Tata Cara PPDB SMP Kota Denpasar

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jenjang SMP tahun pelajaran 2021/2022 di Kota Denpasar segera dimulai. PPDB merupakan kegiatan tahunan untuk menyediakan ruang bagi calon peserta didik baru mengenyam pendidikan di sekolah formal. Di Kota Denpasar, pelaksanaan PPDB untuk SMP dibagi menjadi empat jalur/kategori.

Pertama, jalur prestasi. Jalur prestasi ini meliputi prestasi akademik, nonakademik Utsawa Dharma Gita/Lomba Bulan Bahasa Bali, Kategori nonakademik Olahraga, Kategori nonakademik Seni, dan Kategori nonakademik Pesta Kesenian Bali

Kedua, jalur zonasi.  Jalur ini diberikan bagi siswa yang ingin memilih sekolah sesuai dengan wilayah tenpat tinggal calon peserta didik. Bergaitan dengan zona, sudah ditentukan nama wilayah dan sekolah. Calon peserta didik hanya boleh mendaftar pada 1 Sekolah Menengah Pertama Negeri dari 14 Sekolah Menengah Pertama Negeri yang ada di Kota Denpasar sesuai Zona yang ditetapkan pada Juknis PPDB Tahun 2021

Ketiga, jalur afirmasi. Jalur Afirmasi diperuntukkan bagi Calon Peserta Didik Baru dari keluarga kurang mampu. Pembagian Zonasi tertera pada Juknis PPDB Tahun 2021

Keempat, jalur perpindahan orang tua. Jalur ini khusus bagi orang tua/wali yang mengalami perpindahan tempat kerja.

Juknis dilihat di sini

Adapun jadwal Pendaftaran, Verifikasi dan Pengumuman Pelaksanaan PPDB disajikan sebagai berikut.

Seluruh rangkaian kegiatan PPDB dilakukan secara online oleh calon peserta didik baru. Adapun tata cara pendaftaran, dapat disimak pada tayangan berikut.

Peringatan Hari Lahir Pancasila

Setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari Lahir Pancasila. Pada tahun 2021, hari Lahir Pancasila diperingati dengan kegiatan pemasangan spanduk dan pengibaran Bendera Merah Putih. Berdasarkan Radiogram Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 019.1/3204/SJ, tanggal 28 Mei 2021, Hal Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni Tahun 2021.

Bentuk Peringatan

Di Kota Denpasar, bentuk peringatan diwujudkan dengan beberapa kegiatan sebagai berikut.

  1. Mengibarkan Bendera Merah Putih 1 (satu) tiang penuh pada hari Selasa, tanggal 1 Juni 2021 mulai pukul 06.00 wita
  2. Memasang spanduk dengan tema “PANCASILA DALAM TINDAKAN BERSATU UNTUK INDONESIA TANGGUNG” (file dapat diunduh disini)

Sejarah Hari Lahir Pancasila

Pada tanggal 1 Juni 1945, Presiden Ir. Soekarno melalui pidatonya mengungkapkan konsep awal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pidato tersebut disampaikan pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai

Lembaga BPUPKI dibentuk berawal dari kekalahan Jepang pada perang fasifik. Untuk mendapatkan perhatian, maka Jepang membentuk lembaga yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan yaitu Dokuritsu Junbi Cosakai atau dikenal dengan BPUPKI. BPUPKI melakukan sidang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 dengan bahasan tema dasar negara di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila)

Sidang telah berlangsung sekitar lima hari, kemudian di tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengajukan gagasan terkait dasar negara yang dikenal dengan Pancasila. Ketika itu, beliau menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yaitu Sila pertama “Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga “Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kemudian, untuk menyempuranakan rumusan dibentuklah panitia sembilan. Hingga akhirnya, pada tanggal 18 Agustus 1945 dilaksanakan sidang PPKI yang isinya mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara.

Informasi PPDB Kota Denpasar Tahun 2021

Pengantar

Tahun pelajaran 2020/2021 sebentar lagi usai dan segera berganti dengan tahun pelajaran 2021/2022. Setiap tahun pelajaran baru, maka dilaksanakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) baik dri tingkat TK hingga sekolah menengah.

Penerimaan peserta didik baru di satuan pendidikan perlu diatur dalam peraturan tertentu. Peraturan yang ada erlu dijabarkan melalui petunjuk teknis (Juknis) agar memudahkan orang tua, guru, pihak terkait, calon siswa untuk melakukan pendaftaran pada satuan pendidikan yang ingin dilamar.

Di Kota Denpasar, Juknis Penerimaan Peserta Didik Baru telah dituangkan dalam KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA KOTA DENPASAR NOMOR 422/2207/DIKPORA/2021 TENTANG
PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA TAMAN KANAK-KANAK, SEKOLAH DASAR, DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI TAHUN PELAJARAN 2021/2022.

Persyaratan

Persyaratan Umum Pendaftaran Taman Kanak-Kanak
Berusia paling rendah 4 tahun dan paling tinggi 5 tahun untuk kelompok A;
Berusia paling rendah 5 tahun dan paling tinggi 6 tahun untuk kelompok B;
Memiliki Kartu Keluarga Kota Denpasar yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar yang diterbitkan paling singkat 1 Juni 2020;
Status Calon Peserta Didik Baru dalam Kartu Keluarga adalah sebagai Anak (Kandung, Tiri atau Angkat) serta Cucu; dan
Untuk Calon Peserta Didik Baru Yatim/Piatu/Yatim Piatu wajib melampirkan Akta Kematian Orang Tua

Persyaratan Umum Pendaftaran Sekolah Dasar
Berusia paling rendah 6 tahun pada tanggal 1 Juli 2021;
Memiliki Kartu Keluarga Kota Denpasar yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar yang diterbitkan paling singkat 1 Juni 2020;
Status Calon Peserta Didik Baru dalam Kartu Keluarga adalah sebagai Anak (Kandung, Tiri atau Angkat) dan Cucu;
Untuk Calon Peserta Didik Baru Yatim/Piatu/Yatim Piatu wajib melampirkan Akta Kematian Orang Tua;
Membuat Surat Pernyataan hanya mendaftar di satu Sekolar Dasar sesuai yang tertera pada Lampiran VIII; dan
Membuat Surat Pernyataan keabsahan dokumen Calon Peserta Didik Baru sesuai yang tertera pada Lampiran VIII

Persyaratan Umum Pendaftaran Sekolah Menengah Pertama
Berusia paling tinggi 15 tahun pada tanggal 1 Juli 2021 sesuai data Kartu Keluarga; dan
Membuat Surat Pernyataan keabsahan dokumen Calon Peserta Didik Baru sesuai yang tertera pada Lampiran VIII.

Informasi lebih lengkap terkait persyaratan, tata cara pendaftaran, penerimaan, zona sekolah dapat dibaca selengkapnya pada juknis berikut ya!
Juknis (download di sini)

Motivasi Menjadi Guru Penggerak

Pengantar

Program guru penggerak merupakan implementasi dari program Merdeka Belajar Kemdikbud. Hingga April 2020 ini, seleksi calon guru penggerak sudah memasuki angkatan ke-4. Seleksi setiap anggkatan tersebar sesuai dengan pemetaan wilayah yang sudah dilakukan. Minat guru mengikuti seleksi guru penggerak sangat tinggi. Kira-kira, apa yang menjadi motivasi guru untuk mengikuti seleksi calon guru penggerak?

Baca juga: Program Pendidikan Guru Penggerak

Motivasi

Berdasarkan KBBI, motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Selai itu, dari segi psikologi, motivasi juga disebut sebagai usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Berdasarkan asalnya, motivasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

  1. Pertama, Motivasi bawah sadar. Motivasi ini merupakan dorongan untuk bertindak yang pada hakikatnya terselubung bagi yang bersangkutan, tetapi dapat ditelusuri melalui perilakunya;
  2. Kedua, Motivasi ekstrinsik yaitu dorongan yang datangnya dari luar diri seseorang;
  3. Ketika, Motivasi intrinsik yaitu dorongan atau keinginan yang tidak perlu disertai perangsang dari luar;

Motivasi Menjadi Guru Penggerak

  1. Menggali potensi diri untuk dapat berbagi praktik baik dalam ekosistem terdekat, yaitu sekolah;
  2. Mengembangkan kemampuan dalam melakukan kepemimpinan dalam pembelajaran;
  3. Menjadi bagian perubahan pendidikan ke arah lebih baik;
  4. Meningkatkan kualitas diri sehingga dapat menjadi pribadi maupun guru yang bermanfaat bagi lingkungan terdekat;
  5. Memperoleh wahana untuk belajar berkaitan dengan memerdekakan pembelajaran;
  6. Mengetahui berbagai kekuatan maupun kelemahan yang terjadi di lapangan; dan
  7. Pengembangan diri dan memperoleh pengalaman baru berkaitan dengan kegiatan guru penggerak.

Demikian beberapa hal yang dapat dijadikan motivasi menjadi guru penggerak. Simak juga tayangan video berikut yang bisa dijadikan referensi mengikuti seleksi calon guru penggerak dari 2 guru yang sudah berhasil lolos CGP.

Contoh RPP Berdiferensiasi

Pengantar

Sebagai guru, tentu kita menyadari bahwa keberadaan siswa kita di kelas sangatlah beragam. Beragam tidak hanya dari segi fisik, melainkan kemapuan intelektual yang sudah dibawanya sejak lahir. Kita menyadari bahwa anak-anak di kelas memiliki keunikan tersendiri. Setiap siswa kita memiliki karakteristik yang membedakan dirinya dengan siswa lainnya. Karakteristik ini dapat menujukkan keunggulan (potensi) dan kelemahan yang dimiliki dalam pembelajaran di kelas.

Tidak dimungkiri bahwa potensi maupun kelemahan anak ini perlu diidentifikasi secara tepat oleh guru untuk dilakukan pembelajaran yang tepat pula. Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang tentu saja tujuannya adalah  untuk memastikan setiap murid di kelas mereka sukses dalam proses  pembelajarannya.

Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Dilihat dari kata penyusun, pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari dua kata yaitu pembelajaran dan diferensiasi. Berdasarankan KBBI versi daring, pembelajaran memiliki arti proses, cara, perbuatan menjadikan belajar. Sedangkan, berdiferensiasi memiliki arti proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan. Lantas, apa itu pembelajaran berdiferensiasi?

Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk  menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun, apakah jika siswa berjumlah 28 orang, maka guru harus menyiapkan 28 model pembelajaran? Bukan pula  berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat  bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti  guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang  dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap  anak.

Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang  semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa  perencanaan pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari ke sana kemari  untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru  tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari  untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan  semua permasalahan. Lalu seperti apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi? 

Ciri Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common  sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan: 

  1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’  murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang  tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan  selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. 
  2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara  jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran,  namun juga muridnya. 
  3. Penilaian berkelanjutan. Ini memiliki makna terkait upaya guru menggunakan proses penilaian formatif yang telah  dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan,  atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar  yang ditetapkan. 
  4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar  muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk  memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan  serta penilaian yang berbeda.
  5. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur,  rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga  struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang  berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Jenis-jenis Diferensiasi dalam Pembelajaran

Diferensiasi dalam pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
Pertama, Diferensiasi Konten. Diferensiasi konten merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.
Kedua, Diferensiasi Produk. Merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.
Ketiga, Diferensiasi Proses. Merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.

Contoh RPP Berdiferensiasi

Berikut ini dilampirkan contoh RPP Berdiferensiasi. (disini)

Semoga bermanfaat.

Sumber Modul: https://erinstitute.id/2020/10/28/modul-pendidikan-guru-penggerak/

Mengelola Komunikasi Secara Efektif dan Terstruktur

Pengantar

Berawal dari betapa ketatnya persaingan di sekarang ini era yang dikenal dengan distruption era, di mana zaman yang penuh dengan guncangan. Segala lini kehidupan mengalami perubahan yang sangat cepat. Hal ini menuntut setiap orang untuk selalu mengisi diri dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan agar bisa mengikuti perkembangan zaman tersebut. Tidak heran banyak pekerjaan yang menggunakan otot manusia kini sirna digantikan dengan pekerjaan yang membutuhkan skill yang lebih. Salah satu skill yang perlu dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi di depan umum yang dikenal dengan istilah public speaking.

Public Speaking

Public speaking merupakan kegiatan berkomunikasi di depan umum untuk menyampaikan ide, gagasan atau informasi tertentu guna untuk menarik simpati . Tentunya keterampilan ini tidak serta merta didapatkan begitu saja, perlu sebuah komitmen dalam diri bahwa ketrampilan ini sangat penting untuk dikuasai. Karena kemunculan berbagai hal yang baru sangat cepat, baik berupa ide, gagasan atau produck baik barang maupun jasa yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dalam pendistribusian ide, gagasan maupun barang dan jasa tersebut.

Keterampilan Public Speaking hanya didapatkan dengan kerja keras dan tekun berlatih, rajin menggali dan memanfaatkan setiap peluang untuk mengembangkan diri dalam berkomunikasi.

Public speaking tidak hanya berbicara saja tetapi ada faktor penting dibalik setiap kata dan kalimat yang kita ucapkan yaitu ada nilai rasa. Nilai rasa ini akan tercipta jika kita memiliki keterampilan berbicara yang efektif dan terstruktur. Mulai dari vocal, intonasi, gerak tubuh dan yang lainya menjadi satu kesatuan pendukung public speaking.

Oleh karena itu pelatihan dan workshop public speaking dengan tema “Mengelola Komunikasi Secara Efektif dan Terstruktur” ini bertujuan melatih keterampilan berkomunikasi

Tanya Jawab seputar Workshop

  1. Siapa saja yang dapat mengikuti kegiatan ini?
    Kegiatan ini ditujuan untuk Bapak/Ibu Pendidik (guru dan kepala sekolah) yang ingin meningkatkan keterampilan berkomunikasi secara efektif dan efesien
  2. Bagaimana cara mengikuti kegiatan ini?
    Untuk mengikuti kegiatan silakan mendaftar melalui tautan berikut ini https://s.id/gurubicara kemudian silakan gabung pada group telegram yang sdah dibagikan saat pendaftaran.
  3. Sampai kapan pendaftaran dapat dilakukan?
    15 april – 25 April 2021. Pendaftaran dapat ditutup sewaktu-waktu jika sudah memenuhi kuota.
  4. Apakah kegiatan ini berbayar?
    Iya. Investasi kegiatan sebesar Rp.50.000
  5. Kemana uang investasi kegiatan dikirimkan/transfuer?
    Uang investasi kegiatan di transfer ke rekening atas nama Ni Wayan Wiryawati dengan pilihan Bank Mandiri 1450013535139 atau BPD Bali 0340202170080. Setelah itu, konfirmasi bukti transfer ke nomor WA 082145911915 (NI WAYAN WIRYAWATI)
  6. Selama kapan kegiatan workshop berlangsung?
    Kegiatan berlangsung selama 4 hari yaitu 28 April – 1 Mei 2021.
  7. Bagaimana model kegiatannya?
    Kegiatan dilakukan secara virtual melalui zoom. Peserta akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan pelatihan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Info lebih lanjut akan diberikan melalui group telegram.
  8. Apakah mendapatkan piagam/sertifikat?
    Iya. Peserta yang emmenuhi kewajiban seperti tugas akan mendapatkan e-sertifikat sebesar 32 JP, surat undangan, dan materi kegiatan.

Demikian tadi informasi terkait kegiatan workshop public speaking. Ayo ikuti untuk menambah wawasan dan melatih keterampilan berkomunikasi….

Pendidikan, Transformasi Peradaban Masa Depan

Pendidikan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan peradaban manusia. Peradaban lahir sejalan dengan perkembangan pendidikan. Seperti kita ketahui, bahwa pada dasarnya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Sebagai sebuah sistem, pendidikan tidak dapat berdiri sendiri. Pendidikan merupakan kedauan fungsi dari guru, siswa, pemangku kepentingan, pemerintah, dan juga lingkungan.

Mengutip dari konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara, bahwasanya pendidik (guru) itu menuntun anak menumbuhkembangkan bakat yang dibawanya. Anak berkembang sesuai kodratnya, baik kodrat lahir maupun kodrat keadaan. Begitulah sebenarnya pendidikan yang bergerak secara dinamis.

Transformasi pendidikan saat ini sangat terasa, terlebih lagi didukung oleh situasi pandemi. Transformasi pembelajaran bersemuka menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) semakin gencar terjadi. Sebagai sebuah proses yang berkesinambungan, tentunya peningkatan kompetensi guru menjadi hal penting yang perlu dilakukan.

Mengingat pentingnya peningkatan kompetensi ini, Er Institute menyelenggarakan webinar series dengan tema “Pendidikan, Transformasi Peradaban Masa Depan” yang dilaksanakan secara maraton sesuai jadwal berikut.

Tanya Jawab Seputar Webinar Series

  1. Siapa saja yang boleh mengikuti kegiatan?
    Kegiatan dapat diikuti oleh setiap orang baik dari guru, orang tua, masyarkat maupun kalangan yang berkaitan dengan pendidikan
  2. Bagaimana cara mengikuti kegiatan webinar series ini?
    Caranya dengan menyaksikan tayangan melalui live youtube s.id/ervproject.
  3. Kapan kegiatan ini dilaksanakan?
    Kegiatan dilaksanaan secara maraton mulai tanggal 17 April -27 April 2021 pada pukul 19.00 wita
  4. Fasilitas apa saja yang diperoleh?
    Fasilitas yang diperoleh yaitu matari, dan sertifikat. Sertifikat terdiri dari 2 jenis, yaitu sertifikat series dan sertifikat 32 JP.
  5. Apa itu sertifikat series dan sertifikat 32 JP?
    Sertifikat series adalah sertifikat yang diberikat setiap mengikuti series sesuai dengan daftar nama peserta yang mengikuti tayangan setelah mengisi daftar hadir.
    Sertifikat 32 JP adalah sertifikat yang diberikan kepada peserta yang mengikuti semua series
  6. Bagaimana cara memperoleh piagam 32 JP?
    Caranya adalah ikuti semua kegiatan setiap series dan simpan bukti kegiatan berupa screenshoot kehadiran. Tata cara selengkapnya akan disampaikan saat kegiatan berlangsung
  7. Bagaimana cara mengajukan pertanyaan terkait dengan materi yang disampaikan?
    Tata cara mengajukan pertanyaan akan disampaikan saat webinar series berlangsung
  8. Apakah kegiatan ini berbayar?
    Tidak. Peserta hanya cukup menyebarluaskan pada beberapa group media sosial (facebook, telegram, WA, dan lainnya), kemudian melakukan like, subscribe, nyalakan lonceng dan menonton video pada channel s.id/ervproject untuk memperoleh notifikasi kegiatan

Demikian informasi terkait webinar series. Mari kita ikuti untuk menambah khasanah pengetahuan demi kemajuan pendidikan yang lebih baik.

Materi dapat diunduh di link berikut:
Webinar series topik 1
Webinar series topik 2
Webinar series topik 3
Webinar series topik 4
Webinar series topik 5
Webinar series topik 6
Webinar series topik 7

Surat Undangan di sini
Saksikan tayangan ulang di bawah ini ya

Workshop Jabatan Fungsional dan Angka Kredit Guru

Pengantar

Setiap tahun, kepala sekolah wajib melaksanakan penilaian kinerja guru (PKG). Nilai yang diperoleh dari PKG ini menjadi salah satu syarat bagi guru untuk bisa naik pangkat/golongan. Nilai atau kriteria minimal yang harus dicapai adalah berada pada katagori baik. Kemudian, setelah ini diperoleh, apa yang harus dilakukan guru agar dapat naik pangkat/jabatan fungsional?

Terkait dengan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, ini tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009. Point penting terkait peraturan ini adalah Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Berkaitan dengan aspek penilaian dalam pengajuan angka kredit, terdapat unsur utama dan unsur penunjang yang perlu diperhatikan. Salah satu unsur utama dalam kenaikan pangkat dan pengembangan karirnya selain kegiatan pembelajaran/ pembimbingan dan tugas tambahan lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah yang diberikan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru.

Harapannya melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan guna mendukung PPGP akan terwujud guru yang profesional yang bukan hanya sekedar memiliki ilmu pengetahuan yang kuat, tuntas dan tidak setengah-setengah, tetapi tidak kalah pentingnya juga memiliki kepribadian yang matang, kuat dan seimbang.

Guna meningkatkan pemahaman kepala sekolah dan guru berkaitan dengan pengusulan angka kredit, maka Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar menyelenggarakan “Workshop Jabatan Fungsional dan Angka Kredit Guru”.

Tanya jawab seputar Workshop

Adapun beberapa hal yang menjadi rangkuman pertanyaan tentang pelaksanaan workshop, dapat disajikan sebagai berikut.

  1. Di manakah kegiatan ini dilaksanakan?
    Kegiatan dilaksanakan secara virtual melalui zoom
  2. Bagaimana cara mengikuti kegiatan ini?
    Silakan melakukan registrasi dengan alamat pendaftaran s.id/workshopdenbar
  3. Selama berapa hari kegiatan ini berlangsung?
    Kegiatan virtual zoom hanya dilakukan satu hari, yaitu Sabtu, 10 April 2021
  4. Kapan link Meeting (ID dan Passcode) zoom akan diberikan kepada peserta?
    Link akan dibagikan melalui email yang didaftarkan saat pendaftaran. Link paling lambat diberikan pada hari Sabtu, 10 April 2021 pukul 08.00 wita
  5. Siapakah yang bisa mengikuti kegiatan ini?
    Kegiatan ini diutamakan diikuti oleh kepala sekolah dan guru yang ada di lingkungan Kecamatan Denpasar Barat
  6. Apakah kepala sekolah atau guru di luar point 4 boleh mengikuti kegiatan?
    Boleh. Silakan melakukan registrasi dengan alamat pendaftaran s.id/workshopdenbar
  7. Kapan terakhir hari pendaftaran?
    Pendaftaran terakhir Hari Jumat, 9 April 2021 pukul 23.59 wita. Pendaftaran dapat ditutup sewaktu-waktu apabila sudah memenuhi kuota yang telah ditetapkan.
  8. Apakah kegiatan ini berbayar?
    Tidak. Hanya yang ingin memperoleh sertifikat dikenakan biaya sebesar Rp.50.000
  9. Apakah peserta di zoom yang dapat mengajukan pertanyaan
    Iya. Moderator akan memandu kegiatan. Silakan dicermati tata cara mengajukan pertanyaan yang akan disampaikan pada saat kegiatan berlangsung.
  10. Apakah seluruh peserta mendapatkan sertifikat?
    Tidak. Peserta yang mendapatkan sertifikat cetak (32 JP) hanya peserta yang memerlukan, menyelesaikan tugas, dan dikenakan biaya sebesar Rp.50.000
  11. Bagi yang memerlukan sertifikat (32 JP), bagaimana pembayaran dilakukan?
    Biaya cetak sertifikat dibayarkan secara tunai saat pengambilan sertifikat. Sertifikat akan diberikan mulai tanggal 28 April-30 April 2021 pukul 09.00 wita -11.00 wita. Pengambilan sertifikat di sekretariat panitia kegiatan yaitu SD Negeri 19 Dauh Puri, Jalan Teuku Umar, Denpasar
  12. Apakah boleh mengikuti kegiatan walau tidak perlu sertifikat?
    Boleh.

Kumpulan materi workshop

Berikut dilampirkan paparan materi berkaitan dengan pengembangan keprofesian berkelanjutan, jabatan fungsional dan angka kredit guru.

Pengembangan-Profesi-Guru-Jabatan-Fungsional-dan-Angka-Kreditnya

Pengembangan-Keprofesian-Berkelanjutan-dan-Jenis-jenisnya

Download materi 1 disini

Download materi 2 disini

Surat Undangan dapat di unduh di sini

Mengingat pentingnya kegiatan ini, mari kita ikuti. Kegiatan ini dapat memberi pengetahuan kepada kepala sekolah maupun guru untuk mengembangkan profesionalisme. Dengan mengetahui jabatan fungsional dan angka kredit, kita akan bisa menentukan hal-hal yang diperlukan. Sehingga, ke depan tidak lagi ada kepala sekolah dan guru yang ketinggalan atau tidak paham cara menyusun daftar usul penilaian angka kredit (DUPAK). Semoga!

Cara Menyusun Sasaran Kerja Pegawai Guru

Menyusun SKP (Sasaran Kerja Pegawai) menjadi sebuah keharusan bagi pegawai (PNS) untuk mengetahui sasaran kinerja yang dicapai. Khususnya guru, kegiatan menyusun SKP ini tak jarang merupakan hal yang sulit. Bagaimana tidak? Belakangan ini, banyak ditemui, guru harus bolak-balik hanya untuk memperbaiki SKP.

Entah siapa yang benar atau siapa yang salah, namun kejadian ini cukup menyita waktu. Baik yang memeriksa, maupun yang membuat SKP. Topik yang menjadi permasalahan seperti kenapa harus 12 bulan, lalu unsur kepemimpinan apakah perlu dinilai, dan lain sebagainya.

Banyaknya pengulangan karena revisi (coretan) mengisyaratkan bahwa SKP ini merupakan “sesuatu” yang susah dibuat. Sudah saatnya, baik pihak guru maupun pihak terkait per-SKP-an memahami secara tepat bagaimana membuat dan melakukan penilaian prestasi kerja bagi guru.

Apa itu penilaian prestasi kerja?

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil, penilaian prestasi kerja didefinisikan sebagai suatu proses penilaian secara sistematis yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja. Proses penilaian ini dilakukan dengan tolok ukur yang obyektif terhadap tingkat capaian sasaran kerja dan perilaku kerja pegawai oleh atasannya (pejabat penilai).

Penekanan Penilaian Prestasi Kerja adalah penilaian capaian sasaran kerja pegawai (SKP) yang pada dasarnya telah disusun dan disepakati bersama antara guru, kepala sekolah, dan guru diberi tugas tambahan dengan atasan langsungnya (pejabat penilai) serta penilaian perilaku keseharian dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya.

Dengan demikian, penilaian prestasi kerja meliputi penilaian terhadap dua aspek yaitu SKP dan perilaku kerja. Oleh karena itu, ketercapaian SKP dan perilaku kerja mempengaruhi prestasi kerja guru, kepala sekolah, dan guru diberi tugas tambahan.

Sebagai proses evaluasi terhadap kinerja dan perilaku kerja, penilaian prestasi kerja dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan untuk menjamin obyektivitas pembinaan profesi yang dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan karier. Secara administratif, sekolah dapat menjadikan penilaian prestasi kerja sebagai acuan atau standar dalam membuat keputusan pemberian tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah kepada guru.

Hasil penilaian prestasi kerja juga dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat perencanaan kegiatan yang bermanfaat untuk pengembangan karier, penetapan indeks pemberian tunjangan selain gaji, promosi jabatan dan lain lain terkait dengan pembinaan profesinya.

Bagi sekolah, hasil penilaian prestasi kerja sangat penting dalam rangka pembinaan dan pengembangan karier, antara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan program pengembangan keprofesian berkelanjutan, promosi, dan berbagai aspek lain dari keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia secara efektif dan efisien.

Oleh karena itu, hasil penilaian prestasi kerja dapat menunjukkan apakah guru, kepala sekolah, dan guru diberi tugas tambahan sudah memenuhi target atau sasaran yang telah direncanakan baik secara kualitas, kuantitas, waktu, dan/atau biaya serta menunjukkan perilaku kerja dalam pelaksanaan tugasnya.

Unsur Penilaian Kerja Pegawai

Lingkup penilaian prestasi kerja mencakup dua unsur, yaitu: Sasaran Kerja Pegawai dan Perilaku Kerja.
a. Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dengan bobot nilai 60% (enam puluh persen).
Penilaian terhadap SKP yaitu penilaian yang dilaksanakan terhadap seluruh tugas jabatan dan target yang harus dicapai selama kurun waktu pelaksanaan pekerjaan dalam tahun yang berjalan. Penilaian tersebut didasarkan kepada ukuran tingkat capaian SKP yang dinilai dari aspek: kuantitas, kualitas, waktu dan/atau biaya.


Target SKP guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi tugas tambahan sebagai pejabat fungsional tertentu, adalah angka kredit yang harus dicapai untuk tahun yang berjalan yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi tugas tambahan.

Mengingat kenaikan jabatan/pangkat didasarkan pada perolehan angka kredit, maka harus ditetapkan target angka kredit yang akan dicapai dalam 1 (satu) tahun di dalam SKP-nya. Penentuan angka kredit tersebut mengacu kepada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.


b. Perilaku Kerja dengan bobot nilai 40% (empat puluh persen).
Penilaian perilaku kerja yaitu penilaian terhadap perilaku kerja guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi tugas tambahan dalam melaksanakan tugasnya di sekolah/madrasah. Penilaian perilaku kerja meliputi aspek: orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin dan kerjasama. Unsur perilaku kerja yang dinilai harus relevan dan berhubungan dengan pelaksanaan tugasnya. Sehingga nilai prestasi kerja mencakup dua unsur yaitu Sasaran Kerja Pegawai dengan bobot nilai 60% (enam puluh persen) dan Perilaku Kerja dengan bobot nilai 40% (empat puluh persen)

Contoh Penyusunan SKP

“Sajian contoh ini termuat pada PEDOMAN
PENILAIAN PRESTASI KERJA GURU, KEPALA SEKOLAH, DAN GURU YANG DIBERI TUGAS TAMBAHAN yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014″

Achmad Peristiwa S.Pd. dengan NIP.198012252007011019, guru Matematika pada SMAN 1 di Kota Bunga. Yang bersangkutan mengajar sejak tahun 2007 dan saat ini pangkat yang bersangkutan adalah Penata Muda Tk.I, golongan ruang III/b dengan jabatan Guru Pertama.


Untuk kenaikan pangkatnya ke golongan ruang III/c, Achmad Peristiwa, S.Pd harus mengumpulkan 50 angka kredit selama selama 4 tahun atau 12,5 angka kredit dalam satu tahun yang terdiri dari minimum 11,25 AK untuk unsur utama dan maksimum 1,25 AK untuk unsur penunjang.

AK PKB wajib yang harus dipenuhi adalah sekurang-kurangnya 3 pada kegiatan pengembangan diri dan sekurang-kurangnya 4 untuk kegiatan Publikasi Ilmiah dan/atau Karya Inovatif yang dikumpulkan dalam 4 tahun. Pengembangan diri tahunannya adalah sekurang-kurangnya 0,75 AK dan Publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif tahunannya adalah sekurang-kurangnya 1 (satu) AK.


Pada Januari 2014, target AK yang dituangkan dalam SKP untuk pelaksanaan pembelajaran diasumsikan nilai PK Guru mendapat sebutan “BAIK”. Dalam penyusunan SKP yang bersangkutan pada Januari 2014 kegiatan tugas jabatan yang dilaksanakan dan angka kreditnya adalah sebagai berikut.

Kegiatan Tugas Jabatan:
a. Unsur Utama (minimum angka kredit untuk 1 tahun = 11,25)
Minimum AK unsur utama = AK Kumulatif – AK Penunjang = 12,5 AK – 1,25 = 11,25 AK
1) Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai hasil pembelajaran, melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian sebagai guru kelas;
AK pembelajaran = AK Kumulatif – AK Pengembangan Diri – AK Publikasi Ilmiah dan/atau Karya Inovatif = 11,25 – 0,75 – 1 = 9,5 AK
2) Menjadi wali kelas: AK = 5% x 9,5 = 0,48 AK
3) Melaksanakan kegiatan PKB guru yang meliputi:
a) mengikuti diklat kurikulum selama 60 jam = 1 AK;
b) mengikuti kegiatan kolektif guru dengan 4 paket kegiatan terkait dengan peningkatan kemampuan dalam penyusunan perangkat pembelajaran: AK = 4 paket x 0,15 = 0,6;
c) membuat 1 karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolahnya, diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah ilmiah tingkat kabupaten/kota dengan tema “penerapan project based learning dalam memahami konsep menentukan peluang di kelas XI” = 1 AK;
d) menciptakan 1 alat peraga dengan kategori kompleks untuk materi pembelajaran matematika dengan tema “fungsi trigonometri” = 2 AK.

b. Unsur Penunjang (maksimum 1,25 AK)
Maksimum angka kredit = 10% x AK unsur utama = 1,25 AK
1) menjadi tutor/pelatih/instruktur dalam Kurikulum 2013 selama 10 JP (2 JP = 0,04 AK) Angka Kredit = (10 JP/2) x 0,04 AK = 0,2 AK;
2) menjadi pengawas ujian sekolah = 0,08 AK.

Penilaian Perilaku Kerja Guru


Penilaian perilaku kerja dilakukan melalui pengamatan oleh pejabat penilai terhadap guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi tugas tambahan yang dinilai. Penilaian perilaku kerja dapat mempertimbangkan masukan dari Pejabat Penilai lain yang setingkat di lingkungan unit kerja masing-masing.

Penilaian perilaku kerja meliputi aspek orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, dan kerja sama. Penilaian aspek kepemimpinan hanya diperuntukkan bagi kepala sekolah, akan tetapi mengingat kepala sekolah sudah dinilai unsur kepemimpinannya dalam penilaian kinerja kepala sekolah, maka dalam penilaian perilaku kerja kepala sekolah, unsur kepemimpinan tidak perlu dinilai.
Nilai perilaku kerja PNS dinyatakan dengan angka dan sebutannya, yaitu:
(1) 91 – 100 = Sangat Baik
(2) 76 – 90 = Baik
(3) 6I – 75 = Cukup
(4) 51 – 60 = Kurang; dan
(5) 50 ke bawah = Buruk.
Di dalam penilaian perilaku kerja, menggunakan kriteria-kriteria penilaian unsur perilaku kerja sebagaimana dituangkan dalam PerKa BKN Nomor 1 tahun 2013.

Selengkapnya, Pedoman SKP download di sini

Sumber:
PEDOMAN PENILAIAN PRESTASI KERJA GURU, KEPALA SEKOLAH, DAN GURU YANG DIBERI TUGAS TAMBAHAN yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014

Integrasi dan Kolaborasi: Upaya Mencegah Kekerasan Berbasis Gender di Sekolah

Kekerasan berbasis gender di Indonesia mengalami peningkatan hingga tahun 2019. Sebagian besar menunjukkan kekerasan ini terjadi di lingkungan pendidikan, yaitu 174 kasus di kampus dan 123 kasus kekerasan seksual di sekolah. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar. Mengapa justru ini bisa terjadi? Pertanyaan ini diajukan kepada segenap insan pendidikan di sekolah. Saatnya kita merefleksi diri, sudahkah mengambil peran preventif?

Kekerasan berbasis gender ditandai dengan adanya paksaan. Artinya, ada yang memaksa dan ada yang dipaksa. Kekerasan berbasis gender ini dibedakan menjadi dua, yaitu secara fisik maupun psikis. Apapun alasannya, perilaku yang mengarah pada kekerasan tidak boleh terjadi. Perlu dilakukan pencegahan ditingkat satuan pendidikan terkecil, yaitu kelas.

Integrasi dan Kolaborasi

Sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah, guru memiliki peran penting. Sebagai guru di sekolah dasar, saya melakukan beberapa kegiatan berikut. Pertama,  guru dalam kemerdekaannya mengajar dapat melakukan integrasi ke dalam berbagai muatan pelajaran.  Pada muatan pelajaran PKn misalnya, edukasi kesamaan gender diwujudkan dalam praktik pemilihan ketua kelas. Siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan diri maupun mengajukan temannya untuk menjadi ketua kelas.

Partisipasi dari siswa laki-laki dan perempuan dibuat berimbang. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak untuk menjadi pemimpin kelas. Pemberian pemahaman ini secara tidak langsung meyakinkan anak bahwa mereka memiliki hak maupun kewajiban yang sama, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati.

Pada muatan IPA, khususnya pada materi Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia, guru dapat menekankan pentingnya menjaga diri. Baik siswa laki maupun perempuan diberikan pemahaman tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap lawan jenis.

Kedua, membuat kesepakatan. Kesepakatan yang dimaksud berkaitan dengan tata tertib berperilaku. Bentuk pelanggaran dan sanksi menjadi hal penting untuk disepakati bersama. Kesepakatan ini harus muncul dari siswa dan guru. Meskipun berbasis pada kelas masing-masing, diharapkan kesepakatan ini dapat menjadi upaya preventif terjadinya pelanggaran.

Di sekolah, guru tidak sepenuhnya bisa mengontrol setiap tindakan siswa. Tak jarang misalnya, siswa laki-laki meminta makanan ke pada siswa perempuan. Biasanya ini terjadi ketika jam istirahat. Jika terjadi dalam kondisi paksaan, maka pemberlakuan sanksi harus diterapkan. Memang tidak serta merta dalam bentuk hukuman fisik, sanksi dapat diberikan sesuai tingkatan pelanggaran. Mulai dari teguran, pemberian tugas tambahan, maupun temu dengan orang tua.

Ketiga, pelibatan orang tua. Orang tua adalah guru pertama dan utama anak. Apa yang mereka alami di rumah bisa saja terbawa hingga sekolah. Menghormati individu tanpa melihat gender bisa dibangun sejak dini. Misalnya, orang tua tidak membedakan tugas antara anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan wajib mencuci, sementara anak laki-laki tidak boleh memasak.

Dalam keluarga, orang tua adalah role model bagi anak. Orangtua pun demikian, hendaknya dapat berbagi tanggungjawab antara ayah maupun ibu.  Interaksi positif di keluarga dapat membangun rasa simpati maupun empati. Orang tua berperan dalam memberikan pendidikan pekerti kepada anak

Guru tidak bisa berjalan sendiri dalam mengedukasi, perlu dibangun kolaborasi dengan orangtua. Integrasi dan kolaborasi ini diharapkan menjadi efektif sebagai upaya preventif terjadinya kekerasan gender. Ayo, bersama kita bisa!

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #AksiNyataKita, #LawanKekerasanBerbasisGender, #BantuKorbanKekerasan