Napak Tilas Sekolah yang Kurindukan

Sekolah ibarat sebuah taman tempat bermainnya anak-anak. Di tempat inilah benih keceriaan, kebaikan, dan keberagaman bersemai dengan indah dan semarak. Tempat setiap anak menggali nilai-nilai kebaikan untuk menajamkan cipta, rasa, dan karsanya hingga terbentuk kehalusan budi dan kedamaian.

Menciptakan sebuah sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi anak adalah impian setiap guru dan seluruh ekosistem sekolah. Untuk mewujudkan impian tersebut, seluruh pemangku kepentingan harus bergandengan tangan bersinergi dan berkolaborasi menemukan inovasi yang memang betul-betul berorientasi kepada siswa.

Salah satu aksi yang penulis lakukan untuk mewujudkan rasa nyaman, rasa rindu, dan perasaan saling memiliki di sekolah adalah menggandeng seluruh ekosistem sekolah untuk terlibat dalam kegiatan napak tilas “Sekolah yang Kurindukan”. Dalam kegiatan napak tilas, siswa diajak membuka pintu sekolahnya, melihat apa yang ada di dalam sekolah, mengenang kembali cerita indah mereka di sekolah bersama orang-orang terkasih.

Kolaborasi napak tilas ini bertujuan agar siswa merefleksikan kembali kenangan-kenangan indah yang pernah mereka lalui di sekolah. Selain itu, napak tilas akan mengantarkan siswa untuk berpikir kritis tentang hal yang harus dibenahi dari sekolahnya, serta menjelaskan harapan sekolah impian mereka.

Perjalanan napak tilas yang melibatkan guru dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah juga bertujuan untuk menggabungkan seluruh kekuatan-kekuatan positif yang ada di lingkungan sekolah, sehingga mampu memacu motivasi intrinsik atau kekuatan dalam diri anak untuk terus berjuang dan belajar di tengah pandemi. Kegiatan aksi nyata ini  berfokus pada paradigma Inkuiri Apresiatif dan dirancang dengan menggunakan tahapan BAGJA.

Napak Tilas

Perencanaan napak tilas dengan tahap BAGJA melibatkan kekuatan-kekuatan positif yang ada dalam ekosistem sekolah. Perencanaan tersebut kemudian diwujudkan dalam video pembelajaran napak tilas. Video ini yang mengantarkan siswa untuk mengunjungi sekolahnya secara virtual.

Durasi video selama 9 menit menggambarkan keadaan SD Saraswati 3 Denpasar di masa pandemi. Mereka diajak menyaksikan rindangnya kebun sekolah, melihat betapa sunyinya lapangan tanpa kehadiran mereka, kondisi ruang kelas dan beberapa ruangan lainnya. Kepala sekolah, para guru, satpam, tukang kebun juga hadir memberikan kesan dan pesan untuk anak-anak yang sedang berjuang belajar di rumah.

Video napak tilas kemudian diunggah ke akun Instagram kelas ruang merdeka belajar. Seluruh siswa kelas VIC yang berjumlah 47 anak diberikan kesempatan menyaksikan tayangan tersebut. Mereka kemudian diminta untuk menceritakan kenangan indah yang pernah dilalui bersama di tempat itu. Siswa juga bisa mengungkapkan sosok yang dirindukan di sekolah, menemukan perbedaan sekolah mereka di masa sebelum dan sesudah pandemi, serta impian dan harapan yang ingin mereka wujudkan untuk sekolahnya.

Ungkapan siswa

Pada kegiatan ini, siswa diberikan kebebasan menuangkan isi hatinya melalui kolom komentar yang ada pada akun Instagram. Siswa juga diberikan kebebasan untuk menanggapi komentar teman-teman mereka dengan bahasa yang santun. Hal ini membawa dampak baik terhadap karakter siswa agar lebih arif dan bijak menggunakan social media.

Di samping itu, siswa juga diharapkan memiliki kebiasaan baik dalam bermedia social, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita hoax dan menjadi teladan teman-temannya dalam mengampanyekan pesan kebaikan di media social.

Kegiatan napak tilas melalui Instagram ternyata mendapat respon positif dari seluruh siswa. Mereka berlomba-lomba meninggalkan komentar positif, membagikan cerita penuh kenangan indah, dan menuliskan harapan kepada sekolahnya. Kegiatan ini seakan mengantarkan mereka berkeliling sekolah setelah hampir setahun tempat ini tidak mereka kunjungi.

Sekolah impian

Menariknya, di akhir kegiatan pembelajaran ini, siswa diminta secara merdeka mengungkapkan sekolah impian mereka. Sekolah impian bisa dibuat dalam bentuk gambar yang mendeskripsikan harapan anak kepada sekolahnya. Kemudian, setiap anak diminta untuk mempresentasikan gambaran sekolah impiannya.

Karya imajinatif mengenai sekolah impian anak-anak sungguh beragam. Ada yang ingin sekolahnya lebih rindang, ada yang punya impian agar toilet sekolahnya bersih. Adapula yang punya impian agar sekolahnya seperti Universitas Waseda Jepang, tempat belajarnya Jerome Polin seorang youtuber terkenal, dan masih banyak impian anak-anak lainnya.

Segala sesuatu yang telah direncanakan tentu dalam pengimplementasiannya tidak selalu berjalan dengan lancar. Ada keberhasilan, ada hambatan, bahkan kegagalan. Ketiga hal tersebut merupakan pengalaman yang dapat menyempurnakan pembelajaran agar lebih bermakna.

Berkolaborasi dengan seluruh komponen kepentingan di sekolah bukan hal yang mudah untuk penulis realisasikan. Perlu waktu dan kesempatan yang tepat untuk mendapatkan moment ini karena kami tidak selalu berada pada jadwal piket yang sama. Adapun rencana perbaikan ke depan adalah mengajak siswa secara berkelompok melakukan napak tilas di sekitaran sekolah, sehingga mereka dapat merasakan perasaan saling memiliki, saling menjaga, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan sekolah secara langsung.

Penulis:
Ida Ayu Putu Ekayuni

CGP Kota Denpasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *