Cara Meningkatkan Kedisiplinan Siswa

Artikel ini merupakan aksi nyata calon guru penggerak untuk meningkatkan kedisiplinan siswa. Upaya yang dilakukan adalah dengan menumbuhkan budaya postif. Seperti apa upaya yang sudah dilakukan, berikut sajian lengkap artikel dengan judul “Penerapan Budaya Positif Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021

Mengapa budaya positif?

Setiap sekolah yang ingin memperbaiki kinerjanya, juga harus memperhitungkan dan mengidentifikasi aneka budaya yang ada, disamping posisi sekolah dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan pemahaman budaya sekolah yang ada, baik budaya positif yang mendukung, maupun budaya negatif yang menghambat.

Ini akan dijadikan tolak ukur dalam upaya mengembangkan budaya sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar tersebut. Oleh karena itu kualitas pendidikan bersifat dinamik yaitu berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat, ilmu pengetahuanan dan teknologi, jadi segala wujud dari perkembangan tersebut, sekolah dituntut selalu melakukan perubahan-perubahan dalam aksi nyata.

Sekolah memiliki sejumlah budaya, keyakinan dan nilai-nilai yang disepakati secara luas, ada satu budaya dominan dengan budaya lainnya, ada sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu.

Kenyataannya, ada yang telah membuat kesepakatan namun dalam aplikasinya belum terlaksana dengan baik, sehingga keadaan ini tidak menguntungkan. Jika nilai-nilai yang telah disepakati tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan upaya sekolah untuk membangun sekolah yang bermutu.

Budaya sekolah juga dipengaruhi oleh budaya daerah dimana murid tersebut dilahirkan, tinggal menetap dan berkembang yang pada akhirnya budaya-budaya yang sudah menjadi kebiasaan akan dibawa oleh anak-anak ke bangku sekolah.

Dalam kegiatan persekolahan sehari-hari, murid di kelas VI D SD 3 Saraswati Denpasar misalnya, tentu dipengaruhi oleh budaya daerah Bali yang mungkin saja ada yang kontra dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan, karena itu kesepakatan yang telah dibuat harus mewakili berbagai macam variasi budaya yang sesuai dengan keanekaragamana budaya.

Pengembangan budaya positif menentukan keberhasilan usaha peningkatan pendidikan yang bermutu/berkualitas, karena itu berbagai upaya peningkatan mutu/kualitas pendidikan di semua jenjang, telah diupayakan oleh pemerintah pusat/daerah, satuan pendidikan dan masyarakat, yang dilakukan secara berkelanjutan.

Budaya positif sekolah tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama, jika budaya positif tersebut sudah membudaya, maka nilai-nilai dari karakter yang diharapkan terbentuk pada diri anak (murid).

Sedangkan disiplin positif adalah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, hormat serta kritis, yang menggerakkan perubahan baru (positif) bagi seluruh komponen sekolah ke arah masa depan.

Usaha peningkatan kualitas pendidikan tersebut, selalu menuntut semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, staf administrasi, orang tua siswa, pengawas sekolah, dan masyarakat) agar memiliki kesadaran serta berkeinginan untuk selalu berubah ke arah perbaikan.

Pemikiran-pemikiran positif tentang konsep Ki Hadjar Dewantara yaitu murid yang memiliki kodrat alam dan kodrat zaman, guru menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan atau potensi yang dimiliki murid agar lakunya diperbaiki (bukan dasarnya).

Agar kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya sebagai manusia individu dan masyarakat teercapai dengan baik, harus dipahami betul oleh seorang guru. Berkolaborasi dengan pendekatan inkuiri apresiatif, tumbuh menjadi kekuatan baru sebagai aset yang berharga, untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.

Vii yang dimaksud yakni, membangun pendidikan bagi murid yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter, bertanggung jawab, kreatif dan inovatif, mampu mengembangkan sikap spititual dan sikap sosial yang tinggi, berkebhinekaan global, dalam menciptakan murid merdeka, untuk mewujudkan “Profil Pelajar Pancasila”. Hal-hal tersebut terwujud jika kerjasama antara guru dengan kepala sekolah, pegawai, murid, orang tua serta pemangku kepentingan lainnya terjalin dalam budaya yang positif.

Ada sembilan aspek budaya positif yang direkomendasikan untuk dikembangkan dalam rangka membentuk karakter murid positif, yaitu: (1) budaya membaca, (2) budaya jujur, (3) budaya bersih, (4) budaya disiplin, (5) budaya kerjasama, (6) budaya saling percaya, (7) budaya berprestasi, (8) budaya penghargaan, dan (9) budaya efisien/hemat.

Dari uraian tersebut di atas, secara intrinsik budaya-budaya tersebut dapat dimunculkan secara natural oleh murid yang memiliki dasar-dasar budaya tersebut, dan secara ekstrinsik budaya-budaya tersebut diharapkan dapat memberikan stimulus yang baik bagi murid yang tidak memiliki dasar-dasar budaya tersebut.

Selanjutnya, murid berlatih untuk menerapkannya baik di sekolah maupun di masyarakat, sehingga budaya-budaya tersebut menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif, yang dalam pelaksanaannya akan mengalir tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

Melalui penerapan budaya positif, peningkatan pengembangan mutu pendidikan, khususnya jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD), tampaknya lebih menjanjikan dibandingkan perbaikan struktural, yaitu penerbitan berbagai peraturan, reorientasi kurikulum, rekayasa sistem pembelajaran.

Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi-inovasi melalui pengembangan budaya (culture) sekolah yang baik, yang menjadi pengikat kuat kebersamaan seluruh warga sekolah. Budaya positif harus dikembangkan di SD 3 Saraswati Denpasar, agar lulusannya siap melanjutkan ke jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan menjadi warga masyarakat yang berbudaya.

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, rumusan masalah penulisan ini yaitu, Bagaimanakah penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021?

Tujuan Penulisan

Laporan aksi nyata tentang “Penerapan Budaya Positif Untuk Meningkatkan Kedisiplinan Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021” ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021.

2) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk membuat rencana perubahan diri guna mendukung penguatan lingkungan yang positif dengan penerapan budaya positif yang dimulai dari kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar.

Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi berarti, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Penerapan budaya positif yaitu: budaya membaca, budaya jujur, budaya bersih, budaya disiplin, budaya kerjasama, budaya saling percaya, budaya berprestasi, budaya penghargaan, dan budaya efisien/hemat, sehingga menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif, yang dalam pelaksanaannya akan mengalir tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

1) Bagi murid, penerapan budaya positif diharapkan bermanfaat sebagai stimulus yang baik bagi murid untuk meningkatkatkan kedisiplinan diri dalam pembentukan karakter, menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif yang secara natural akan diterapkan kapanpun, dimanapun dalam kehidupan nyata (masyarakat).

2) Bagi guru, penerapan budaya positif diharapkan bermanfaat sebagai perilaku yang memiliki konstribusi dalam peningkatan kualitas pembelajaran di kelas-kelas, yang pada akhirnya menciptakan lingkungan positif di sekolah.

3) Bagi sekolah, penerapan budaya positif diharapkan dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perubahan di lingkungan sekolah secara bertahap.

****

Pengertian Budaya Positif

Budaya positif adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan bagi warganya, mutu kehidupan warga yang diharapkan adalah warga yang sehat, dinamis, aktif, dan professional, budaya positif memberi peluang sekolah beserta warganya berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan mampu terus berkembang, budaya positif ini harus terus menerus dikembangkan dari kohor siswa ke kohor siswa berikutnya, dan dari kelompok satu ke kelompok lainnya, budaya positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan perubahan dan perbaikan.

Tujuan utama pengembangan budaya positif di sekolah adalah terciptanya masyarakat belajar, kemampuan murid meningkat karena dilakukan dengan penuh kesadaran, yang kemudian berefek pada peningkatan mutu pendidikan dan pembentukan karakter murid yang unggul, setiap individu yang menjadi bagian dari warga sekolah harus memiliki pola pikir di mana setiap individu merupakan bagian dari keseluruhan sistem persekolahan, karena kegiatan setiap unit mempengaruhi unit lainnya.

Pengertian Disiplin

Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban dengan penuh kesadaran tinggi. Ciri-ciri orang disiplin, selalu mentaati peraturan, selalu tepat waktu, disiplin positif itu membangun kekuatan murid (peserta didik).

Penguatan positif tersebut, difungsikan untuk mempromosikan perilaku yang baik dalam mewujudkan budaya positif di sekolah, daripada mengkritik kelemahan-kelemahan murid, berbagai perencanaan, pengalaman, penelitian pada dunia pendidikan, memberikan hasil bahwa penerapan budaya positif disetiap kelas menjadi hal yang baik terhadap keberhasilan dalam inovasi pendidikan.

Aksi Nyata

Budaya sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, unik dan senantiasa berproses dengan dinamika kebutuhan pengembangan budaya sekolah, yang perlu dipahami adalah budaya sekolah hanya dapat dikenali dari pencerminannya dalam berbagai hal yang dapat diamati, seperti perilaku verbal, nonverbal, dan benda hasil budaya.

(a) Perilaku verbal, adalah ungkapan-ungkapan lisan dan tertulis baik dalam bentuk kata-kata atau kalimat, baik yang dikatakan oleh kepala sekolah, guru dan tenaga pendidikan maupun oleh murid di setiap kesempatan, maupun dalam bentuk-bentuk slogan yang ditulis. Dalam kaitannya dengan perilaku verbal di SD Saraswati 3 Denpasar telah menerapkan slogan-slogan yang ditulis dan dipampang di berbagai sudut sekolah yang strategis dan mudah dibaca, antara lain: “Sekolahku Hijau Sekolahku Sehat, Jagalah Kebersihan, Kebersihan Pangkal Kesehatan, Jangan Lupa Buang Sampah Pada Tempatnya, Kebersihan Bagian Dari Iman”.

(b) Perilaku nonverbal adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan yang baik seperti sopan santun, jujur, kerjasama yang harmonis, saling menghargai, semangat untuk berprestasi, peduli terhadap lingkungan, berlaku hemat tidak boros, menjunjung tinggi gotong royong, taat pada aturan, disiplin waktu, rajin belajar, cinta tanah air, serta membela kesatuan dan persatuan bangsa, dalam kaitannya dengan perilaku nonverbal di SD Saraswati 3 Denpasar, khusunya di kelas 6 D antara guru dan murid telah membuat kesepakatan bersama yang isinya telah mencerminkan budaya positif yang diterapkan dalam kegiatan persekolahan sehari hari.

Aspek-aspek budaya positif yang dikembangkan di kelas 6 D yaitu: (1) Kami guru dan murid menginginkan kedamaian, (2) kami murid yang saling peduli, menyayangi dan mencintai, (3) kami murid yang peduli dengan tugas piket, (4) kami murid ingin kelas kompak, (5) kami murid ingin ruang kelas yang kreatif dan estetis, (6) kami murid yang semangat belajar dan guru yang humoris, (7) kami murid menyelesaikan tugas dengan baik, (8) kami murid yang menghargai waktu.

(c) Benda hasil budaya yaitu tata ruang baik berupa eksterior maupun interior kelas (sekolah), maupun sarana prasarana yang dimiliki sekolah, dalam kaitannya dengan benda hasil budaya, kesepakatan nomor 5 yaitu “kami murid ingin ruang kelas yang kreatif dan estetis” telah mencerminkan aspek benda hasil budaya, namun dalam praktek aksi nyata perlu dimonitoring apakah aspek kesepakatan kelas nomor 5 tersebut dapat diterapkan secara maksimal.

Murid sebagai bagian dari warga sekolah perlu memahami dan dapat membedakan yang mana budaya positif, negatif maupun netral, dalam kaitannya dengan visi, misi dan tujuan sekolah, aspek budaya positif contohnya: ada ambisi untuk meraih prestasi dan memperoleh penghargaan, ada semangat menegakkan sportivitas, kejujuran dan mengakui keunggulan pihak lain, ada perilaku saling menghargai perbedaan, ada rasa saling percaya dan lain sebagainya.

Aspek budaya negatif contohnya: banyak jam belajar yang kosong, banyak absen tugas, membolehkan atau mengizinkan terhadap pelanggaran nilai moral/akhlak/etika, adanya pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan, penekanan pada nilai pelajaran dan bukan kompetensi. Aspek budaya netral contohnya: jenis kelamin kepala sekolah, proporsi guru laki-laki dan perempuan, jumlah siswa wanita yang dominan.

Aspek budaya positif yang seharusnya dilakukan sekolah adalah budaya utama yang meliputi: (1) budaya jujur, (2) saling percaya, (3) kerjasama, (4) kegemaran membaca, (5) disiplin, (6) bersih, (7) berprestasi, dan (8) penghargaan, dan (9) budaya efisien. Berdasarkan kesembilan indikator tersebut, peningkatan budaya disiplin yang paling ditekankan di kelas 6D SD Saraswati 3 Denpasar, sedangkan budaya bersih dan penghargaan adalah budaya yang tidak optimal.

Hasil Aksi Nyata

Dengan adanya kesepakatan yang telah dibuat antara guru dan murid, penerapan budaya positif yang berkembang di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, menunjukkan bahwa pengembangannya dapat berjalan dengan baik, hal ini dapat diamati dari nilai-nilai dan kenyakinan dalam bentuk fisik dan perilaku murid kelas VI D.

Indikator pencapaian budaya positif tersebut, yaitu: semangat berprestasi, minat belajar murid yang relatif tinggi, interaksi antar murid dengan guru dan murid dengan murid yang harmonis, sopan santun dan ketertiban, jalinan kerjasama, pengambilan keputusan secara demokratis, suasana kelas yang nyaman dan penuh kekeluargaan, dan disiplin yang terpelihara dengan baik, diharapkan dapat memberikan konstribusi untuk pengembangan perubahan lingkungan positif pada sikap/perilaku warga Sekolah Dasar Saraswati 3 Denpasar.

Adapun sistem dari penerapan budaya positif untuk meningkatkan kedisiplinan kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, akan digambarkan sebagai berikut:

Sikap dan perilaku tersebut melalui proses yang didapatkan dengan melakukan proses interaksi pada pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan.

Keberhasilan dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Budaya sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun, budaya mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal.

Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan budaya sekolah, nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berakar akan dapat menghambat perilaku baru yang diinginkan Kultur sekolah selalu didasari oleh asumsi, nilai-nilai/keyakinan yang kemudian dimanivestasikan dalam artifak nyata yang mudah diamati dalam bentuk kondisi fisik sekolah dan perilaku warganya.

Budaya baru hanya dapat dihadirkan melalui refleksinya dalam sistem perilaku dan penataan kehidupan bersama di sekolah tersebut, penambahan budaya baru dapat dilakukan melalui pengembangan kepemimpinan yang tanggap dan positif terhadap perubahan, secara internal suatu organisasi harus solid dan stabil, tetapi secara eksternal organisasi perlu adaptif dan akomodatif pada perubahan.

Berdasarkan fenomena budaya yang berkembang di sekolah, menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat pengembangan budaya sekolah masih cukup besar, motivasi untuk maju menjadi yang terbaik, merupakan kelemahan utama yang terjadi di sekolah.

Hal ini dibuktikan oleh keberadaan strategis kepala sekolah yang memiliki motivasi berprestasi sangat tinggi akan sangat mempengaruhi budaya yang berkembang di sekolah. Selain itu kompetensi guru maupun karyawan juga mengakibatkan terhambatnya pengembangan budaya positif sekolah, namun rata rata di SD Saraswati 3 Denpasar memiliki budaya sopan santun, kebersamaan, kedamaian yang baik, hal ini dimungkinkan karena sekolah berada di Bali yang masih sangat kental dengan budayanya.

Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Dengan memahami ciri-ciri budaya positif, maka fungsi sekolah dapat dipahami, berbagai permasalahan dapat dimengerti, dan pengalaman-pengalaman dapat direfleksikan, setiap sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen warga sekolah secara internal dan eksternal, sekolah dapat dilakukan rencana tindakan nyata dalam perbaikan mutu sekolah di masa mendatang.

Berdasarkan hasil aksi nyata, pengembangan budaya positif khususnya di kelas 6 D SD Saraswati 3 Denpasar, memang perlu adanya campur tangan yang lebih pada pembentukan budaya positif tersebut agar murid secara bertahap memiliki perilaku yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran dan pembentukan pribadi yang unggul, cerdas dan bernurani.

Melalui kesepakatan tentang budaya positif, dilakukan oleh kepala sekolah secara terencana dan sistematis, merupakan tindakan yang tepat untuk membangun mutu budaya sekolah dalam jangka panjang, pengembangan yang menekankan pada model budaya positif, yang mampu menggerakkan perubahan secara mantap, memperbaiki pola pikir (mindset), motivasi dan perilaku budaya seluruh warga sekolah.

Kepala sekolah bekerjasama dengan seluruh warganya, memberikan penekanan pada pengembangan sembilan budaya positif  inti yaitu: (1) budaya jujur, (2) saling percaya, (3) kerjasama, (4) kegemaran membaca, (5) disiplin, (6) bersih, (7) berprestasi, dan (8) penghargaan, dan (9) budaya efisien.

Dokumentasi Proses Aksi Nyata

****

Simpulan

Budaya positif yang berkembang di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, menunjukkan bahwa pengembangannya masih berjalan dengan baik, hal ini dapat diamati dari nilai-nilai dan kenyakinan dalam bentuk fisik dan perilaku murid kelas VI D.

Indikator pencapaian budaya positif tersebut, yaitu: semangat berprestasi, minat belajar murid yang relatif tinggi, interaksi antar murid dengan guru dan murid dengan murid yang harmonis, sopan santun dan ketertiban, jalinan kerjasama, pengambilan keputusan secara demokratis, suasana kelas yang nyaman dan penuh kekeluargaan, dan disiplin yang terpelihara dengan baik, diharapkan dapat memberikan konstribusi untuk pengembangan perubahan lingkungan positf pada perilaku warga Sekolah Dasar Saraswati 3 Denpasar.

Saran

Pengembangan budaya sekolah sangat tergantung pada peran kepala sekolah dalam mengembangkan aspek budaya baik yang bersifat positif, negatif maupun netral, sehubungan dengan laporan yang telah diuraikan di atas, maka saran/masukan untuk penyempurnaan perbaikan kinerja lingkungan sekolah, khususnya di Saraswati 3 Denpasar adalah sebagai berikut:

Aspek budaya sosial meliputi: budaya memaafkan, menolong, memberi penghargaan, menegur, mengunjungi, memberi selamat, saling menghormati, dan mengucapkan salam dalam melakukan interaksi dengan orang lain di sekolah.

Aspek budaya akademik meliputi: monitoring kemajuan belajar, kerajinan membaca, bimbingan belajar, kebiasaan bertanya, keberanian mengemukakan pendapat, persaingan meraih prestasi, kepemilikan buku pelajaran, konsultasi dengan pembimbing, kelompok belajar, penugasan oleh guru, umpan balik dari guru, strategi belajar mengajar, penguasaan bahan dari guru, ketepatan media pembelajaran yang digunakan, maupun mutu budaya yang diharapkan, karena itu disarankan kepala sekolah wajib mengetahui budaya yang berkembang di sekolahnya, sebagai modal dasar untuk merekayasa budaya positif dalam rangka memperbaiki kinerja sekolahnya.

Daftar Pustaka

Aditya Dharma. 2020. Modul 1.4: Budaya Positif. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Ali, Mohammad Prof., Dr., dan Asrori, Mohammad Prof., Dr. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara

Dimyati, Dr. dan Mudjiono, Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Multi Pressindo.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Sanjaya, Wina.2010.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *