnya masing-masing. Sistem yang saling berhubungan dan memengaruhi harus saling bersinergi. Tidak ada satupun sistem yang final, semua akan berjalan dinamik seiring dengan perubahan.

Napak Tilas Sekolah yang Kurindukan

Sekolah ibarat sebuah taman tempat bermainnya anak-anak. Di tempat inilah benih keceriaan, kebaikan, dan keberagaman bersemai dengan indah dan semarak. Tempat setiap anak menggali nilai-nilai kebaikan untuk menajamkan cipta, rasa, dan karsanya hingga terbentuk kehalusan budi dan kedamaian.

Menciptakan sebuah sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak adalah impian setiap guru dan seluruh ekosistem sekolah. Untuk mewujudkan impian tersebut, seluruh pemangku kepentingan harus bergandengan tangan bersinergi dan berkolaborasi menemukan inovasi yang memang betul-betul berorientasi kepada siswa.

Salah satu aksi yang penulis lakukan untuk mewujudkan rasa nyaman, rasa rindu, dan perasaan saling memiliki di sekolah adalah menggandeng seluruh ekosistem sekolah untuk terlibat dalam kegiatan napak tilas “Sekolah yang Kurindukan”. Dalam kegiatan napak tilas, siswa diajak membuka pintu sekolahnya, melihat apa yang ada di dalam sekolah, mengenang kembali cerita indah mereka di sekolah bersama orang-orang terkasih.

Kolaborasi napak tilas ini bertujuan agar siswa merefleksikan kembali kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui di sekolah. Selain itu, napak tilas akan mengantarkan siswa untuk berpikir kritis tentang hal yang harus dibenahi dari sekolahnya, serta menjelaskan harapan sekolah impian mereka.

Perjalanan napak tilas yang melibatkan guru dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah juga bertujuan untuk menggabungkan seluruh kekuatan-kekuatan positif yang ada di lingkungan sekolah, sehingga mampu memacu motivasi intrinsik atau kekuatan dalam diri anak untuk terus berjuang dan belajar di tengah pandemi. Kegiatan aksi nyata ini  berfokus pada paradigma Inkuiri Apresiatif dan dirancang dengan menggunakan tahapan BAGJA.

Napak Tilas

Perencanaan napak tilas dengan tahap BAGJA melibatkan kekuatan-kekuatan positif yang ada dalam ekosistem sekolah. Perencanaan tersebut kemudian diwujudkan dalam video pembelajaran napak tilas. Video ini yang mengantarkan siswa untuk mengunjungi sekolahnya secara virtual.

Durasi video selama 9 menit menggambarkan keadaan SD Saraswati 3 Denpasar di masa pandemi. Mereka diajak menyaksikan rindangnya kebun sekolah, melihat betapa sunyinya lapangan tanpa kehadiran mereka, kondisi ruang kelas dan beberapa ruangan lainnya. Kepala sekolah, para guru, satpam, tukang kebun juga hadir memberikan kesan dan pesan untuk anak-anak yang sedang berjuang belajar di rumah.

Video napak tilas kemudian diunggah ke akun Instagram kelas ruang merdeka belajar. Seluruh siswa kelas VIC yang berjumlah 47 anak diberikan kesempatan menyaksikan tayangan tersebut. Mereka kemudian diminta untuk menceritakan kenangan indah yang pernah dilalui bersama di tempat itu. Siswa juga bisa mengungkapkan sosok yang dirindukan di sekolah, menemukan perbedaan sekolah mereka di masa sebelum dan sesudah pandemi, serta impian dan harapan yang ingin mereka wujudkan untuk sekolahnya.

Ungkapan siswa

Pada kegiatan ini, siswa diberikan kebebasan menuangkan isi hatinya melalui kolom komentar yang ada pada akun Instagram. Siswa juga diberikan kebebasan untuk menanggapi komentar teman-teman mereka dengan bahasa yang santun. Hal ini membawa dampak baik terhadap karakter siswa agar lebih arif dan bijak menggunakan social media.

Di samping itu, siswa juga diharapkan memiliki kebiasaan baik dalam bermedia social, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita hoax dan menjadi teladan teman-temannya dalam mengampanyekan pesan kebaikan di media social.

Kegiatan napak tilas melalui Instagram ternyata mendapat respon positif dari seluruh siswa. Mereka berlomba-lomba meninggalkan komentar positif, membagikan cerita penuh kenangan indah, dan menuliskan harapan kepada sekolahnya. Kegiatan ini seakan mengantarkan mereka berkeliling sekolah setelah hampir setahun tempat ini tidak mereka kunjungi.

Sekolah impian

Menariknya, di akhir kegiatan pembelajaran ini, siswa diminta secara merdeka mengungkapkan sekolah impian mereka. Sekolah impian bisa dibuat dalam bentuk gambar yang mendeskripsikan harapan anak kepada sekolahnya. Kemudian, setiap anak diminta untuk mempresentasikan gambaran sekolah impiannya.

Karya imajinatif mengenai sekolah impian anak-anak sungguh beragam. Ada yang ingin sekolahnya lebih rindang, ada yang punya impian agar toilet sekolahnya bersih. Adapula yang punya impian agar sekolahnya seperti Universitas Waseda Jepang, tempat belajarnya Jerome Polin seorang youtuber terkenal, dan masih banyak impian anak-anak lainnya.

Segala sesuatu yang telah direncanakan tentu dalam pengimplementasiannya tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada keberhasilan, ada hambatan, bahkan kegagalan. Ketiga hal tersebut merupakan pengalaman yang dapat menyempurnakan pembelajaran agar lebih bermakna.

Berkolaborasi dengan seluruh komponen kepentingan di sekolah bukan hal yang mudah untuk penulis realisasikan. Perlu waktu dan kesempatan yang tepat untuk mendapatkan moment ini karena kami tidak selalu berada pada jadwal piket yang sama. Adapun rencana perbaikan ke depan adalah mengajak siswa secara berkelompok melakukan napak tilas di sekitaran sekolah, sehingga mereka dapat merasakan perasaan saling memiliki, saling menjaga, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sekolah secara langsung.

Penulis:
Ida Ayu Putu Ekayuni

CGP Kota Denpasar

Cara Meningkatkan Kedisiplinan Siswa

Artikel ini merupakan aksi nyata calon guru penggerak untuk meningkatkan kedisiplinan siswa. Upaya yang dilakukan adalah dengan menumbuhkan budaya postif. Seperti apa upaya yang sudah dilakukan, berikut sajian lengkap artikel dengan judul “Penerapan Budaya Positif Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021

Mengapa budaya positif?

Setiap sekolah yang ingin memperbaiki kinerjanya, juga harus memperhitungkan dan mengidentifikasi aneka budaya yang ada, disamping posisi sekolah dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan pemahaman budaya sekolah yang ada, baik budaya positif yang mendukung, maupun budaya negatif yang menghambat.

Ini akan dijadikan tolak ukur dalam upaya mengembangkan budaya sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar tersebut. Oleh karena itu kualitas pendidikan bersifat dinamik yaitu berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat, ilmu pengetahuanan dan teknologi, jadi segala wujud dari perkembangan tersebut, sekolah dituntut selalu melakukan perubahan-perubahan dalam aksi nyata.

Sekolah memiliki sejumlah budaya, keyakinan dan nilai-nilai yang disepakati secara luas, ada satu budaya dominan dengan budaya lainnya, ada sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu.

Kenyataannya, ada yang telah membuat kesepakatan namun dalam aplikasinya belum terlaksana dengan baik, sehingga keadaan ini tidak menguntungkan. Jika nilai-nilai yang telah disepakati tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan upaya sekolah untuk membangun sekolah yang bermutu.

Budaya sekolah juga dipengaruhi oleh budaya daerah dimana murid tersebut dilahirkan, tinggal menetap dan berkembang yang pada akhirnya budaya-budaya yang sudah menjadi kebiasaan akan dibawa oleh anak-anak ke bangku sekolah.

Dalam kegiatan persekolahan sehari-hari, murid di kelas VI D SD 3 Saraswati Denpasar misalnya, tentu dipengaruhi oleh budaya daerah Bali yang mungkin saja ada yang kontra dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan, karena itu kesepakatan yang telah dibuat harus mewakili berbagai macam variasi budaya yang sesuai dengan keanekaragamana budaya.

Pengembangan budaya positif menentukan keberhasilan usaha peningkatan pendidikan yang bermutu/berkualitas, karena itu berbagai upaya peningkatan mutu/kualitas pendidikan di semua jenjang, telah diupayakan oleh pemerintah pusat/daerah, satuan pendidikan dan masyarakat, yang dilakukan secara berkelanjutan.

Budaya positif sekolah tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama, jika budaya positif tersebut sudah membudaya, maka nilai-nilai dari karakter yang diharapkan terbentuk pada diri anak (murid).

Sedangkan disiplin positif adalah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, hormat serta kritis, yang menggerakkan perubahan baru (positif) bagi seluruh komponen sekolah ke arah masa depan.

Usaha peningkatan kualitas pendidikan tersebut, selalu menuntut semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, staf administrasi, orang tua siswa, pengawas sekolah, dan masyarakat) agar memiliki kesadaran serta berkeinginan untuk selalu berubah ke arah perbaikan.

Pemikiran-pemikiran positif tentang konsep Ki Hadjar Dewantara yaitu murid yang memiliki kodrat alam dan kodrat zaman, guru menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan atau potensi yang dimiliki murid agar lakunya diperbaiki (bukan dasarnya).

Agar kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia individu dan masyarakat teercapai dengan baik, harus dipahami betul oleh seorang guru. Berkolaborasi dengan pendekatan inkuiri apresiatif, tumbuh menjadi kekuatan baru sebagai aset yang berharga, untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.

Vii yang dimaksud yakni, membangun pendidikan bagi murid yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter, bertanggung jawab, kreatif dan inovatif, mampu mengembangkan sikap spititual dan sikap sosial yang tinggi, berkebhinekaan global, dalam menciptakan murid merdeka, untuk mewujudkan “Profil Pelajar Pancasila”. Hal-hal tersebut terwujud jika kerjasama antara guru dengan kepala sekolah, pegawai, murid, orang tua serta pemangku kepentingan lainnya terjalin dalam budaya yang positif.

Ada sembilan aspek budaya positif yang direkomendasikan untuk dikembangkan dalam rangka membentuk karakter murid positif, yaitu: (1) budaya membaca, (2) budaya jujur, (3) budaya bersih, (4) budaya disiplin, (5) budaya kerjasama, (6) budaya saling percaya, (7) budaya berprestasi, (8) budaya penghargaan, dan (9) budaya efisien/hemat.

Dari uraian tersebut di atas, secara intrinsik budaya-budaya tersebut dapat dimunculkan secara natural oleh murid yang memiliki dasar-dasar budaya tersebut, dan secara ekstrinsik budaya-budaya tersebut diharapkan dapat memberikan stimulus yang baik bagi murid yang tidak memiliki dasar-dasar budaya tersebut.

Selanjutnya, murid berlatih untuk menerapkannya baik di sekolah maupun di masyarakat, sehingga budaya-budaya tersebut menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif, yang dalam pelaksanaannya akan mengalir tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

Melalui penerapan budaya positif, peningkatan pengembangan mutu pendidikan, khususnya jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), tampaknya lebih menjanjikan dibandingkan perbaikan struktural, yaitu penerbitan berbagai peraturan, reorientasi kurikulum, rekayasa sistem pembelajaran.

Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi-inovasi melalui pengembangan budaya (culture) sekolah yang baik, yang menjadi pengikat kuat kebersamaan seluruh warga sekolah. Budaya positif harus dikembangkan di SD 3 Saraswati Denpasar, agar lulusannya siap melanjutkan ke jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan menjadi warga masyarakat yang berbudaya.

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, rumusan masalah penulisan ini yaitu, Bagaimanakah penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021?

Tujuan Penulisan

Laporan aksi nyata tentang “Penerapan Budaya Positif Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021” ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021.

2) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk membuat rencana perubahan diri guna mendukung penguatan lingkungan yang positif dengan penerapan budaya positif yang dimulai dari kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar.

Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi berarti, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Penerapan budaya positif yaitu: budaya membaca, budaya jujur, budaya bersih, budaya disiplin, budaya kerjasama, budaya saling percaya, budaya berprestasi, budaya penghargaan, dan budaya efisien/hemat, sehingga menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif, yang dalam pelaksanaannya akan mengalir tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

1) Bagi murid, penerapan budaya positif diharapkan bermanfaat sebagai stimulus yang baik bagi murid untuk meningkatkatkan kedisiplinan diri dalam pembentukan karakter, menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif yang secara natural akan diterapkan kapanpun, dimanapun dalam kehidupan nyata (masyarakat).

2) Bagi guru, penerapan budaya positif diharapkan bermanfaat sebagai perilaku yang memiliki konstribusi dalam peningkatan kualitas pembelajaran di kelas-kelas, yang pada akhirnya menciptakan lingkungan positif di sekolah.

3) Bagi sekolah, penerapan budaya positif diharapkan dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perubahan di lingkungan sekolah secara bertahap.

****

Pengertian Budaya Positif

Budaya positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya, mutu kehidupan warga yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif, dan professional, budaya positif memberi peluang sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan mampu terus berkembang, budaya positif ini harus terus menerus dikembangkan dari kohor siswa ke kohor siswa berikutnya, dan dari kelompok satu ke kelompok lainnya, budaya positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan perubahan dan perbaikan.

Tujuan utama pengembangan budaya positif di sekolah adalah terciptanya masyarakat belajar, kemampuan murid meningkat karena dilakukan dengan penuh kesadaran, yang kemudian berefek pada peningkatan mutu pendidikan dan pembentukan karakter murid yang unggul, setiap individu yang menjadi bagian dari warga sekolah harus memiliki pola pikir di mana setiap individu merupakan bagian dari keseluruhan sistem persekolahan, karena kegiatan setiap unit mempengaruhi unit lainnya.

Pengertian Disiplin

Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban dengan penuh kesadaran tinggi. Ciri-ciri orang disiplin, selalu mentaati peraturan, selalu tepat waktu, disiplin positif itu membangun kekuatan murid (peserta didik).

Penguatan positif tersebut, difungsikan untuk mempromosikan perilaku yang baik dalam mewujudkan budaya positif di sekolah, daripada mengkritik kelemahan-kelemahan murid, berbagai perencanaan, pengalaman, penelitian pada dunia pendidikan, memberikan hasil bahwa penerapan budaya positif disetiap kelas menjadi hal yang baik terhadap keberhasilan dalam inovasi pendidikan.

Aksi Nyata

Budaya sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, unik dan senantiasa berproses dengan dinamika kebutuhan pengembangan budaya sekolah, yang perlu dipahami adalah budaya sekolah hanya dapat dikenali dari pencerminannya dalam berbagai hal yang dapat diamati, seperti perilaku verbal, nonverbal, dan benda hasil budaya.

(a) Perilaku verbal, adalah ungkapan-ungkapan lisan dan tertulis baik dalam bentuk kata-kata atau kalimat, baik yang dikatakan oleh kepala sekolah, guru dan tenaga pendidikan maupun oleh murid di setiap kesempatan, maupun dalam bentuk-bentuk slogan yang ditulis. Dalam kaitannya dengan perilaku verbal di SD Saraswati 3 Denpasar telah menerapkan slogan-slogan yang ditulis dan dipampang di berbagai sudut sekolah yang strategis dan mudah dibaca, antara lain: “Sekolahku Hijau Sekolahku Sehat, Jagalah Kebersihan, Kebersihan Pangkal Kesehatan, Jangan Lupa Buang Sampah Pada Tempatnya, Kebersihan Bagian Dari Iman”.

(b) Perilaku nonverbal adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan yang baik seperti sopan santun, jujur, kerjasama yang harmonis, saling menghargai, semangat untuk berprestasi, peduli terhadap lingkungan, berlaku hemat tidak boros, menjunjung tinggi gotong royong, taat pada aturan, disiplin waktu, rajin belajar, cinta tanah air, serta membela kesatuan dan persatuan bangsa, dalam kaitannya dengan perilaku nonverbal di SD Saraswati 3 Denpasar, khusunya di kelas 6 D antara guru dan murid telah membuat kesepakatan bersama yang isinya telah mencerminkan budaya positif yang diterapkan dalam kegiatan persekolahan sehari hari.

Aspek-aspek budaya positif yang dikembangkan di kelas 6 D yaitu: (1) Kami guru dan murid menginginkan kedamaian, (2) kami murid yang saling peduli, menyayangi dan mencintai, (3) kami murid yang peduli dengan tugas piket, (4) kami murid ingin kelas kompak, (5) kami murid ingin ruang kelas yang kreatif dan estetis, (6) kami murid yang semangat belajar dan guru yang humoris, (7) kami murid menyelesaikan tugas dengan baik, (8) kami murid yang menghargai waktu.

(c) Benda hasil budaya yaitu tata ruang baik berupa eksterior maupun interior kelas (sekolah), maupun sarana prasarana yang dimiliki sekolah, dalam kaitannya dengan benda hasil budaya, kesepakatan nomor 5 yaitu “kami murid ingin ruang kelas yang kreatif dan estetis” telah mencerminkan aspek benda hasil budaya, namun dalam praktek aksi nyata perlu dimonitoring apakah aspek kesepakatan kelas nomor 5 tersebut dapat diterapkan secara maksimal.

Murid sebagai bagian dari warga sekolah perlu memahami dan dapat membedakan yang mana budaya positif, negatif maupun netral, dalam kaitannya dengan visi, misi dan tujuan sekolah, aspek budaya positif contohnya: ada ambisi untuk meraih prestasi dan memperoleh penghargaan, ada semangat menegakkan sportivitas, kejujuran dan mengakui keunggulan pihak lain, ada perilaku saling menghargai perbedaan, ada rasa saling percaya dan lain sebagainya.

Aspek budaya negatif contohnya: banyak jam belajar yang kosong, banyak absen tugas, membolehkan atau mengizinkan terhadap pelanggaran nilai moral/akhlak/etika, adanya pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan, penekanan pada nilai pelajaran dan bukan kompetensi. Aspek budaya netral contohnya: jenis kelamin kepala sekolah, proporsi guru laki-laki dan perempuan, jumlah siswa wanita yang dominan.

Aspek budaya positif yang seharusnya dilakukan sekolah adalah budaya utama yang meliputi: (1) budaya jujur, (2) saling percaya, (3) kerjasama, (4) kegemaran membaca, (5) disiplin, (6) bersih, (7) berprestasi, dan (8) penghargaan, dan (9) budaya efisien. Berdasarkan kesembilan indikator tersebut, peningkatan budaya disiplin yang paling ditekankan di kelas 6D SD Saraswati 3 Denpasar, sedangkan budaya bersih dan penghargaan adalah budaya yang tidak optimal.

Hasil Aksi Nyata

Dengan adanya kesepakatan yang telah dibuat antara guru dan murid, penerapan budaya positif yang berkembang di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, menunjukkan bahwa pengembangannya dapat berjalan dengan baik, hal ini dapat diamati dari nilai-nilai dan kenyakinan dalam bentuk fisik dan perilaku murid kelas VI D.

Indikator pencapaian budaya positif tersebut, yaitu: semangat berprestasi, minat belajar murid yang relatif tinggi, interaksi antar murid dengan guru dan murid dengan murid yang harmonis, sopan santun dan ketertiban, jalinan kerjasama, pengambilan keputusan secara demokratis, suasana kelas yang nyaman dan penuh kekeluargaan, dan disiplin yang terpelihara dengan baik, diharapkan dapat memberikan konstribusi untuk pengembangan perubahan lingkungan positif pada sikap/perilaku warga Sekolah Dasar Saraswati 3 Denpasar.

Adapun sistem dari penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, akan digambarkan sebagai berikut:

Sikap dan perilaku tersebut melalui proses yang didapatkan dengan melakukan proses interaksi pada pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan.

Keberhasilan dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Budaya sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun, budaya mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal.

Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan budaya sekolah, nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berakar akan dapat menghambat perilaku baru yang diinginkan Kultur sekolah selalu didasari oleh asumsi, nilai-nilai/keyakinan yang kemudian dimanivestasikan dalam artifak nyata yang mudah diamati dalam bentuk kondisi fisik sekolah dan perilaku warganya.

Budaya baru hanya dapat dihadirkan melalui refleksinya dalam sistem perilaku dan penataan kehidupan bersama di sekolah tersebut, penambahan budaya baru dapat dilakukan melalui pengembangan kepemimpinan yang tanggap dan positif terhadap perubahan, secara internal suatu organisasi harus solid dan stabil, tetapi secara eksternal organisasi perlu adaptif dan akomodatif pada perubahan.

Berdasarkan fenomena budaya yang berkembang di sekolah, menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat pengembangan budaya sekolah masih cukup besar, motivasi untuk maju menjadi yang terbaik, merupakan kelemahan utama yang terjadi di sekolah.

Hal ini dibuktikan oleh keberadaan strategis kepala sekolah yang memiliki motivasi berprestasi sangat tinggi akan sangat mempengaruhi budaya yang berkembang di sekolah. Selain itu kompetensi guru maupun karyawan juga mengakibatkan terhambatnya pengembangan budaya positif sekolah, namun rata rata di SD Saraswati 3 Denpasar memiliki budaya sopan santun, kebersamaan, kedamaian yang baik, hal ini dimungkinkan karena sekolah berada di Bali yang masih sangat kental dengan budayanya.

Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Dengan memahami ciri-ciri budaya positif, maka fungsi sekolah dapat dipahami, berbagai permasalahan dapat dimengerti, dan pengalaman-pengalaman dapat direfleksikan, setiap sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen warga sekolah secara internal dan eksternal, sekolah dapat dilakukan rencana tindakan nyata dalam perbaikan mutu sekolah di masa mendatang.

Berdasarkan hasil aksi nyata, pengembangan budaya positif khususnya di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, memang perlu adanya campur tangan yang lebih pada pembentukan budaya positif tersebut agar murid secara bertahap memiliki perilaku yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan pembentukan pribadi yang unggul, cerdas dan bernurani.

Melalui kesepakatan tentang budaya positif, dilakukan oleh kepala sekolah secara terencana dan sistematis, merupakan tindakan yang tepat untuk membangun mutu budaya sekolah dalam jangka panjang, pengembangan yang menekankan pada model budaya positif, yang mampu menggerakkan perubahan secara mantap, memperbaiki pola pikir (mindset), motivasi dan perilaku budaya seluruh warga sekolah.

Kepala sekolah bekerjasama dengan seluruh warganya, memberikan penekanan pada pengembangan sembilan budaya positif  inti yaitu: (1) budaya jujur, (2) saling percaya, (3) kerjasama, (4) kegemaran membaca, (5) disiplin, (6) bersih, (7) berprestasi, dan (8) penghargaan, dan (9) budaya efisien.

Dokumentasi Proses Aksi Nyata

****

Simpulan

Budaya positif yang berkembang di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, menunjukkan bahwa pengembangannya masih berjalan dengan baik, hal ini dapat diamati dari nilai-nilai dan kenyakinan dalam bentuk fisik dan perilaku murid kelas VI D.

Indikator pencapaian budaya positif tersebut, yaitu: semangat berprestasi, minat belajar murid yang relatif tinggi, interaksi antar murid dengan guru dan murid dengan murid yang harmonis, sopan santun dan ketertiban, jalinan kerjasama, pengambilan keputusan secara demokratis, suasana kelas yang nyaman dan penuh kekeluargaan, dan disiplin yang terpelihara dengan baik, diharapkan dapat memberikan konstribusi untuk pengembangan perubahan lingkungan positf pada perilaku warga Sekolah Dasar Saraswati 3 Denpasar.

Saran

Pengembangan budaya sekolah sangat tergantung pada peran kepala sekolah dalam mengembangkan aspek budaya baik yang bersifat positif, negatif maupun netral, sehubungan dengan laporan yang telah diuraikan di atas, maka saran/masukan untuk penyempurnaan perbaikan kinerja lingkungan sekolah, khususnya di Saraswati 3 Denpasar adalah sebagai berikut:

Aspek budaya sosial meliputi: budaya memaafkan, menolong, memberi penghargaan, menegur, mengunjungi, memberi selamat, saling menghormati, dan mengucapkan salam dalam melakukan interaksi dengan orang lain di sekolah.

Aspek budaya akademik meliputi: monitoring kemajuan belajar, kerajinan membaca, bimbingan belajar, kebiasaan bertanya, keberanian mengemukakan pendapat, persaingan meraih prestasi, kepemilikan buku pelajaran, konsultasi dengan pembimbing, kelompok belajar, penugasan oleh guru, umpan balik dari guru, strategi belajar mengajar, penguasaan bahan dari guru, ketepatan media pembelajaran yang digunakan, maupun mutu budaya yang diharapkan, karena itu disarankan kepala sekolah wajib mengetahui budaya yang berkembang di sekolahnya, sebagai modal dasar untuk merekayasa budaya positif dalam rangka memperbaiki kinerja sekolahnya.

Daftar Pustaka

Aditya Dharma. 2020. Modul 1.4: Budaya Positif. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Ali, Mohammad Prof., Dr., dan Asrori, Mohammad Prof., Dr. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara

Dimyati, Dr. dan Mudjiono, Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Multi Pressindo.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Sanjaya, Wina.2010.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

Menerapkan Inkuiri Apresiatif BAGJA

Artikel ini merupakan gambaran aksi nyata calon guru penggerak (CGP) dalam menerapkan inkuiri apresiatif BAGJA di sekolah dasar dengan judul “Visi Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan Merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021

Mengapa Inkuiri Apresiatif Bagja?

Menurut Undang-undang RI nomor 2 tahun 1989 bab IV Pasal 9, tentang sistem pendidikan nasional menyatakan, sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak, tempat dimana anak-anak melakukan lebih banyak aktifitasnya, yaitu belajar dan bermain, karenanya sekolah harus mampu memberikan kenyamanan dan keamanan yang diinginkan oleh semua pihak, serta harus mempunyai tujuan yang jelas yang dijabarkan dalam visi dan misi sekolah.

Di Indonesia sudah cukup banyak orang yang “pintar”, tapi sulit menemukan orang yang “benar”, yang pertama menyangkut kualitas kognitif dan yang kedua menyangkut kualitas nilai (integrasi antara potensi-potensi kognitif, afektif, psikomotor, sosial dan spiritual). Pendidikan dewasa ini sangat disibukkan dengan kegiatan dominasi kognitif, dimana para pendidik di sekolah hanya berperan sebagai pengajar (transfer of knowledge), idealnya hubungan yang harusnya terjadi antara guru dengan murid adalah setara yakni, guru adalah sahabat dan sekaligus teman bagi siswa untuk saling berbagi dan memperkaya wawasan pengetahuan.

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, disebut metode among, yang berarti bahwa pendidikan itu bersifat mengasuh, dengan mementingkan ketertiban, namun dalam pelaksanaannya mengupayakan kesadaran bukan paksaan yang bersifat hukuman. Hal tersebut sesuai dengan visi mendasar dari pendidikan nasional adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, yang merdeka belajar dan berkualitas, sehingga guru dapat merumuskan visi yang jelas, dengan membuat ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid, serta diupayakan bentuk pelayanan di lingkungan sekolah sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Ditegaskan pula dalam konsep Ki Hajar Dewantara yaitu, pendidikan tidak mencabut akar budaya bangsa Indonesia yang membuat murid menjadi asing dengan realitasnya, pendidikan harus membuat eksistensinya mampu berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan mengatur dirinya sendiri. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sangat menggugah hati saya untuk melakukan aksi perubahan adalah “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

Menjalankan perubahan positif di sekolah tidaklah mudah, karena suatu perubahan perlu adanya kerjasama oleh semua pihak, dan upaya yang konsisten dari pihak sekolah dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah, untuk terus melakukan inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang sedang dihadapi pada masa kini dan datang.

Dengan adanya kenyakinan terhadap visi yang dirancang, guru terpacu melakukan usaha peningkatan kualitas diri serta menguatkan interaksi di lingkungan sekolah menjadi upaya perbaikan yang berkesinambungan guna memberikan pelayanan pembelajaran yang diperlukan murid, lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka, yang memiliki kemandirian dan motivasi instrinsik yang tinggi dengan proses pembelajaran yang efektif.

Mengelola perubahan positif di sekolah membutuhkan sebuah manajemen perubahan, pada modul kali ini, calon guru penggerak disodorkan dengan materi “paradigma inkuiri apresiatif BAGJA”, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan, inkuiri apresiatif mengutamakan psikologi positif dan pendidikan positif, dimana setiap murid memiliki inti positif yang dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perencanaan perubahan, dengan menerapkan tahapan inkuiri apresiatif (IA) yang disebut BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi).

Kurikulum merupakan seperangkat rencana yang di dalamnya terdiri dari tujuan, isi dan evaluasi, kurikulum yang digunakan di SD Saraswati 3 Denpasar adalah kurikulum 2013 (K 13) yang menekankan peran aktif siswa secara mandiri atau kelompok, serta pembentukan karakter siswa melalui pengalaman langsung sehingga dapat menambah kekuatan untuk mengeksplor kemampuannya dalam berpikir kritis, namun jika pembelajaran kurang bervariasi cenderung murid jenuh, murid yang belajar diawali dengan kejenuhan sulit menggali potensi yang dimilikinya, terlebih lagi dalam hal berpikir kritis, karena itu penggunaan K.13 belum sepenuhnya diaplikasikan dengan maksimal.

Pada dasarnya murid memiliki perkembangan dan karakteristik yang berbeda-beda, ketika guru telah menyadarinya dan mengetahui karakteristik semua murid yang diampunya, guru dapat mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan murid dalam tiap proses pembelajaran (tematik). Ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas, berbagai stimulus diberikan agar perkembangan kognitif, afektif dan psikomotornya terkontrol.

Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas dapat direncanakan oleh guru pada saat sebelum proses pembelajaran dilaksanakan. Permasalahan yang terjadi pada saat proses pembelajaran di kelas VI D SD 3 Saraswati 3 Denpasar, yaitu; (1) pada proses pembelajaran hanya beberapa orang murid yang antusias bertanya, (2) belum semua murid dapat mengemukakan argumennya, (3) murid belum dapat memilih atau menentukan suatu tindakan sesuai dengan pembelajaran.

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah penulisan ini, yaitu: Bagaimanakah visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021?

Tujuan

Pada laporan tentang “Visi Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021” ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran inkuiri apresiatif Bagja untuk penumbuhan murid yang merdeka.

2) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk membuat rencana perubahan diri guna mendukung penguatan visi mengelola perubahan dan lingkungan yang positif.

3) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021.

Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi berarti, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Penerapan model inkuiri memberikan stimulus kepada siswa untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran, mencari dan menemukan sendiri topik dan permasalahan yang dibahas, mulai dari pemberian pertanyaan, memunculkan rasa percaya diri pada pesserta didik untuk mengemukakan pendapat, sehingga mampu mencerminkan murid yang mandiri dan kritis. 

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

1) Bagi murid, sebagai sarana untuk meningkatkan berpikir kritis, belajar mandiri dalam pembelajaran (sains), dan lain sebagainya, inkuiri apresiatif bagja adalah model pembelajaran yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi murid.

2) Bagi guru, inkuiri apresiatif (IA) Bagja dapat digunakan sebagai referensi dalam merencanakan pembelajaran Tematik, khususnya pembelajaran IPA (sains), kemudian kreatifitas guru terpacu untuk menggunakan berbagai model pembelajaran, sehingga guru termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

3) Bagi sekolah, inkuiri apresiatif (IA) yang disebut BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi) merupakan perubahan positif yang sangat dibutuhkan sekolah, karena inkuiri apresiatif mengutamakan psikologi positif dan pendidikan positif, dimana setiap murid memiliki inti positif yang dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perencanaan perubahan secara bertahap.

4) Bagi penulis, mendeskripsikan tentang visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021, adalah hal yang sangat baru, sehingga diharapkan diperoleh informasi mengenai rencana-rencana untuk melakukan perubahan (di lingkungan sekolah).

*****

Landasan teori adalah konsep yang dapat menjawab masalah yang ditimbulkan dalam kegiatan penulisan tentang, visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021, digunakan dasar-dasar teori yang erat hubungannya dengan permasalahan, yaitu: 1) Inkuiri Apresiatif “Bagja” (Appreciative Inquiry 5D), dan 2) Pengertian Merdeka Belajar

Inkuiri Apresiatif “Bagja” (Appreciative Inquiry 5D)

Istilah Appreciative Inquiry (AI) menjadi pembicaraan populer dewasa ini, karena sifatnya yang mendobrak paradigma lama, yaitu pemecahan masalah yang biasanya berbasis pada penyimpangan antara kondisi nyata dan kondisi sempurna menjadi lebih berbau positif, yaitu mendorong tindakan dengan berbasis pada tingkah laku yang positif (positif attitude).

Akronim dari ‘BAGJA’ (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi), merupakan terjemahan bebas yang diadaptasi dari model 5D (define, discover, dream, design, deliver), suatu metode tentang tangga perubahan bertahap yang menyerupai gerak melingkar spiral, mulai dari tahap penetapan, pencarian/penemuan, membangun mimpi, rancangan dan implementasi/eksekusi.

Gambaran sederhana dari tahapan-tahapan Inkuiri Apresiatif Bagja tersebut dijabarkan sebagai berikut: (1) Buat pertanyaan (define) pada tahap ini melihat dan mendefinisikan suatu masalah dengan mencari solusi yang telah ada, (2) Ambil pembelajaran (discover), melihat dan mengidentifikasi suatu proses yang sudah dan sedang berjalan dengan baik, memperkuat yang bekerja, focus pada hal-hal positif yang menjadikannya hidup dan yang terbaik,

(3) Gali mimpi (dream) pada tahap ini melihat gambaran ke masa depan, dari proses tersebut dipilih mimpi/gambaran yang mungkin bekerja dengan baik di masa yang akan datang, karena keberhasilan masa lalu digunakan sebagai titik beranjak dalam menggambarkan suatu kondisi ideal yang dikehendaki terjadi di masa depan, (4) Jabarkan rencana (design) berarti merencanakan dan memprioritaskan proses-proses yang mungkin bekerja dengan baik untuk masa depan yang dirancang secara mengesankan,

(5) Atur eksekusi (deliver) implementasi dari rancangan (design) yang diajukan tersebut, diimplementasikan kedalam tindakan nyata yang merujuk pada kompetensi dan pengalaman yang pernah dilakukan. Pandangan logis menunjukkan, jika sesuatu beranjak dari ‘eksisting’ pengalaman yang dimiliki, dapat membangkitkan rasa percaya diri komunitas tersebut. Maka impian menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi (destiny).

Menurut Cooperrider (2001), inkuiri berarti untuk menyatakan sistem terbuka dalam melihat potensi dan kemungkinan baru, apresiatif berarti menyadari kehebatan orang-orang atau dunia di sekitar kita untuk menyatakan kekuatan, kesuksesan, dan potensial di masa lalu atau masa sekarang, adalah proses penguatan, yang mengalirkan kekayaan pengalaman dan keseluruhan kekuatan yang dimiliki.

Pendekatan ini tidak terfokus pada masalah yang sedang dihadapi akan tetapi pada kekuatan yang bisa dilihat dalam memecahkan masalah tersebut. Pendekatan ini melihat kapasitas masa lalu dan masa depan tentang; prestasi, asset, potensial yang belum tereksplor, inovasi, kekuatan, pikiran mendalam, kesempatan, momen-momen penting, nilai kehidupan, tradisi, kemampuan strategis, riwayat, ekspresi kebijaksanaan, dan visi dari suatu nilai dan masa depan yang mungkin terjadi.

Inti dari inkuiri apresiatif terletak pada ‘seni mengajukan pertanyaan’ yakni bagaimana melihat kemungkinan masa depan dengan dasar yang kuat yaitu pengalaman terbaik dan hubungan positif subjek (seseorang, organisasi, komunitas) terhadapnya. Dengan demikian, inkuiri apresiatif (appreciative inquiry) bekerja dengan asumsi bahwa lingkungan ini tercipta untuk mendukung sistem kehidupan dan selalu tersedia kapasitas yang sedang berjalan dengan baik.

Gagasan penting lain yang ditawarkan inkuiri apresiatif (appreciative inquiry) adalah lebih baik mengembangkan apa yang sudah berjalan dengan baik di dalam suatu komunitas/organisasi, ketimbang mencoba memperbaiki masalah. Ini berlawanan dengan cara lama yang cenderung mencari penyelesaian masalah (problem solving). Sebaliknya, inkuiri apresiatif  justru memusatkan pada keberhasilan yang pernah terjadi dan yang sekarang berjalan dengan baik, kemudian memperkuatnya. Dan hasilnya, ternyata memberikan dampak yang melebihi dari penyelesaian masalah itu sendiri.

Dalam penelitian yang berjudul Visi Dan Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 DenpasaTahun Pelajaran 2020/2021, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok murid yang belajar dengan strategi pembelajaran inkuiri dengan strategi pembelajaran langsung terhadap kemampuan berpikir kritis maupun pemahaman konsep.

Hasil pengujian hipotesis tersebut memberikan gambaran bahwa strategi pembelajaran inkuiri berdampak konstruktif, karena pada proses pembelajaran cenderung berpusat pada siswa yang menjadikan siswa sebagai subjek dan menekankan keaktifan siswa untuk belajar menemukan topik dan materi pembelajaran.

Pengertian Merdeka Belajar

Kata “merdeka” (independent) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni: (1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Sedangkan kata “belajar” yang dirasakan sebagai kebutuhan yang vital, karena hampir semua kecakapan, keterampilan, dan kebiasaan manusia terbentuk dari proses belajar yang dimodifikasi bagi setiap orang.

Menurut Jihad, (2008: 01) menyatakan, “belajar adalah kegiatan berproses melalui jenjang pendidikan, keberhasilan tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar di sekolah. Merdeka belajar adalah suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Mengajar dengan nuansa yang nyaman akan lebih menyenangkan bagi guru maupun murid. Pembelajaran akan lebih nyaman, jika murid dapat berdiskusi lebih dengan gurunya serta dapat belajar di luar kelas, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi lebih membentuk karakter murid yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking, yang menurut beberapa survey hanya meresahkan anak dan orang tua, karena setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda.

Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan berkompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat. Kondisi yang menyenangkan, aman, dan nyaman akan mengaktifkan bagian otak berpikir dan mengoptimalkan proses belajar mengajar serta meningkatkan kepecayaan diri anak. Suasana kelas yang kaku, penuh beban, guru yang kurang menyenangkan akan menurunkan fungsi otak anak dan anak tidak berpikir efektif, reaktif atau agresif.

Deskripsi Aksi Nyata

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim adalah pencetus program merdeka belajar. Merdeka belajar bertujuan agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia saat belajar. Merdeka belajar adalah proses pendidikan  yang harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan. Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Di sinilah pendidik harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya.

Diperlukan waktu yang cukup serta kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik.

Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik. Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk mendengarkan pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada keterampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.

Program merdeka belajar dilahirkan dari banyaknya keluhan terhadap sistem pendidikan. Salah satunya keluhan soal banyaknya peserta didik yang dipatok oleh nilai-nilai tertentu. “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir, terutama esensi kemerdekaan berpikir harus diterapkan oleh guru terlebih dahulu. Jika guru tidak menerapkan, tidak mungkin bisa terjadi pada peserta didik.”

Saat kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar.  Proses belajar butuh kemerdekaan, sudah tentu. Sebab, kemerdekaan harus melekat pada subyek yang melakukan proses belajar, guru ataupun peserta didik. Perspektif kemerdekaan itu sendiri, bukan sekedar kepatuhan atau perlawanan. Kemerdekaan adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan diberikan. Kemerdekaan adalah bagian penting dari pengembangan guru.

Sama seperti burung yang tidak berani keluar dari kandang, kompetensi guru tidak akan bisa optimal jika tidak diberikan  kemerdekaan atau kebebasan berpikir. Sebab, hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak, hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu pada anak dan hanya guru belajar secara terus menerus yang pantas mengajar. Apa yang dipercayai guru adalah bagian penting dari apakah dia mampu mencapai kemerdekaan dan memerdekakan belajar.

Dalam situasi seperti ini, guru yang memiliki kemerdekaan juga seringkali disalahartikan sebagai perlawanan terhadap aturan atau kebijakan. Ini pendefinisian yang kurang tepat, karena kemerdekaan sesungguhnya selalu berkaitan dengan inisiatif diri. Guru perlu merdeka untuk mencapai cita-cita, bukan sekadar ”merdeka” dari kebijakan.

Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Evaluasi menggali munculnya berpikir divergen, pemecahan masalah secara ganda atau tidak menuntut satu jawaban benar karena pada kenyataannya tidak ada jawaban siswa yang salah, yang ada adalah pertanyaan pendidik yang salah.

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata, artinya evaluasi lebih menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok.

Hasil Aksi Nyata

Peningkatan mutu sumber daya manusia menghadirkan masyarakat yang kaya akan kreativitas dalam pengaktualisasian ilmunya sendiri dan memaksa supaya tidak berpikir monoton merupakan tujuan yang paling utama dalam perubahan kebijakan pendidikan saat ini.

Fokus pada peningkatan tiga indikator yaitu numerasi, merupakan peningkatan kemampuan penguasaan tentang angka-angka, literasi yaitu kemampuan menganalisa bacaan, dan memahami di balik tulisan tersebut dan pembinaan karakter yaitu melakukan pembelajaran gotong royong ke-bhinnekaan dan sebagainnya.

Dalam pembelajaran berbasis budaya, budaya menjadi sebuah metode bagi siswa untuk mentransformasikan hasil observasi mereka kedalam bentuk-bentuk dan prinsip-prinsip yang kreatif tentang alam. Dengan demikian, melalui pembelajaran berbasis budaya, siswa bukan sekadar meniru atau menerima saja informasi yang disampaikan, tetapi siswa dimerdekakan untuk menciptakan makna, pemahaman,dan arti dari informasi yang diperolehnya

Pengetahuan, bukan sekedar rangkuman naratif dari pengetahuan yang dimiliki orang lain, tetapi suatu koleksi yang dimiliki seseorang tentang pemikiran, perilaku, keterkaitan, prediksi dan perasaan, hasil transformasi dari beragam informasi yang diterimanya. Pembelajaran berbasis budaya merupakan salah satu cara yang dipersepsikan dapat;

(1) menjadikan pembelajaran bermakna dan kontekstual yang sangat terkait dengan komunitas budaya, di mana suatu bidang ilmu dipelajari dan akan diterapkan nantinya, dan dengan komunitas budaya dari mana kita berasal.

(2) menjadikan pembelajaran menarik dan menyenangkan. Kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penciptaan makna secara kontekstual berdasarkan pada pengalaman awal sebagai seorang anggota suatu masyarakat budaya. Hal ini sejalan dengan pemikiran aliran konstruktivisme yaitu aliran pementasan drama yang menolak pemakaian latar lukisan dan bentuk dekorasi realistis agar diganti dengan konstruksi lain, seperti tangga dan sebagainya.

Jadi, belajar bukan hanya menerima apa yang ditransfer guru, tetapi peserta didik bebas menerima dan mengembangkan ilmu yang ditransfer guru sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, pendidikan yang berkualitas akan mencerminkan masyarakat yang maju, damai dan mengarah kepada sifat-sifat yang konstruktif. Pendidikan juga menjadi roda penggerak kehidupan bangsa.

Keberhasilan Dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Inkuiri, merupakan salah satu model yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi siswa yaitu: berpikir kritis, belajar secara mandiri, dan lain sebagainya, merupakan salah satu model pendekatan yang berpusat pada siswa dan sesuai untuk diaplikasikan di Sekolah Dasar, terutama sekolah yang menggunakan kurikulum 2013.

Beberapa keunggulan pembelajaran berbasis inkuiri, yaitu: (1) merangsang untuk belajar aktif, (2) mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan mencari dan menemukan sendiri topik dan materi pembelajaran sendiri, (3) meningkatkan penguasaan konsep, dan (4) menekankan komunikasi siswa. Keunggulan tersebut merupakan alasan penggunaan model pembelajaran inkuiri, agar kemampuan berpikir murid meningkat,

Kekurangan pembelajaran berbasis inkuri, yaitu “(1) pembelajaran sedikit sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasan siswa dalam belajar, (2) memerlukan waktu yang panjang dan itu menjadikan guru kesulitan untuk menyesuaikan waktu yang sudah ditentukan, (3) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran, maka penggunaan model inkuiri akan sulit diterapkan oleh setiap guru” (Sanjaya, 2010: 208).

Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Ada murid yang memiliki pengharapan tinggi, dapat mengoseptualisasikan tujuan dengan jelas, menentukan tujuan berdasarkan kinerja sebelumnya, memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari yang dapat dicapai, dapat menyelaraskan diri dengan tujuan mereka sendiri dan mengendalikan bagaimana mencapainya, kemudian termotivasi secara intrinsik dan berkinerja baik secara akademis dikatagorikan murid merdeka belajar, sebaliknya murid yang memiliki pengharapan rendah, ragu-ragu, tidak jelas dengan tujuan diibaratkan murid yang berlayar tanpa menggunakan peta, hal tersebut sangat membahayakan karena itu murid dengan motivasi rendah, memerlukan tuntunan yang lebih dari guru, orangtua, dan masyarakat.

Dari uraian tersebut di atas, perubahan-perubahan yang sangat diperlukan di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, demi terwujudnya “visi murid merdeka” dengan lebih efektif, yaitu:

(1) Penumbuhan karakter yang baik dan semakin baik, jadi murid bukan hanya pintar dalam pengetahuan saja, tetapi murid dapat diterima secara utuh dimasyarakat,

(2) Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengutamakan terjadinya peningkatan komunikasi 2 arah (dialog) bukan monolog yang kaku, dengan model yang beragam contohnya: Tanya-jawab, diskusi perorangan/kelompok, kuis, percobaan (riset) di laboratorium, perpustakaan dan lain sebagainya

(3) Memperkuat dasar-dasar pengetahuan, bakat, kesukaan, sehingga murid dapat menentukan pilihan pada satu bidang yang ingin digelutinya di masa datang sebagai sebuah profesi (ahli dibidangnya),

(4) Selalu mengaitkan hal-hal yang telah dipelajari dengan dunia nyata (masyarakat), baik dari tujuan, manfaat, penerapan, sehingga murid mengetahui dengan pasti potensi dirinya dengan jiwa dan akhlak yang mulia,

(5) Pembelajaran di luar kelas, yaitu guru mendesain pembelajaran di luar kelas, dengan merancang daerah atau lokasi yang akan digunakan untuk belajar (botanical garden, lahan persawahan, lahan pertanian, perindustrian, pertamina, pantai, pegunungan, lapangan, dan lain sebagainya) yang sudah dipikirkan juga bagaimana menuju daerah/lokasi tersebut, apakah menggunakan transportasi sekolah (bus/minibus), atau lokasi dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau mengendari sepeda gayung yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Guna mendukung perubahan-perubahan tersebut di atas, hal yang paling dibutuhkan murid adalah transportasi sekolah yang memadai, laboratorium, ruang perpustakaan yang lengkap dan nyaman untuk menumbuhkan minat membaca, internet dengan kapasitas jaringan yang baik.

Dokumentasi proses Aksi Nyata

****

Simpulan

Pendekatan Inkuiri, merupakan salah satu model yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi siswa yaitu: berpikir kritis, belajar secara mandiri dengan penggambaran strategi pembelajaran inkuiri berdampak konstruktif, karena pada proses pembelajaran cenderung berpusat pada siswa yang menjadikan siswa sebagai subjek dan menekankan keaktifan siswa untuk belajar menemukan topik dan materi pembelajaran.

Merdeka belajar adalah proses pendidikan dengan menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan, sekolah tak lagi menakutkan dengan berbagai aturan yang mengikatnya, murid bisa merasa nyaman dan aman di sekolahnya, maka murid menjadi manusia yang merdeka dengan tetap memelihara ketertiban dan dan kedamaian di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya Dharma. 2020. Modul 1.3: Visi Guru Penggerak. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Ali, Mohammad Prof., Dr., dan Asrori, Mohammad Prof., Dr. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara

Danim, Sudarwan. 2007.  Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara.

Dimyati., Dr. dan Mudjiono., Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Ducha, Marrisa Nurul. 2016. Konsep Pendidikan Ki hadjar Dewantara Sebagai Penguatan Manajemen Mutu Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Multi Pressindo.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

Menumbuhkan budaya positif di sekolah

Tulisan ini memaparkan tentang upaya calon guru penggerak untuk menumbuhkan budaya positif di sekoah dasar. Paparan ini berjudul “Budaya Positif Berpikir Kritis, Memiliki Jiwa Kompetitif dan Melatih Rasa Percaya Diri Siswa SD Taman Rama Denpasar”

Pendahuluan

Sekolah merupakan instikusi pembentukan karakter. Budaya positip sekolah akan berdampak positip pada anak. Dengan memberi tuntunan dengan segala kodrat anak untuk menumbuhkan karakter “Profil Pelajar Pancasila : Beriman dan bertaqwa, mandiri, kebhinekaan global, kreatif, bernalar kritis dan bergotong royong. Dengan memutuskan dan menuliskan nilai-nilai budaya positip yang ada di sekolah dapat membantu siswa memahami, peduli, dan konsisten dalam berprilaku.

Budaya positip yang akan penulis terapkan di SD Taman Rama Denpasar adalah berpikir kritis, memiliki jiwa kompetitip dan melatih percaya diri (khususnya bidang Matematika ) dalam sebuah wadah atau kegiatan ekstrakurikuler “ Math Club “.

Salah satu fokus dari tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum 2013 adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, serta menggunakan konsep secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.

Menurut Nasution (2017) Pendidikan matematika memegang peranan penting untuk mempersiapkan individu dan masyarakat dalam mengantisipasi perubahan keadaan di dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu fokus dalam pembelajaran matematika, pada kenyataan pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa jarang sekali diperhatikan.

Pentingnya kemampuan  berpikir kreatif matematis ini belum terpatri dalam diri siswa. Pembelajaran matematika juga dinilai belum menekankan pada pengembangan daya nalar, logika, dan proses berpikir siswa. Oleh karena itu penulis akan mencoba mererapkan budaya positip berpikir kritis matematis, dalam kegiatan ekstrakurikuler ” Math Club “.

Pengertian berpikir kritis

Berpikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk menginterprestasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman (Pery dan Petter, 2015 )

Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat. Menjadi pemikir kritis adalah sebuah denominator umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin dan mandiri. Pengetahuan didapat, dikaji dan diatur melalui berpikir.

Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan berpikir kritis. Karena matematika itu sendiri tidak lepas dari kegiatan sehari-hari manusia dalam dunia nyata. Jika mampu menerapkan dengan baik dalam pembelajaran matematika di dalam kelas, sudah pasti kita turut ambil bagianl dalam pembentukan karakter bangsa beberapa tahun ke depan.

Menurut Syarifah, Surya (2016) manfaat berpikir kritis dalam pembelajaran matematika adalah: (1) Berpikir kritis mampu menyelesaikan masalah yang ada dalam pembelajaran matematika dan juga kehidupan sehari- hari.; (2) Berpikir kritis dapat membantu dalam pengambilan keputusan.

Pengertian Jiwa Kompetitif

Jiwa Kompetitif adalah  suatu semangat untuk mencapai tujuan  dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok lain.  Semangat dalam berkompetisi memacu anak didik untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya dalam menghadapi situasi disekitarnya.

Jiwa kompetitif adalah kunci seseorang dalam berlomba, Jika memiliki sifat tersebut seseorang akan sering mencari tantangan-tantangan baru dalam hidupnya, akan berani mengikuti perlombaan serumit apapun dengan berkutat dalam bidang yang disukainya dan jarang risau bila ia kalah. Lalu bagaimana seseorang mengasah diri dan memiliki jiwa kompetitif ?

Passion: seseorang akan menjadi berani dan percaya diri jika ia berlomba dibidang keahliannya, seseorang bergelar professor dibidang biologipun tidak akan berani bila ia mengikuti kompetisi dibidang computer karena itu bukan keahliannya.

Kompetitif bukan berarti berani mengikuti semua lomba dibidang apapun, melainkan mampu menunjukkan  usaha bersaing dibidang keahliannya, oleh karena itu temukanlah minat atau passion siswa, lalu kembangkan kemampuan, setelah itu barulah coba diikutkan lomba sesuai minat siswa.

Pengertian Kepercayaan Diri

Kepecayaan diri menurut Anthony (1992) adalah sikap pada diri seseorang yang mampu untuk menerima  kenyataan  berpikir positif, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki segala yang diinginkan. Percaya diri dan Kepercayaan diri menurut saya pribadi memiliki ragam perbedaan, dimana rasa percaya diri ( self confidance ) merupakan kemampuan terhadap penilaian diri sendiri sehingga mampu melakukan segala sesuatu dengan baik, hal ini didasari oleh ekspektasi pada pencapaian diri sendiri berdasarkan evaluasi terdahulu, sedangkan kepercayaan diri adalah sikap positip dimana seseorang mampu untuk berkembang dan mengembangkan penilaian positip tersebut, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Aksi nyata yang sudah dilakukan

  1. Dewan guru bersama kepala sekolah membuat kesepakatan membuat jadwal ekstrakurikuler dengan melakukan meeting bersama.

2. Guru membuat kesepakatan dengan orang tua bahwa bagi siswa yang mempunyai potensi positip dibidang matematika diikutkan ekstrakurikuler “ Math Club “. Peserta Math club adalah siswa-siswi kelas 3 sampai kelas 5 Sd Taman Rama Denpasar. Pelaksanaan pembinaan seminggu sekali dan sesuai jadwal yang disepakati setiap hari Jumat.

3. Guru sudah mempersiapkan segala materi soal-soal yang berlogika tinggi untuk memancing siswa agar berbudaya berpikir kritis. Adapun soal- soal yang dibahas melalui pembelajaran daring dengan menggunakan sarana smart board dan zoom meeting adalah soal-soal yang sering dilombakan contohnya sebagai berikut:

4. Agar siswa punya jiwa kompetitif dan meningkatkan rasa percaya diri, pastinya siswa harus sering diikutkan perlombaan baik yang diadakan oleh dinas Kota, dinas Propinsi, dan tingkat Nasional maupun Internasional. Berikut adalah contoh kompetisi tingkat internasional:

5. Prestasi yang pernah diperoleh dari tim Math Club adalah sebagai berikut : Memperoleh medali dan piala baik dalam perlombaan dalam negeri maupun luar negeri.

Penutup

Guru sangat memegang peranan penting untuk keberhasilan para muridnya. Guru yang baik adalah guru yang mampu mengantarkan anak didiknya menjadi pribadi yang berkarakter dan memiliki budi pekerti yang baik dan juga berprestasi.

Melalui budaya positip berpikir kritis, berjiwa kompetitif dan melatih rasa percaya diri diharapkan apa yang menjadi visi sekolah untuk mencetak SDM yang cerdas dan berkarakter dapat terwujud.

Penulis:
Misrini
CGP Kota Denpasar

Membentuk Siswa Pelajar Pancasila

Pendahuluan

Sekolah merupakan salah satu tempat untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Disini pula terjadi proses pembentukan karakter anak melalui pembelajaran yang dilakukan setiap hari secara kontinyu. Proses itu terus berjalan  dan berkembang sesuai tingkatan yang dicapainya sehingga siswa selalu mengalami perkembangan yang sesuai dengan karakternya. Adanya rutinitas membuat kita  terlena dan lupa dengan apa yang diharapkan. Padahal harapan ini yang mengantarkan kita pada tujuan yang jelas dan membuat kita tidak ragu lagi untuk bertindak.

Di sekolah pula seorang guru beraksi untuk mewujudkan visi dan misinya untuk membentuk  sumber daya manusia yang berkarakter, cerdas, berwawasan budaya, lingkungan , dan global.

Dengan menggali  potensi yang ada pada diri siswa pasti akan ditemukan kekuatan positip yang tentunya akan memberikan kontribusi pada keberhasilan yang diharapkan. Banyak aktivitas yang dapat dilaksanakan untuk mengembangkan potensi anak.

Dalam kapasitas sebagai guru penggerak kita harus mampu mendisain suasana lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya potensi-potensi positif anak, sehingga memiliki kemandirian dan memiliki motivasi diri yang tinggi.

Pembahasan

Banyak kendala yang dihadapi di lapangan saat mengajar di sekolah, seperti bagaimana mengelola kelas dengan baik melalui ZOOM . Dengan selalu berpegang teguh pada visi yang jelas seorang guru penggerak dapat mengoptimalkan daya kreativitasnya untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan sumber daya manusia.

Dengan melalui model inkuiri apresiatif dan BAGJA, yang mana model menejemen memegang prinsip psikologis positif dengan menerapkan : Buat pertanyaan utama; Ambil pelajaran; Gali mimpi; Jabarkan rencana; dan Atur strategi

Untuk memberikan sentuhan khusus kepada anak yang berpotensi di bidang matematika dan sains, maka penulis membentuk wadah yang bernama” Math Club” dan “Sains Club”.sebelum program ini dilaksanakan terlebih dahulu dibuat kesepakatan dengan kepala sekolah, Yayasan, rekan guru dan orang tua. Setelah semua dari pemangku kepentingan ini sepakat barulah program ini dijalankan. Club ini dibentuk untuk menggali lebih jauh lagi potensi positif  yang ada pada anak.

Dengan adanya dua club ini yaitu Math Club dan Sains Club penulis telah berhasil mengantarkan beberapa siswa terbaik untuk mengikuti event olimpiade matematika dan sains di tingkat nasional maupun internasional, karena itu penulis selalu berusaha untuk mencari kader-kader  baru untuk bergabung dalam Math Club dan Sains Club mulai dari kelas 3 – 5.

Peserta club ini adalah anak-anak yang sebelumnya  kita diagnose kekuatan potensi dibidang matematika dan IPA.Dari masing- masing kelas siswa terbaik dibidang math dan sains.  Kegiatan math dan sains club ini termasuk  program ekstra kurikuler yang dilaksanakan seminggu sekali yaitu di hari jumat setelah jam pelajaran sekolah selesai.

Program yang diajarkan adalah materi olimpiade yang sudah sering dilombakan. Dengan sebuah buku panduan yang telah disiapkan

Peserta club juga diajarkan cara menghitung cepat dengan alat peraga sempoa

Siswa juga diajarkan eksplorasi matematika karena diajang lomba tingkat Nasional maupun internasional siswa juga dihadapkan soal eksplorasi matematika.

Setelah itu mereka diikutkan dalam ajang kompetisi olimpiade yang diadakan oleh dinas Pendidikan terkait. Hal ini untuk melatih keberanian anak untuk berkompetisi dengan siswa lain dan sekaligus mencari pengalaman mengerjakan soal-soal olimpiade. Berikut contoh keberhasilan yang sudah pernah diperoleh dari club ini adalah:

Demikian  penulis mewujudkan visi penulis sebagai guru , akan selalu konsisten melakukan pembinaan terhadap club yang sudah dibentuk.Hal ini juga merupakan salah satu usaha mewujudkan visi sekolah yaitu “ Membentuk Sumber Daya Manusia yang cerdas, berkarakter, berwawasan budaya, lingkungan dan global “  aksi nyata yang sudah kami lakukan selama ini memang benar-benar berpengaruh positif terhadap pembentukan karakter anak sehingga mampu menjadi sosok yang mandiri, cdrdas dan penuh tanggung jawab terhadap diri dan lingkungan.

            Kegiatan serupa juga penulis lakukan untuk membina siswa berprestasi yang mewakili sekolah untuk berkompetisi yang diadakan oleh dinas:

Penutup

Menggali kekuatan positip sekecil apapun yang ada pada diri anak sangatlah penting dan harus dilakukan secara konsisten agar anak dapat berkembang sesuai kekuatan yang ada pada dirinya. Tugas seorang guru hanyalah memupuk seperti merawat tanaman agar tumbuh dengan subur.

Oleh karena itu model manejemen (Define, Discover, Dream, Design, dan Deliver) wajib selalu diingat dan dipegang teguh jika kita berharap anak dapat memiliki perubahan positif dalam perkembangannya.Dengan harapan siswa dapat berkembang sesuai dengan potensi atau kekuatan yang positip yang dimiliki, belajar dengan nyaman, bebas berekspresi dan berekplorasi dan merdeka belajar tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Penulis:
Misrini
CGP Kota Denpasar

Penerapan Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Tulisan ini memaparkan tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Penerapan Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021

Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu proses yang tidak diam. Pendidikan harus terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan kondisi peserta didik. Pendidikan tersebut hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.

Jika pendidikan dibayangkan sebagai sebuah sistem besar yang hanya dipikirkan oleh para pakar dan penentu kebijakan di pusat, maka sekolah atau bahkan kelas juga merupakan suatu sistem pendidikan dengan ruang lingkup yang kecil. Setiap sekolah memiliki kondisi dan permasalahan masing-masing, sehingga pengembangan satu sekolah dengan sekolah lain tentunya tidak akan sama.

Pada refleksi filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal agen perubahan dalam transformasi pendidikan di sekolah. Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan jawaban yang tepat bagi bangsa Indonesia dalam upaya mempersiapkan diri menghadapi globalisasi abad ke-22 dan dalam memasuki era kemajuan IPTEKS di masa yang akan datang.

Pemahaman mendalam dan penerapan budi pekerti luhur sebagai karakter diri peserta didik serta keterampilan dalam memaksimalkan potensi yang dimiliki melalui implementasi konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran di sekolah yang akan mampu menjadi bekal untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asian (MEA) dan juga menjalani kehidupan dewasa mereka di era globalisasi.

Dengan prinsip serta pandangan hidup menjadi manusia “Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah memberi kesempatan untuk berkarya), Tut wuri handayani (dari belakang memberi dorongn dan arahan)”, merupakan jiwa Pendidikan Nasional yang dapat diterapkan di kelas-kelas sebagai sistem pendidikan dengan ruang lingkup yang kecil.

Merebahnya pandemi Covid-19 menghantam kehidupan masyarakat dunia termasuk Indonesia membawa pengaruh besar terhadap berbagai sektor kehidupan, baik sektor ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Di bidang pendidikan, adaptasi kebiasaan baru dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19. Selain itu, penerapan physical distancing dan protokol kesehatan, membuat kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah kini harus diubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Langkah yang dilakukan oleh pemerintah tidak terlepas dari hasil observasi pemerintah pusat dan daerah, sehingga setiap kebijakan yang dibuat benar-benar mementingkan keselamatan dan kesehatan baik siswa, orang tua, maupun tenaga kependidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim pada Konferensi Pers Internasional di Istana Kepresidenan Jakarta pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2020, yang menyatakan beberapa hal terkait “Adaptasi Pendidikan Selama Covid-19” sebagai berikut;

“Semenjak awal pandemi, kami langsung menerapkan program Belajar dari Rumah sebagai kebijakan nasional. Kerangka peraturan juga dibuat jauh sebelum perusahaan-perusahaan menerapkan bekerja dari rumah dan melakukan usaha pencegahan lainnya. Kami mengambil pendekatan berbasis keutamaan dalam membuat keputusan, dan keputusan pertama yang diambil adalah mengutamakan Kesehatan. Keselamatan guru, siswa, dan orang tuanya merupakan prioritas utama. (Sumber:https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/05/darurat-covid19-mendikbud-kesehatan-pelaku-pendidikan-jadi-prioritas-utama-pemerintah).

Tantangan baru dihadapi satuan pendidikan di era pandemi agar tetap kegiatan pembelajaran dapat berlangsung. Meskipun tidak mudah, satuan pendidikan terutama guru. terus berupaya menyediakan sarana pembelajaran dengan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dengan demikian siswa tetap dapat melaksanakan pembelajaran walau dari rumah tanpa harus bertatap muka secara langsung.

Sejak dikeluarkannya Surat edaran Walikota Denpasar Nomor: 420/1471/DISDIKPORA/2020 bahwa seluruh siswa dan guru harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), guna menekan penyebaran virus corona yang semakin meluas dan meresahkan masyarakat dan dunia. Sejak itu, SD Saraswati 3 Denpasar merupakan sekolah swasta di bawah Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar, telah menyesuaikan diri dan menerapkan PJJ dengan menggunakan aplikasi Google Meet dan Whatsapp.

Pada pelajaran Tematik kelas 6 D, selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh diberlakukan, ditemukan ada beberapa siswa yang masih kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh serta kurang aktif dalam pengiriman tugas yang diberikan oleh guru dengan berbagai kondisi dan alasannya. Di sinilah peran guru dituntut menemukan cara atau metode untuk mendorong semangatnya agar tetap aktif dan menyelesaikan tugasnya pada Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diberlakukan. Merdeka belajar yang merujuk pada konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara perlu kiranya diadopsi yakni pengajaran yang dimaksudkan adalah memajukan kecerdasan pikiran (intelektual) dan berkembangnya budi pekerti.

Rumusan Masalah

Dengan diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai bentuk nyata dari Adaptasi Pendidikan Selama Covid-19, penggunaan aplikasi pengajaran dipilih untuk mendukung dan memudahkan pengajaran tatap muka jarak jauh dengan menggunakan Google Meet atau non tatap muka dengan menggunakan WhatsApp (orangtua murid) dalam jaringan (daring)/online.

Bertolak dari latar belakang di atas, maka permasalahannya sebagai berikut: Bagaimanakah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dan Penerapan Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021?

Tujuan

Pada laporan tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Penerapan Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021 ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)    Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2) Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

1.3.2 Tujuan Khusus

Secara khusus laporan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pembelajaran jarak jauh dan penerapan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021.

Panca Darma (Lima Asas) Ki Hadjar Dewantara

Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara merupakan warisan budaya bangsa dan menjadi salah satu kekayaan keilmuan milik bangsa Indonesia. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara pada dasarnya yang paling sesuai untuk meningkatkan kualitas pembangunan manusia Indonesia seutuhnya maupun pembangunan nasional yang bercirikan kepribadian bangsa Indonesia. Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan Panca Darma (Lima Asas). Kelima asas tersebut adalah Asas Kodrat Alam, Asas Kemerdekaan, Asas Kebudayaan, Asas Kebangsaan, dan Asas Kemanusiaan. Berikut adalah penalaran atas kelima asas tersebut.

Pertama, asas kodrat alam. Asas ini mengandung arti bahwa hakikat manusia adalah bagian dari alam semesta. Asas ini juga menegaskan bahwa setiap pribadi peserta didik di satu sisi tunduk pada hukum alam, tapi di sisi lain dikaruniai akal budi yang potensial baginya untuk mengelola kehidupannya. Berdasarkan konsep asas kodrat alam ini, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pelaksanaan pendidikan berasaskan akal-pikiran manusia yang berkembang dan dapat dikembangkan. Secara kodrati, akal-pikiran manusia itu dapat berkembang.

Namun, sesuai dengan kodrat alam juga akal pikiran manusia itu dapat dikembangkan melalui perencanaan yang disengaja dengan sistematik. Pengembangan kemampuan berpikir manusia secara disengaja itulah yang dipahami dan dimengerti sebagai “pendidikan”. Sesuai dengan kodrat alam, pendidikan adalah tindakan yang disengaja dan direncanakan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik yang dibawa sejak lahir.

Kedua, asas kemerdekaan. Asas ini mengandung arti bahwa kehidupan hendaknya sarat dengan kebahagiaan dan kedamaian. Dalam khasanah pemikiran Ki Hadjar Dewantara asas kemerdekaan berkaitan dengan upaya membentuk peserta didik menjadi pribadi yang memiliki kebebasan yang bertanggungjawab sehingga menciptakan keselarasan dengan masyarakat. Asas ini bersandar pada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi sebagai andalan dasar untuk menggapai kebebasan yang mengarah kepada “kemerdekaan”.

Pencapaian ke arah pribadi yang merdeka itu ditempuh melalui proses panjang yang disebut belajar. Proses ini berjenjang dari tingkat yang paling dasar sampai pada tingkat yang tertinggi. Namun, perhatian kita hendaknya jangan difokuskan pada tingkatan-tingatannya semata, tapi juga pada proses kegiatan pendidikan yang memerdekakan peserta didik. Dalam pengertian itu, pendidikan berarti memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan dan keahlian profesional (mewujud) yang diemban dan dihayatinya dengan penuh tanggungjawab.

Oleh karena itu, praksis pendidikan harus “luas dan luwes”. Luas berarti memberikan kesempatan yang selebar-lebarnya kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi dirinya seoptimal mungkin, sementara luwes berarti tidak kaku dalam pelaksanaan metode dan strategi pendidikan.

Ketiga, asas kebudayaan. Asas ini bersandar pada keyakinan kodrati bahwa manusia adalah makhluk berbudaya. Artinya, manusia mengalami dinamika evolutif dalam pembentukan diri menjadi pribadi yang berbudi pekerti. Dalam konteks itu pula, pendidikan perlu dilaksanakan berdasarkan nilai-nilai budaya sebab kebudayaan merupakan ciri khas manusia. Kemanusiaan bukanlah suatu pemikiran yang statis. Kemanusiaan merupakan suatu konsep yang dinamis, evolutif, organis.

Dalam kaitan ini, Ki Hadjar Dewantara memahami kebudayaan selain sebagai buah budi manusia, juga sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup manusia. Kebudayaan selalu berkembang seirama dengan perkembangan dan kemajuan hidup manusia. Ditopang oleh pemikiran mengenai kebudayaan sebagai perkembangan kemanusiaan itu, maka Ki Hadjar Dewantara melihat posisi kebudayaan bangsa Indonesia di tengah-tengah kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia ini, yakni sebagai penunjuk arah dan pedoman untuk mencapai keharmonisan sosial di Indonesia. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai kebudayaan ini kemudian dituangkan dalam Pasal 32 UUD 1945. Dalam konteks itu pula, asas ini menekankan perlunya memelihara nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan nasional.

Keempat, asas kebangsaan. Asas kebangsaan merupakan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang amat fundamental sebagai bagian dari wawasan kemanusiaan. Asas ini hendak menegaskan bahwa seseorang harus merasa satu dengan bangsanya dan di dalam rasa kesatuan tersebut tidak boleh bertentangan dengan rasa kemanusiaan.

Dalam konteks itu pula, asas ini diperjuangkan Ki Hadjar Dewantara untuk mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi yang dapat tumbuh dan terjadi berdasarkan daerah, suku, keturunan atau pun keagamaan. Bagi Ki Hadjar kebangsaan tidaklah mempunyai konotasi, rasial biologis, status sosial ataupun keagamaan. Rasa kebangsaan adalah sebagaian dari rasa kebatinan kita manusia, yang hidup dalam jiwa kita dengan disengaja. Asal mulanya rasa kebangsaan itu timbul dari Rasa Diri, yang terbawa dari keadaan perikehidupan kita, lalu menjalar menjadi Rasa Keluarga; Rasa ini terus jadi Rasa Hidup bersama (rasa sosial).

Wujudnya rasa kebangsaan itu umumnya ialah dalam mempersatukan kepentingan bangsa dengan kepentingan diri sendiri; kehormatan bangsa ialah kehormatan diri, demikianlah seterusnya. Ideologi kebangsaan inilah yang diterapkan secara konsekuen ketika beliau bersama dengan Dr. Tjipto dan Doowes Dekker mendirikan Indische Partij pada tahun 1912. Bahkan Pancasila dasar negara dan pandangan hidup bangsa, yang juga merupakan ideologi nasional kita, pada dasarnya adalah suatu formulasi dari ideologi kebangsaan itu, dari wawasan kebangsaan kita itu.

Kelima, asas kemanusiaan. Asas ini hendak menegaskan pentingnya persahabatan dengan bangsa-bangsa lain. Dalam konteks pemikiran Ki Hadjar Dewantara, asas ini menegaskan bahwa manusia di Indonesia tidak boleh bermusuhan dengan bangsa-bangsa lain.

Manusia merupakan suatu sifat dasar, kodrat alam yang diciptakan oleh Tuhan, dan berevolusi disepanjang keadaan alam dan zaman, yang terungkap di dalam sifat, bentuk, isi dan irama yang berubah-ubah. Dari manusia inilah tumbuh dan berkembang kebudayaan, karena manusia itu adalah makhluk yang istimewa, yaitu makhluk yang memiliki akal budi. Adab kemanusiaan di dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara merupakan acuan yang amat mendasar, dalam pengertian bahwa segala sesuatu yang dikembangkan oleh manusia di segala bidang selalu disesuaikan dengan kodrat kemanusiaannya.

Tidaklah mengherankan Ki Hadjar Dewantara dipandang sebagai seorang humanis, dalam pengertian bahwa manusia dan kemanusiaan merupakan acuan dasar dalam ajaran dan pemikirannya. Salah satu naskah yang mengungkapkan ajaran Ki Hadjar Dewantara tentang kemanusiaan adalah refleksinya mengenai Pancasila yang ditulisnya pada tahun 1948. Bagi Ki Hadjar Dewantara, Pancasila melukiskan keluhuran sifat hidup manusia. Pokok dari Pancasila adalah perikemanusiaan karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang mengajarkan kita perihal bagaimana seharusnya kita berpendirian, bersikap dan bertindak, tidak saja sebagai warga negara yang setia, melainkan juga sebagai manusia yang jujur dan bijaksana.

Asas Tri-Kon Ki Hadjar Dewantara

Bagaimana mengembangkan sekolah atau bahkan proses pendidikan di ruang kelas dengan efektif? Asas tersebut dinamankan dengan asas trikon karena terdiri atas tiga asas yang berawalan “kon” yaitu kontinyu, konvergen dan konsentris, yang diuraikan sebagai berikut:

Kontinyu, artinya pengembangan yang dilakukan harus berkesinambungan, dilakukan secara terus-menerus dengan perencanaan yang baik. Suatu kondisi yang baik tidak mungkin dapat dicapai dalam sekali waktu seperti sebuah sulap. Tahap demi tahap pengembangan dilakukan dengan rencana yang matang, dengan melalui evaluasi dan perbaikan yang tepat. Pengembangan yang sifatnya tiba-tiba kemudian hilang semangat di waktu-waktu setelahnya tidak akan menghasilkan perubahan berarti  jangka panjang.

Konvergen, artinya pengembangan yang dilakukan dapat mengambil dari berbagai sumber di luar, bahkan dari praktik pendidikan di luar negeri. Seperti yang dilakukan oleh Ki Hadjar ketika mempelajari berbagai praktik pendidikan dunia misalnya Maria Montessori, Froebel dan Rabindranath Tagore. Praktik-praktik tesebut dapat dipelajari untuk nantinya disesuaikan dengan kebutuhan yang kita miliki sendiri. Saat ini teknologi informasi telah sedemikian canggih sehingga guru atau kepala sekolah dapat mempelajari berbagai kemajuan pendidikan dari mana saja dan kapan saja.

Konsentris, artinya pengembangan pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan kepribadian kita sendiri. Tujuan utama pendidikan adalah menuntun tumbuh kembang anak secara maksimal sesuai dengan karakter kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu meskipun Ki Hadjar menganjurkan kita untuk mempelajari kemajuan bangsa lain, namun tetap semua itu ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya.

Pendidikan yang menggunakan teori dan dasar kebudayaan bangsa lain (walaupun bangsa yang maju) secara langsung tanpa mengkaji ulang, menyesuaikan dan mengevaluasinya tidak akan menghasilkan kemajuan. Banyak pengembangan yang telah dilakukan namun mengabaikan asas trikon di atas. Sebagai contoh kurangnya kesinambungan perubahan yang dilakukan dari satu masa ke masa lain seiring dengan pergantian penguasa. Demikian pula sering kita mengadopsi teori secara langsung tanpa melakukan penyesuaian yang tepat sehingga upaya pengembangan yang dilakukan menjadi sia-sia.

Konsep-konsep Dasar Pengajaran

Konsep-konsep dasar pengajaran meliputi: (1) Semboyan Ki Hadjar Dewantara sebagai Jiwa Pendidikan Nasional, (2) Sistem Momong, Among, Ngemong (3) Trisakti Jiwa, yang diuraikan sebagai berikut:

1) Semboyan Ki Hadjar Dewantara sebagai Jiwa Pendidikan Nasional

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Pendidikan itu membentuk manusia yang berbudi pekerti, berpikiran (pintar, cerdas) dan bertubuh sehat. Berangkat dari keyakinan akan nilai-nilai tersebut, Ki Hadjar Dewantara yakin pendidikan yang khas Indonesia haruslah berdasarkan citra nilai Indonesia juga. Tiga semboyan pendidikan yang menunjukkan kekhasan Indonesia, diuraikan sebagai berikut:

Pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas digugu dan ditiru dalam perkataan dan perbuatannya.

Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya.

Ketiga, Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

2) Sistem Momong, Among, dan Ngemong

Senada dengan semboyan pendidikan di atas adalah metode pendidikan yang dikembangkan, yang sepadan dengan makna “paedagogik”, yakni Momong, Among dan Ngemong,  yang berarti bahwa pendidikan itu bersifat mengasuh. Mendidik adalah mengasuh anak dalam dunia nilai-nilai. Metode pendidikan dalam “mendidik” memang mementingkan ketertiban, tapi pelaksanaannya bertolak dari upaya membangun kesadaran, bukan berdasarkan paksaan yang bersifat “hukuman”. Maka, pembagian usia 0-7, 7-14, dan 14-21 dalam proses pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara bukan tanpa landasan pedagogik. Pembagian demikian berdasarkan fase-fase dimana masing-masing menuntut peran pendidik dengan isi dan nilai yang berbeda-beda. Metode momong, among, ngemong dan semboyan Ing ngarso sung tulodho, Ing Madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani bukan berasal dari sebuah pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang terpisah, melainkan yang memandang manusia biologi dan manusia sosio-budaya sebagai satu kesatuan.

3) Trisakti Jiwa

Konsep tentang Trisakti Jiwa diuraikan sebagai berikut:

Cipta, menurut Ki Hajar Dewantara (2004) “Cipta dapat diartikan sebagai daya berpikir yang bertugas mencari kebenaran sesuatu dengan jalan membandingkan, mencari beda, dan samanya”.  Cipta juga merupakan aktivitas berpikir untuk memperoleh ketentuan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam hal men-cipta, manusia berkuasa untuk berangan-angan secara aktif dan subjektif, yaitu bertindak menurut keinginannya sendiri. Melalui kesaktian cipta kita dapat memperoleh ketetapan tentang kebenaran atau kesalahan.

Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan penerapan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, tahun pelajaran 2020/2021, pengajaran yang telah dilakukan berusaha mengedepankan humanisasi, yaitu mengkondisikan peserta didik menjadi subjek yang mampu mencipta, karena daya cipta merupakan kesaktian dari akal pikiran manusia. Pendidik dalam menyampaikan pengajaran membangun kekuatan kreatif yang bisa berguna dan bermanfaan bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pembelajaran jarak jauh harus tertuju pada pemberdayaan kesaktian dari akal yaitu cipta.

Rasa, menurut Ki Hajar Dewantara (2004) “rasa adalah segala gerak-gerik hati kita, yang menyebabkan kita, mau tidak mau, merasa senang atau susah, sedih atau gembira, malu atau bangga, puas atau kecewa, berani atau takut, marah atau berbelas kasih, benci atau cinta, begitu seterusnya. Yang mengalami rasa adalah hati, bukan pikiran kita. Maka dengan kesaktian rasa dalam jiwa kita dapat memperoleh ketentuan tentang apa yang baik dan apa yang jelek”.

Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan penerapan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, tahun pelajaran 2020/2021, pengajaran yang telah dilakukan juga berusaha memaknai rasa, bahwa manusia itu memiliki kepekaan pada segala sesuatu yang diangap baik dan buruk. Nilai kebaikan tentunya diselimuti nilai-nilai moralitas yang menuntun anak-anak untuk senantiasa melakukan hal-hal yang bersifat normatif. Kepekaan dari hati yang mampu merasa akan menuntun anak-anak untuk senantiasa melakukan tindakan kebaikan secara konsisten dan ajeg. Tindakan yang amoral (buruk) bertentangan dengan nilai kebaikan akan membuat hatinya merasa tidak nyaman, gelisah, dan berdosa. Sehingga anak-anak dapat membedakan baik-buruk yang diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Karsa, menurut Ki Hajar Dewantara (2004) “karsa merupakan kemauan atau kehendak yang timbul seakan-akan sebagai hasil buah pikiran atau perasaan. Sebenarnya kemauan merupakan lanjutan daripada hawa nafsu kodrati yang ada dalam jiwa manusia, namun sudah dipertimbangkan oleh pikiran serta diperhalus oleh perasaan, hingga tak lagi bersifat insting yang mentah, ataupun dorongan-dorongan yang kasar dan rendah”. Karsa adalah kemauan yang didasari atas pertimbangan akal dan hati, yang melahirkan kemauan yang berujung pada tindakan reflektif, tindakan yang penuh kesadaran, bukan tindakan instingtif.

Dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan penerapan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, tahun pelajaran 2020/2021, pengajaran yang telah dilakukan akan berusaha memaknai karsa yaitu kemampuan atau kehendak yang tidak bersifat instingtif.  Dengan berkembangnya akal, hati, dan kehendak pada diri anak-anak, mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu mengurus diri sendiri, manusia lain, dan bangsanya, sehingga penyempurnaan antara akal, hati dan tindakan, menghasilkan manusia susila atau makhluk yang berbudi dan beradab.

Dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan, mayoritas responden memandang konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara bagus dan tetap memiliki relevansi untuk pendidikan pada masa kini, tapi mereka juga mengakui bahwa konsep yang demikian bagus itu menghadapi tantangan serius dalam mengimplementasikannya, yakni: edukasi atas hakikat makna pendidikan menjadi sekadar pembelajaran dan pengajaran.

Penurunan makna ini bisa terjadi selain karena pergeseran pemaknaan konsep pendidikan, juga karena perkembangan zaman yang turut mempengaruhi pola-pola kehidupan setiap orang yang terlibat dalam proses pendidikan (orang tua, guru, dan murid). Pergeseran pemaknaan konsep pendidikan dapat ditemukan melalui sudut pandang orang di Indonesia, misalnya: jika berbicara tentang pendidikan, pada umumnya mereka langsung terarah ke sekolah, artinya bahwa pendidikan itu terjadi di sekolah, dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Pemahaman atas pendidikan seperti di atas jelas berseberangan dengan konsep Ki Hadjar Dewantara, yang meyakini pendidikan itu terjadi dalam tiga lingkungan secara simultan, yakni: keluarga, masyarakat dan sekolah. Proses pendidikan yang terjadi di sekolah adalah khas karena kombinasi antara pendidikan dan pengajaran.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah diberlakukan dan dilaksanakan selama masa pandemi ini, mau tidak mau lingkungan keluarga (orangtua) harus ambil bagian atau berpartisipasi lebih atau berperan aktif dalam mengurusi pendidikan anak-anaknya.

Orangtua harus meluangkan waktu untuk memberikan pengajaran jika ada hal-hal yang belum dimengerti pada mata pelajaran apapun dengan solusinya, karena orangtua adalah lingkungan yang paling terdekat dan yang paling banyak untuk menghabiskan waktu bersama. Sehingga dapat disinkronkan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang  pendidikan itu terjadi dalam tiga lingkungan secara simultan, yakni: keluarga, masyarakat dan sekolah.

Deskripsi Aksi Nyata

Tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai masyarakat. Bertolak dari tujuan pendidikan yang ingin dicapai, saya sebagai guru merasa perlu berpartisipasi untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut melalui tindakan nyata kepada siswa-siswi yang saya ampu.

Di masa pandemi ini banyak yang berubah pada kehidupan manusia, salah satunya adalah sistem pembelajaran dalam dunia pendidikan. Berkerumun adalah larangan yang paling diutamakan karena hal tersebut merupakan sumber penyebaran Covid-19 yang paling cepat. Maka dari itu, sesuai instruksi pemerintah bentuk kegiatan yang melibatkan  banyak orang harus ditutup sementara waktu untuk menghindari hal terburuk yang tidak diinginkan.

Agar kegiatan pendidikan dan pengajaran dapat berjalan, pemerintah memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh. Dengan demikian, kondisi covid-19 seperti ini, proses pendidikan tetap bisa dilangsungkan dari rumah saja. Imbas dari Covid-19 ini juga dirasakan di sekolah tempat saya bekerja, sehingga sesuai Surat Keputusan Walikota Nomor 420/1471/DISDIKPORA/2020, dan Surat Keputusan Ketua Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar menyambut baik kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengenai ‘Merdeka belajar” yaitu proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ditiadakan, kemudian memilih pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena lebih meringankan dan bisa meningkatkan mutu pendidikan.

Sasaran aksi nyata pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah anak kelas 6D pada SD Saraswati 3 Denpasar. Guna mempermudah akses pengajaran antara guru dan murid dalam jaringan (daring), aplikasi Google Meet dipilih untuk melakukan pengajaran tatap muka jarak jauh, yang disesuaikan dengan jadwal pembelajaran yang telah tersusun. Untuk pengumpulan tugas-tugas yang telah dikerjakan murid kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, dikirim melalui WhatsApp group orangtua.

Langkah awal sebagai bentuk persiapan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah menyusun jadwal pembelajaran, yang disederhanakan dengan membandingkan jadwal pembelajaran yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka langsung di kelas. Hari Senin sampai dengan hari Jumat, anak-anak diberikan pelajaran tematik dan muatan lokal, dan hari Sabtu extra wajib Pramuka.

Hal tersebut diberlakukan, agar proses pembelajaran selama masa pandemi tidak menjadi beban secara paksa murid dan orangtua murid. Jadwal pembelajaran tersebut disusun, disesuaikan dengan kondisi masa pandemic Covid-19, sehingga kesehatan (imunitas) terutama anak-anak tetap terjaga. Alasan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah agar tetap dapat memberikan pendidikan dan pengajaran kepada siswa-siswi SD Saraswati 3 Denpasar, sehingga kodrat yang dimiliki anak tetap tertuntun sebagai manusia dengan budi pekerti yang baik dan semakin jelas.

Hasil Aksi Nyata

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah saya lakukan dengan Google Meeting cukup berhasil meningkatkan aktivitas siswa mengikuti pembelajaran. Hal ini diukur dengan kehadiran siswa hampir mencapai 80% dari jumlah siswa di dalam kelas. Keaktifan siswa juga dapat dilihat dari cara menanggapi dan menjawab setiap soal atau masalah yang diajukan.

Beberapa anak-anak beranggapan bahwa, ketika pembelajaran tatap muka langsung di kelas tidak dapat dilaksanakan maka, pembelajaran dengan Google meeting sangat tepat. Mereka merasakan bahwa pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan tidak ada bedanya dengan belajar tatap muka langsung di kelas, sehingga tetap terjadi proses interaksi antara siswa dengan guru. Guru memberikan kebebasan kepada anak didik untuk mengungkapkan pendapat sesuai dengan pemikirannya, artinya penggalian potensi dapat dimaksimalkan.

Saya sebagai guru hanya memfasilitasi, mengarahkan dan berhamba kepada anak, sehingga anak-anak dapat berkembang  sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Di sinilah saya menyadari bahwa setiap anak memiliki kodratnya sendiri. Anak-anak dan orangtua juga beranggapan bahwa, di saat pengumpulan tugas dengan mengirimkan melalui Whatsapp orangtua sangat memudahkan dan efisien waktu, karena orangtua sibuk dengan urusan pekerjaan.

Pemberian kelonggaran waktu  juga mendapat tanggapan positif dari orangtua, karena pengumpulan tugas bisa dikirim di sela kesibukan orang tua menyelesaikan pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kantor. Mereka tidak perlu lagi mengumpulkan tugas ke sekolah, karena tugas-tugas sudah bisa dikirim melalui  Whatsapp. Hal ini berarti bahwa tidak akan terjadi kontak fisik baik antara guru, murid, dan orang tua.

Keberhasilan Dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Di dalam proses kegiatan pembelajaran tentunya ada perubahan yang diharapkan. Perubahan-perubahan ini mengarah kepada terciptanya suasana belajar yang menyenangkan dan dapat menggali potensi siswa sesuai kodratnya. Bakat dan minat peserta didik menjadi poin utama untuk dikembangkan sesuai dengan materi ajar, sehingga tercipta suasana merdeka belajar yang menjadi tujuan dari kegiatan program pendidikan guru penggerak.

            Setiap kegiatan tidak terlepas dari keberhasilan dan kegagalan, termasuk kegiatan aksi nyata yang telah saya lakukan. Dalam kegiatan ini ada beberapa menjadi catatan penting sebagai bentuk keberhasilan dan kegagalan. Adapun kegiatan aksi nyata ini dinilai sebagai keberhasilan adalah: [1] Adanya proses pembelajaran bagi guru tentang penggunaan aplikasi Google meeting untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi siswa, [2] Dapat melangsungkan pembelajaran seperti tatap muka, sehingga dapat memantau keaktifan dan prestasi siswa walaupun di rumah saja, [3] Dengan Google meeting  dapat meningkatkan kemauan belajar siswa di masa pandemi,  dalam mencapai prestasi belajar, [4] Melalui Google Meeting guru dapat memantau perkembangan bakat dan minat siswa sesuai kodratnya, [5] Pengiriman tugas melalui Whatsapp orangtua dinilai mempercepat proses penerimaan tugas oleh guru.

            Penilaian sebagai kegagalan yakni: [1] Sebelum Covid-19 sekolah kami melarang anak-anak memiliki dan membawa HP ke sekolah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, [2] Terhambatnya pembelajaran melalui Google Meeting, karena telepon seluler yang dipakai anak-anak adalah milik orang tua, [3] Kuota internet dari pihak orang tua yang tidak selalu tersedia, [4] Jam pelaksanaan Google meeting susah ditentukan karena tergantung keberadaan orangtua.

Rencana Perbaikan Di Masa mendatang

 Perbaikan di masa mendatang sangat diperlukan untuk menyempurnakan hasil yang ingin dicapai. Rencana perbaikan yang dilakukan adalah meningkatkan terus penggunaan aplikasi Google Meeting, baik di masa pandemi maupun keadaan kembali normal. Kebebasan anak dalam pelaksanaan pembelajaran terus diupayakan, agar mereka dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Melihat anak sesuai kodratnya yang dibawa sejak lahir menjadi hal baru bagi saya untuk belajar mengembangkan anak didik, mengubah laku (bukan dasarnya) untuk menjadikan generasi pelajar Pancasila sebagai  penerus bangsa yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, memiliki kebinekaan global, sifat kegotong-royongan, karakter kuat, kreatif, inovatif, memiliki kemandirian, serta bernalar kritis. 

Sehingga dengan demikian usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai masyarakat dapat diwujudkan.

sbjaja

Dokumen proses aksi nyata yang telah dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan menggunakan google Meeting dan Whatsapp, yaitu:

Simpulan

Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai pejuang kemanusiaan di Indonesia. Ia berupaya membangun dan menyelenggarakan pendidikan untuk manusia di Indonesia dengan konsep, landasan, semboyan dan metode yang menampilkan kekhasan kultural Indonesia. Tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia dewasa ini adalah kurangnya pemahaman mendalam bahwa penanaman nilai-nilai budi pekerti, pikiran dan perkembangan tubuh anak tidak bisa dipukul rata, apalagi dengan kurikulum yang cenderung berubah-ubah dan kurang mantap dipersiapkan. Hal ini menyebabkan anak dipaksa/terpaksa belajar mengikuti kurikulum, tanpa ada kesadaran.

Berdasarkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah dilaksanakan dengan menggunakan dua aplikasi yang telah dipilih yaitu Google Meeting dan WhatApps, penerapan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021 tetap dapat diimplementasikan secara maksimal.

Saran

Sehubungan dengan laporan yang telah diuraikan di atas, maka saran/masukan untuk penyempurnaan pada langkah-langkah proses belajar mengajar selanjutnya, khususnya di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar diperlukan, adalah sebagai berikut:

  1. Konsep pemikiran pendidikan nasional perlu diterapkan dengan aksi nyata pada semua mata pelajaran.
  2. Oleh karena tanggung jawab pendidikan bukan hanya ada pada guru, sekolah dan pemerintah, maka peran orang tua dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) kali ini sangat dirasakan sebagai bagian dalam meningkatkan prestasi belajar.
  3. PJJ perlu ditinjau kembali untuk tetap dilaksanakan pada bagian-bagian yang memerlukan keterlibatan guru, orangtua murid, dan murid. PJJ dapat dilakukan misalnya jika murid perlu pembelajaran khusus, pengulangan, maupun remidi dengan waktu yang sangat longgar.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safrudin Abdul Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Danim, Sudarwan. 2007. Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Dimyati., Dr. dan Mudjiono., Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Ducha, Marrisa Nurul. 2016. Konsep Pendidikan Ki hadjar Dewantara Sebagai Penguatan Manajemen Mutu Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Riduwan, M.B.A., DR. 2009. Pengantar: Prof. Dr. Buchari Alma, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Penerbit CV. ALFABETA.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Sagala, H. Syaiful., Prof., Dr., M.Pd. 2011. Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Penerbit CV. ALFABETA.

Sukardi., Prof., Ph.D. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT Bumi Aksara

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

Penerapan Nilai dan Peran Guru Penggerak

Tulisan ini merupakan paparan tentang Penerapan Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak Dalam Menumbuhkan Motivasi Intrinsik Melalui PerlombaanKelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan dan pengajaran merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menyiapkan masa depan manusia menjadi lebih baik. Pada lingkungan masyarakat, mulai dari kelompok masyarakat terkecil yakni keluarga, proses pendidikan yang terjadi disebut sebagai pembudayaan. Konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah pendidikan terjadi dalam tiga lingkungan secara simultan, yakni: keluarga, masyarakat dan sekolah.

Dalam proses pendidikan, banyak faktor yang melingkupi manusia, maka tidak bisa dipungkiri masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang perlu dipikirkan bersama antisipasi dan alternatif jalan keluarnya terkait isu permasalahan yang muncul yakni, kurang matangnya pembentukan karakter dan kepribadian luhur dalam diri siswa. Misalnya saja “beraklak mulia”, sering tidak jelas di lapangan, sehingga dalam proses pendidikan tidak dapat diukur dengan lebih jelas. Namun dari segi karakter/sikap (afektif) yaitu: beriman, takwa, akhlak, berbudi luhur, demokratis masih banyak yang kabur atau bahkan tidak terukur. Akibatnya proses pendidikan belum sungguh-sungguh membantu tercapai tujuan pendidikan yang lebih utuh.

Kurang terdukungnya cita-cita pendidikan nasional, yaitu: 1) kecenderungan proses pendidikan yang lebih menekankan pada hasil belajar yang bersifat kognitif, 2) kurangnya proses belajar yang mengarah pada pengembangan karakter, nilai, dan moral, 3) pengaplikasian kurikulum yang relatif sama dengan pendekatan yang cenderung berpusat pada guru.

Menurut konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada prinsipnya semua siswa/murid adalah ciptaan Tuhan yang memiliki daya jiwa yakni: cipta, karsa dan karya. Pengembangan daya jiwa yakni: cipta, karsa dan karya tersebut, menuntut terjadi secara seimbang, tidak hanya menitikberatkan pada satu daya saja.

Menurut Bloom, tahap perkembangan anak di dalam dunia pendidikan perlu diperhatikan, perkembangan faktor kognitif, afektif, dan psikomotorik yang menjadi acuan untuk menilai sejauh mana kemajuan perkembangan anak tersebut berkembang secara objektif. Perbedaan perkembangan berbagai karakteristik individual dalam aspek-aspek yang terdapat pada setiap diri individu itu sendiri, adalah sebagai berikut: 1) perbedaan karakteristik individual aspek fisik, 2) perbedaan karakteristik individual aspek intelektual, 3) perbedaan karakteristik individual aspek emosi, 4) perbedaan karakteristik individual aspek sosial, 5) perbedaan karakteristik individual aspek bahasa, 6) perbedaan karakteristik individual aspek bakat, 7) perbedaan karakteristik individual aspek nilai, moral, dan sikap, (Ali dan Asrori, 2006: 2-7). 

Kepala Sekolah sebagai motor penggerak pendidikan bersama para guru harus senantiasa berkomunikasi maupun bekerjasama dengan para orang tua murid untuk menggali informasi tentang keadaan siswa itu sendiri (anak mereka). Menurut Mappiare (1982), masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi Wanita, dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi Pria.

Dengan pembagian sebagai berikut: umur 12/13-15/16 tahun (remaja awal), umur 15/16-17/18 (remaja pertengahan), dan 17/18-21/22 (remaja akhir). Sesuai dengan uraian tersebut di atas, umur 12/13 tahun tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga diterima untuk masuk ke golongan dewasa, karena perkembangan karakteristik individual yang masih dalam fase “mencari jati diri’.

Terkait dengan motivasi intrinsik dalam dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu hanya “tuntunan” di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Ki Hajar Dewantara menyebutnya sebagai “menghamba pada anak”.

Mereka secara kodrati memiliki bakat dan minat yang berbeda sehingga kita wajib menghargai perbedaan tersebut tanpa harus menyeragamkan dengan ukuran tertentu yang pada akhirnya memberi label dengan istilah murid pintar atau murid bodoh. Implementasinya di sekolah dapat diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menyenangkan sehingga proses belajar dapat benar-benar atas kesadarannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. 

Dalam laporan penulisan tentang penerapan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam menumbuhkan motivasi instrinsik melalui perlombaan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021, perumusan penulisan ini hanya meneliti perkembangan karakteristik murid kelas 6 D yang merupakan peralihan antara masa anak-anak dan masa remaja.

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka permasalahannya sebagai berikut: Bagaimanakah Penerapan Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak Dalam Menumbuhkan Motivasi Instrinsik Melalui Perlombaan Kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021?

Tujuan

Pada laporan tentang “Penerapan Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak Dalam Menumbuhkan Motivasi Instrinsik Melalui Perlombaan Kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021” ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)  Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2) Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

3) Secara umum laporan ini bertujuan untuk mengartikulasi, memahami, dan menerapkan prinsip-prinsip pengembangan dalam komunitas.

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk merumuskan nilai-nilai dan peran sebagai guru penggerak dengan upaya penumbuhan murid yang merdeka.

2) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk membuat rencana perubahan diri guna mendukung penguatan nilai dan peran sebagai guru penggerak.

3) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk menginternalisasi nilai nilai diri dan perannya sebagai guru penggerak, sehingga komunitas pembelajaran sepanjang hayat yang positif dan merdeka dapat diwujudkan.

4) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang penerapan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam menumbuhkan motivasi instrinsik melalui perlombaan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021.

Landasan teori

Landasan teori adalah konsep yang dapat menjawab masalah yang ditimbulkan dalam kegiatan penulisan mengenai, “penerapan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam menumbuhkan motivasi instrinsik melalui perlombaan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021”, digunakan dasar-dasar teori yang erat hubungannya dengan permasalahan, yaitu: 1) Posisi Nila-nilai dan 2) Peran Kepala Sekolah dan Guru.

Posisi Nilai-nilai
Posisi nilai-nilai diri dalam proses tumbuhnya karakter seseorang dalam suatu lingkungan, yaitu: 1) Trapezium Usia, 2) Diagram Gunung Es, dan 3) Eskalator Kinerja Otak, diuraikan sebagai berikut:


Trapezium Usia
Jenjang pendidikan formal yang telah dirasakan dan dialami pada tiap jenjang pendidikannya, mempengaruhi diri individu di masa sekarang, karena itu output pendidikan mengharapkan hasil yang dibutuhkan dunia kerja dan masyarakat, sesuai dengan Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 telah diterang syarat masuk sekolah TK, SD, SMP, SMA atau SMK, yang dapat diuraikan sebagai berikut: 4-6 tahun adalah Pendidikan Taman Kanank-Kanak (Pendidikan Anak Usia Dini), 7-12 tahun adalah Pendidikan Sekolah Dasar (SD), 13-15 tahun adalah Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP, 16-18 tahun adalah Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), 18-21 tahun adalah Pendidikan Perguruan Tinggi (PT), diatas 22 tahun adalah usia aktif/kerja, diatas 60 tahun adalah usia pensiun.


Diagram Gunung Es
“Gunung es (bahasa Inggris: iceberg) adalah suatu bongkahan besar es air tawar yang telah terpecah dari gletser atau ice shelf dan mengambang di perairan terbuka. Karena densitas es (920 kg/m3) lebih rendah dari air laut (1025 kg/m3), umumnya, sekitar 90% volume gunung es berada di bawah permukaan laut, dan bentuk bagian tersebut sulit diperkirakan hanya berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Hal ini memunculkan suatu istilah puncak gunung es (tip of the iceberg) yang biasanya diterapkan pada suatu masalah atau kesulitan untuk menggambarkan bahwa masalah yang tampak hanyalah sebagian kecil dari masalah yang lebih besar. Karena kepadatan es murni adalah sekitar 920 kg/m3 dan bahwa air laut sekitar 1.025 kg/m3, biasanya hanya sepersepuluh dari volume gunung es berada di atas air. Bentuk bagian bawah sulit untuk menilai dengan melihat bagian atas permukaan. Hal ini telah menyebabkan ekspresi “puncak gunung es”, untuk masalah kesulitan yang hanya manifestasi kecil dari masalah yang lebih besar”, (id.m.wikipedia.org).

Dari uraian diatas, pada diagram psychologics fenomena Gunung es dan peta konsep anak bangsa sudah sangat jelas dan bagus. Yang terbagi menjadi dua level yaitu:
1) Organization Level (tingkat organisasi), adalah hard facts (fakta nyata) sebanyak 10%, yaitu: Logical-rational (logis-rasional), Conscious adalah sadar, Material adalah bahan, External adalah luar diri manusia, Facts adalah fakta, Expertise adalah keahlian
2) Culture level (tingkat kebudayan), adalah soft facts (fakta tidak nyata) sebanyak 90%, yaitu: Emotional adalah emosi, Unconscious adalah bawah sadar, Immaterial adalah tidak penting, Internal adalah dalam diri manusia, Emotions adalah emosi, Social skill adalah keterampilan social.
Tiap individu dapat digambarkan sebagai sebuah Gunung es dengan permasalahan yang tampak dipermukaan maupun yang tidak tampak (tenggelam didalam air). Jika dikaitkan dengan penulisan tentang penerapan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam menumbuhkan motivasi instrinsik melalui perlombaan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021, perkembangan individu pada aspek intrinsik (internal) sebanyak 90%. Pada gunung es, ‘fakta’ terletak di atas permukaan laut, sehingga semua orang akan bisa melihatnya, sedangkan ‘intrinsik’ yang terletak di bawah permukaan laut sangat sulit diperkirakan, karena itu membutuhkan upaya untuk memunculkannya.

Eskalator Kinerja Otak
Masing-masing bagian otak manusia memiliki tanggung jawab dalam proses berfikir, mempunyai spesialisasi kemampuan-kemampuan tertentu, meski tetap ada persilangan kemampuan antar kedua belahan otak kanan-kiri. Menurut teori, otak kanan bertanggung jawab secara acak, intuitif, holistik, menyatukan dan pemikiran subyektif, sedangkan otak kiri berperan untuk berfikir logika, sekuensial, rasional, analitis, dan obyektif, yang diuraikan sebagai berikut: (1) Otak Kiri berfungsi sebagai; Mengontrol tubuh bagian Kiri, Keterampilan angka-angka, Matematika/ketrampilan ilmiah, Menganalisa, Obyektifitas, Menulis, Berbicara, Logika, Pertimbangan. (2) Otak Kanan berfungsi sebagai; Mengontrol tubuh bagian kanan, Bentuk 3 dimensi, Musik dan selera seni, Penyatuan, Subjektivitas, Imajinasi, Intuisi, Kreatifitas, Emosi.

Seseorang mungkin lebih cenderung menggunakan otak kiri, dan yang lain mungkin lebih cenderung menggunakan otak kanan didasarkan pada bagaimana mereka menggunakan otak kanan dan otak kiri untuk memecahkan masalah.

Peran Kepala Sekolah

Kepala Sekolah dan Guru merupakan barisan paling depan yang bertanggung jawab tentang mutu pendidikan pada setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu seseorang kepala sekolah dan guru harus memahami dan mengusai kemampuan-kemampuan yang dimiliki dan dikuasai sebelum  atau disaat sedang memangku jabatannya, agar tanggung-jawab dari masing-masing dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kemampuan seorang Guru dan Kepala Sekolah disebut dengan kompetensi, yang melekat pada dirinya disaat memangku jabatan, dan sekaligus kompetensi merupakan acuan keberhasilan kinerjanya.

Kompetensi-kompetensi tersebut adalah sebagai berikut: Kompetensi Guru: (1) Kompetensi Paedagogik, (2) Kompetensi Kepribadian, (3) Kompetensi Sosial, dan (4) Kompetensi Profesional, Sedangkan seorang Kepala Sekolah selain harus memahami dan menguasai kompetensi seorang Guru juga memiliki kompetensi sebagai berikut:  (1) Kompetensi Kepribadian, (2) Kompetensi Managerial, (3) Kompetensi Superfisi, (4) Kompetensi Sosial, dan (5) Kompetensi Kewirausahaan.

Deskripsi Aksi Nyata

Menurut Dr. H. Khamim, M.Pd (Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Dikdasmen-Kemendikbud), standar nasional pendidikan (SNP) per rombongan belajar adalah 28 anak. Ditegaskan pula dalam Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 yang menjelaskan bahwa pemerintah dengan tegas menyatakan bahwa sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah dilarang menambah jumlah rombongan belajar, jika melebihi dari kuota yang ditetapkan, maka sekolah diharapkan membuat bangunan kelas baru guna memenuhi standar tersebut.

Sekolah Dasar 3 Saraswati Denpasar, yang merupakan sekolah swasta bisa saja tidak mengikuti batasan tersebut. Dengan jumlah siswa yang melebihi dari standar tersebut, yakni antara 38-40 murid dalam tiap kelas, memang memunculkan masalah yang sangat kompleks, begitu pula dengan murid kelas 6 D yang siswanya berjumlah adalah 40 orang.

Jika guru telah menyadari tentang perbedaan perkembangan berbagai karakteristik individual dalam aspek-aspek yang terdapat pada setiap diri individu itu sendiri, yakni: 1) perbedaan karakteristik individual aspek fisik, 2) perbedaan karakteristik individual aspek intelektual, 3) perbedaan karakteristik individual aspek emosi, 4) perbedaan karakteristik individual aspek sosial, 5) perbedaan karakteristik individual aspek bahasa, 6) perbedaan karakteristik individual aspek bakat, 7) perbedaan karakteristik individual aspek nilai, moral, dan sikap, (Ali dan Asrori, 2006: 2-7). Namun seringkali dikelas 6 D, implementasi perbedaan perkembangan karakteristik murid kurang disadari, akibatnya persaingan yang menjurus pada bullying kemampuan tidak dapat dihindari, yang merujuk kepada tumbuhnya perbedaan yang menjolok sehingga timbul krisis kurang percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Dari ketujuh perbedaan karakteristik individu yang terbentuk secara alami, melalui cara-cara yang bervariasi, sehingga menghasilkan perubahan yang bervariasi pula, keterlibatan peran Kepala Sekolah, Guru, dan Orang Tua perlu ditingkatkan, guna mendapatkan solusi bagi anak yang mengalami krisis kurang percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter anak di usia dini, kementrian yang dipimpin oleh Nadiem Makarim akan memaksimalkan pendidikan karakter dengan porsi 70% dibandingkan dengan pengetahuan umum. Pernyataan tersebut merupakan solusi atas jawaban mengenai kecenderungan proses pendidikan yang lebih menekankan pada hasil belajar yang bersifat kognitif, kurangnya proses belajar yang mengarah pada pengembangan karakter, nilai, dan moral, serta pengaplikasian kurikulum yang relatif sama dengan pendekatan yang cenderung berpusat pada guru.

Kegiatan perlombaan dapat menumbuhkan rasa percaya diri (confident) siswa di tengah perbedaan kemampuan antar siswa yang terjadi di kelas. Berikut ini beberapa pendapat orang tua dan rekan sejawat guru mengenai kegiatan perlombaan yang diikuti anak-anak di antaranya:

Bentuk-bentuk kegiatan yang digunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, diantaranya: (1) Kegiatan intern sekolah, yaitu: Jeda semester, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada event ini sekolah biasanya mengadakan lomba Baca Puisi, Menulis Indah, Menggambar, Mewarnai, Merangkai Bunga, kegiatan olah raga Tradisional, Memasak, Lomba Kebersihan Kelas, Membaca Cepat dan lain sebagainya. (2) Kegiatan ekstern sekolah, yaitu: Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni), pada event ini lomba yang diadakan meliputi: Olah Raga, Menari, Musik Tradisional, Macapat, Menyalin Aksara Latin ke Aksara Bali, Mesatua/Mendongeng, Menyanyi Solo, Baca Puisi. Lomba Siswa Berprestasi, Lomba Sains, dan Lomba Matematika.

Dengan demikian perbedaan kemampuan siswa dalam prestasi, baik akademik maupun non-akademik, yang telah diakomodasi memberikan pandangan baru bahwa perbedaan kemampuan bukan seharusnya memunculkan krisis percaya diri melainkan perbedaan kemampuan ini memberi warna baru dalam meraih prestasi sebagai wujud merdeka belajar, yang pada akhirnya menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam menerima perbedaan dan keragaman di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Hasil Aksi Nyata

            Sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan dan pengajaran bagi guru untuk mentransformasikan ilmu kepada peserta didik, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak. Ruang belajar, peralatan, dan sarana pendukung lainnya yang ada di sekolah bersangkutan juga memegang peranan penting untuk menumbuhkan keberhasilan belajar siswa.

Tempat memadai untuk melaksanakan kegiatan pelatihan memberi rasa nyaman kepada anak-anak untuk berproses mengembangkan dirinya. Peralatan yang dibutuhkan dalam pelatihan juga tersedia dengan baik, misalnya; Sound System, LED, Proyektor, Tape Recorder, properti, dan lain-lain akan mempercepat proses pencapaian prestasi.

Kegiatan lomba sebagai ajang menggali potensi, baik yang dilaksanakan tingkat sekolah maupun tingkat nasional memberikan dampak positif bagi anak-anak yakni, mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan menghargai keberagaman di tengah perbedaan kemampuan yang dimiliki. Sebagian anak yang terlibat dalam kegiatan lomba bahkan sampai mendapat juara sangat memberi pengaruh besar terhadap dirinya. Hasilnya siswa lebih percaya diri, dikenal, dan dielu-elukan oleh teman-temannya, karena keberhasilan yang telah dicapai sebagai cambuk menumbuhkan kepercayaan walaupun berada di tengah perbedaan kemampuan yang dimiliki.

Keberhasilan dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Proses kegiatan pendidikan dan pengajaran mengharapkan adanya perubahan berdasarka perkembangan peserta didik. Perubahan-perubahan ini mengarah kepada tumbuhnya kepercayaan diri siswa di tengah perbedaan kemampuan yang dimiliki. Menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai kodratnya.

Guru hanya berperan menuntun bakat dan minat peserta didik agar mereka tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kepercayaan diri. Kemampuan diri siswa harus dihormati dan dihargai agar mereka merasa nyaman belajar di kelas ataupun di luar kelas, sebagai bentuk kepedulian guru terhadap siswa hingga tercipta suasana merdeka belajar yang menyenangkan. Setiap kegiatan yang dilaksanakan tidak terlepas dari keberhasilan dan kegagalan, termasuk aksi nyata ini. 

Ada beberapa hal penting menjadi catatan sebagai bentuk keberhasilan dan kegagalan. Adapun aksi nyata ini dinilai sebagai keberhasilan adalah: [1] Tumbuhnya kepercayaan diri siswa di tengah perbedaan kemampuan yang dimiliki, [2] Menciptakan suasana nyaman di kelas ataupun di luar kelas dengan keberagaman yang ada, [3] Kelas mempunyai variasi belajar yang beragam dan menyenangkan, [4] Terangkatnya nama sekolah karena prestasi yang diraih siswa.

Sedangkan penilaian yang dianggap sebagai kegagalan yakni: [1] Keadaan siswa yang tidak stabil saat melakukan latihan [2] Konsentrasi terpecah karena memikirkan kegiatan lain, [3] Stamina anak-anak menurun saat pelaksanaan lomba, [4] Dukungan pihak terkait yang dianggap kurang.

Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Perbaikan terus dilakukan untuk meningkatkan hasil pencapaian. Prestasi yang diraih tidak membuat terlena, justru keberhasilan itu dijadikan cambuk untuk meraih prestasi yang lebih tinggi. Peningkatan konsistensi latihan terus diupayakan agar menjadi kebiasaan rutin dalam memaksimalkan pencapaian hasil.

Kebebasan anak dalam pelaksanaan pembelajaran dan pelatihan terus diupayakan, agar mereka dapat berkembang sesuai dengan kodratnya tanpa mengesampingkan esensi jiwa anak-anak yang memiliki bakat dan minat sejak lahir. Penyediaan sarana dan prasarana terus dioptimalkan untuk memperlancar proses pendidikan dan pelatihan.

Peningkatan mutu guru dan kerja sama antara pihak terkait juga terus diupayakan agar benar-benar dapat memfasilitasi siswa dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.  Siswa pembelajar adalah aset bangsa yang harus diperhatikan perkembangannya dengan menerapkan pendidikan yang mumpuni, sehingga ia lahir sebagai penerus bangsa yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, memiliki kebinekaan global, rasa gotong-royong yang tinggi, kreatif, inovatif, memiliki kemandirian, serta bernalar kritis sebagai upaya melahirkan Profil Pelajar Pancasila.

Dokumentasi Proses Aksi Nyata

Ada beberapa dokumen proses aksi nyata yang telah dilakukan melalui pembelajaran untuk menggali potensi siswa dalam perbedaan kemampuan yang dimiliki diantarannya:

Simpulan

Ketika sekolah tak lagi menakutkan dengan berbagai aturan yang mengikatnya, anak bisa merasa nyaman dan aman di sekolahnya maka murid menjadi manusia yang merdeka dengan tetap memelihara ketertiban dan dan kedamaian di tengah masyarakat. Pelajar dengan karakter beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, bergotong royong, dan kreatif dapat terwujud.

Ki Hadjar Dewantara berupaya membangun dan menyelenggarakan pendidikan untuk manusia di Indonesia dengan konsep, landasan, semboyan dan metode yang menampilkan kekhasan kultural Indonesia.

Saran

Sehubungan dengan laporan yang telah diuraikan di atas, maka saran/masukan untuk penyempurnaan pada langkah-langkah proses belajar mengajar selanjutnya, khususnya di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar adalah sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai dan Peran guru penggerak dalam memajukan pendidikan nasional perlu diterapkan dengan aksi nyata.
  2. Tanggung jawab pendidikan bukan hanya ada pada guru, sekolah dan pemerintah, maka peran orang tua sangat dirasakan sebagai bagian dalam meningkatkan prestasi belajar, yang diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
  3. Kapasitas anak dalam sebuah kelas yang gemuk tentunya memerlukan perhatian yang sangat khusus, karena berkaitan dengan beban kerja guru dalam mengajar dan mutu pengajaran di kelas.

Daftar Pustaka

Aditya Dharma. 2020. Modul 1.2: Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Ali, Mohammad Prof., Dr., dan Asrori, Mohammad Prof., Dr. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara

Danim, Sudarwan. 2007.  Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara.

Dimyati., Dr. dan Mudjiono., Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Ducha, Marrisa Nurul. 2016. Konsep Pendidikan Ki hadjar Dewantara Sebagai Penguatan Manajemen Mutu Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

Inkuiri Apresiatif Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

Artikel ini merupakan rangkaian aksi nyata calon guru penggerak tentang inkuiri apresiatif berorientasi Bagja. Artikel ini berjudul IMPLEMENTASI INKUIRI APRESIATIF BERORIENTASI BAGJA DALAM MENINGKATKAN CRITICAL THINKING SISWA KELAS IV SDN 19 PEMECUTAN

Mengapa inkuiri apresiatif?

Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang dikembangkan hendaknya dapat mencetak generasi muda yang mampu menghadapi tantangan perubahan zaman. Dantes (2014: 28) menjelaskan bahwa selain berperan sebagai penerima nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan, generasi muda  merupakan penemu dan pengembang kebudayaan yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Pemindahan kebudayaan tersebut tidak dapat terjadi secara otomatis melainkan melalui proses pendidikan.

Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya. Kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Sejarah peradaban umat manusia menunjukkan bahwa bangsa yang maju tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak.

Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia. Keberliterasian dalam konteks ini bukan hanya masalah bagaimana suatu bangsa bebas dari buta aksara, melainkan juga yang lebih penting, bagaimana warga bangsa memiliki kecakapan hidup agar mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan dunia.

Dengan kata lain, bangsa dengan budaya literasi tinggi menunjukkan kemampuan bangsa tersebut dalam berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif sehingga dapat memenangkan persaingan global. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah, sampai dengan masyarakat.

Pada saat ini, dunia pendidikan sedang diuji oleh masa pandemi Covid 19. Peserta didik yang pada awalnya belajar secara tatap muka di sekolah, semenjak wabah Covid 19 berjuang beradaptasi dengan pola pembelajaran jarak jauh. Namun di saat yang bersamaan, ada beberapa peristiwa yang terjadi dan berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa.

Saat sebagian masyarakat menahan diri untuk menjaga jarak karena masa pandemi, beberapa oknum justru berkumpul untuk melakukan demonstrasi anarkis. Beberapa kelompok tersebut mudah terpancing hoaks yang semestinya tidak perlu terjadi jika mereka melek informasi dan memiliki nalar berpikir kritis.

Hal ini membuat penulis ingin membelajarkan siswa agar memiliki nalar berpikir kritis sesuai dengan profil pelajar pancasila sehingga di masa mendatang generasi ini tumbuh menjadi pemuda pemudi yang literat dan berpartisipasi aktif mensukseskan pembangunan.

Aksi Nyata Inkuiri Apresiatif Bagja

Aksi nyata ini disusun berdasarkan Inquiry Apresiatif berorientasi BAGJA. Aksi nyata ini menggali kekuatan pada siswa yang sebagian besar sudah memiliki sikap percaya diri dalam berargumen dan kekuatan positif pada orang tua siswa yang selalu berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Aksi nyata ini dieksekusi dengan meliputi beberapa langkah sebagai berikut.

  1. Berkoordinasi dengan kepala sekolah dan orang tua tentang kegiatan yang akan dilakukan.
  2. Memberikan tantangan kepada orang tua agar menjadi partner anak dalam kegiatan diskusi.
  3. Menanamkan budaya literat dan profil pelajar Pancasila “berpikir kritis” melalui sebuah permasalahan dengan contoh kasus yang topiknya terkait dengan disintegrasi bangsa.
  4. Siswa mengidentifikasi permasalahan tersebut dan berlatih merumuskan permasalahan.
  5. Siswa menentukan solusi melalui latihan mengemukakan pendapat/ beragumen.
  6. Siswa melakukan deduksi permasalahan (mensintesa)
  7. Siswa melakukan induksi permasalahan (menganalisis)
  8. Siswa melakukan evaluasi
  9. Siswa memutuskan dan melaksanakan keputusan yang telah dibuat.
  10. Guru menjalin kerjasama dengan pihak Hilo untuk membelajarkan siswa.

Hasil dari Aksi Nyata

  1. Siswa dapat menumbuhkan kebiasaan membaca.
  2. Dalam belajar, siswa merdeka dalam mengemukakan ide/gagasan/pendapatnya pada rekan sejawatnya.
  3. Dapat melatih nalar berpikir kritis dalam menganalisis fakta suatu informasi berkaitan dengan gambar peristiwa disintegrasi bangsa.
  4. Peserta didik berkolaborasi dalam kelompok yang heterogen sehingga secara tidak langsung belajar menghargai teman yang berbeda agama maupun suku.

Pembelajaran yang didapat

KEBERHASILAN
Peserta didik terbiasa membaca dan menganalisis kebenaran sebuah informasi untuk meningkatkan critical thinking.
KEGAGALAN
Adanya keterbatasan ruang dan waktu dalam berkolaborasi antara peserta didik karena sedang masa pandemi.

Rencana Perbaikan Aksi Nyata

Jika peserta didik sudah belajar dengan sistem tatap muka, maka penulis berencana melakukan pentas budaya yang melibatkan peserta didik. Peserta didik mengenakan pakaian adat dari daerah asal masing-masing dan menyaksikan pertunjukan pentas budaya. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan dengan susunan acara sebagai berikut:

  1. Masing-masing agama diwakili oleh satu orang siswa dan memimpin doa secara bergantian menurut kepercayaan masing-masing.
  2. Setiap daerah diwakili satu orang siswa/ kelompok untuk mementaskan tarian/ lagu daerah.
  3. Setelah pertunjukan selesai, siswa berpartisipasi dalam bazar yang menjual makanan khas daerah. Penjual makanannya melibatkan siswa. Pembelinya adalah siswa, guru, kepala sekolah, peguyuban orang tua, tokoh masyarakat, dan dinas yang diundang di sekolah.
  4. Dalam kegiatan bazar juga melibatkan dunia usaha sebagai sponsor kegiatan.

Dokumentasi kegiatan

Guru berkoordinasi dengan orang tua siswa dan mengirimkan tugas melalui whatsapp.
Guru berkoordinasi dengan Hilo
Siswa berlatih mengkomunikasikan idenya secara tertulis.
Siswa membuat poster keberagaman.

Penulis:
Ni Putu Amrita Widiasih, S.Pd
CGP Kota Denpasar

Mulai dari kelas: Upaya Merajut Perubahan Pendidikan

Mengapa guru harus bergerak?

Seseorang dikatakan belajar jika ia mampu memahami apa yang dipelajarinya dan mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang menjadi poin penting dalam proses belajar  mengajar di sekolah. Dengan melalui sistem pendidikan yang ada menjadikan peran guru menjadi sangatlah penting dalam menjalankan tugasnya  sebagai pendidik di lingkungan sekolah.

Kemampuan guru untuk   membuat perubahan-perubahan yang positif guna  mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik dapat terrealisasi jika secara pribadi  sebagai seorang guru  khususnya guru penggerak bisa dapat memahami akan nilai diri dan perannya sebagai guru penggerak dalam mengimplementasikan  pembelajaran yang berpusat pada murid.

Apapun cara yang dilakukan dalam proses belajar mengajar , bak itu secara tatap muka ataupun  dengan tanpa tatap muka ( belajar secara daring melalui ZOOM ) belajar tetap berproses. Penanaman nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dapat dilakukan secara terencana. Sehingga anak menjadi sosok yang mandiri mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Pada kondisi seperti saat ini kita semua mengetahui bahwa sejak adanya pandemi COVID-19 benar-benar membuka mata, pikiran dan telinga kita ternyata dengan system pendidikan seperti sekarang ini semakin jelas menunjukkan kepada kita bahwa peran orang tua s dalam proses pendidikan itu nyata dibutuhkan.

Oleh karena itu  dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk mengembangkan nilai dan peran guru penggerak melalui aksi-aksinya yang sederhana dan mudah untuk dipahami serta dilaksanakan oleh peserta didik menuju merdeka belajar.

Aksi nyata guru penggerak

Sebagai guru penggerak memiliki tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan mutu/kualitas manusia melalui proses pendidikan. Guru sebagai pemandu juga promotor untuk menggerakkan semua elemen dari ekosistem sekolah melalui aksi-aksi nyatanya. Sehingga profil pelajar Pancasila dapat diwujudkan semaksimal mungkin. Adapun dengan nilai dan peran seorang guru penggerak penulis lakukan adalah :

Pertama, Mandiri
Dalam aksinya, guru penggerak melalui akses materi mengenai trapezium usia, diagram gunung es dan escalator kerja otak akan dapat memahami nilai-nilai diri  dalam proses pertumbuhan karakter seseorang. Guru penggerak  diharapkan mampu mengantarkan anak didiknya menjadi sosok yang memiliki kemadirian sehingga ia mampu bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungan. Contoh,siswa diajak untuk mandiri melakukan hal kecil merapikan tempat tidurnya sendiri.

Kedua, Refleksi
Dengan refleksi tertulis  menggunakan template 4P yaitu Peristiwa (Facts), Perasaan (Feelings), Pembelajaran (Findings), dan Penerapan ke depan (Future). Seorang guru penggerak  berusaha untuk  menyadari semua kekurangan yang telah dilakukan dan segera mungkin untuk mengevaluasi dan melakukan tindakan revisi untuk perbaikan di kemudian hari.

Ketiga, Kolaborasi
Seorang guru penggerak harus mampu berkolaborasi dalam menggunakan strategi belajar kooperatif,. Guru juga mampu membuat suatu pemahaman mengenai motivasi intrinsik yang dapat menumbuhkan  murid merdeka belajar sehingga anak dapat menerima perbedaan dan keragaman  ditengah-tengah lingkungan masyarakat. Ini bertujuan agar tetap terbina persatuan dan kesatuan  secara bersama sama melalui kelompok kolaborasi. Misalnya jika ada masalah tentang tugas anak di googleclassroom sesama wali kelas 6 berdiskusi.

Keempat, Inovatif
Inovatif sangat diperlukan  dalam proses belajar agar siswa tidak merasa monoton dan ujung-ujungnya siswa menjadi bosan/jenuh. Dalam hal ini guru penggerak harus dapat memberikan sentuhan baru dalam setiap proses belajar dan mengajar. Oleh karena itu saya harus berinovasi melakukan kegiatan yang membuat diri saya lebih mengerti cara mengajar dengan pembelajaran daring menggunakan  teknologi yang ada agar pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan yang saya lakukan adalah sebagai berikut.

a. Mengikuti diklat dan seminar yang relevan

b. Di sekolah, disiapkan tenaga IT yang khusus mengajari guru-guru jika ada kendala saat mengajar menggunakan smart board.

Kelima, Berpihak kepada siswa.
Sebagai guru penggerak berperan aktif untuk memberikan kebebasan pada anak didik untuk mengembangkan potensi diri  sesuai kodratnya. Contoh yang bisa dilakukan oleh guru agar pembelajaran lebih menyenangkan adalah mengajak anak belajar sambal bermain.

a. Bermain kartu domino yang berisi dengan konsep pecahan.

b. Belajar dengan menggunakan alat peraga langsung.

Melalui nilai dan peran guru penggerak di atas diharapkan hasil dari proses belajar mengajar itu, anak memiliki sikap positif sesuai profil pelajar Pancasila. Selain itu, anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Penutup

Berhasil dan tidaknya proses belajar mengajar di sekolah ditentukan oleh sosok guru sebagai instruktur pembelajaran. Karena itu kesiapan seorang guru penggerak dapat dijadikan ukuran secara tidak langsung untuk melihat hasil dari proses belajar mengajar.

Berikanlah ruang pada anak didik untuk menemukan kemerdekaan belajar dapat belajar dengan nyaman, hati yang gembira dan tanpa adanya tekanan dari pihak manapun, baik dari guru maupun orang tua. Anak diharapkan selalu kreatif serta berinovasi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Penulis:
Misrini
CGP Kota Denpasar