Menerapkan Inkuiri Apresiatif BAGJA

Artikel ini merupakan gambaran aksi nyata calon guru penggerak (CGP) dalam menerapkan inkuiri apresiatif BAGJA di sekolah dasar dengan judul “Visi Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan Merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021

Mengapa Inkuiri Apresiatif Bagja?

Menurut Undang-undang RI nomor 2 tahun 1989 bab IV Pasal 9, tentang sistem pendidikan nasional menyatakan, sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak, tempat dimana anak-anak melakukan lebih banyak aktifitasnya, yaitu belajar dan bermain, karenanya sekolah harus mampu memberikan kenyamanan dan keamanan yang diinginkan oleh semua pihak, serta harus mempunyai tujuan yang jelas yang dijabarkan dalam visi dan misi sekolah.

Di Indonesia sudah cukup banyak orang yang “pintar”, tapi sulit menemukan orang yang “benar”, yang pertama menyangkut kualitas kognitif dan yang kedua menyangkut kualitas nilai (integrasi antara potensi-potensi kognitif, afektif, psikomotor, sosial dan spiritual). Pendidikan dewasa ini sangat disibukkan dengan kegiatan dominasi kognitif, dimana para pendidik di sekolah hanya berperan sebagai pengajar (transfer of knowledge), idealnya hubungan yang harusnya terjadi antara guru dengan murid adalah setara yakni, guru adalah sahabat dan sekaligus teman bagi siswa untuk saling berbagi dan memperkaya wawasan pengetahuan.

Dalam konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, disebut metode among, yang berarti bahwa pendidikan itu bersifat mengasuh, dengan mementingkan ketertiban, namun dalam pelaksanaannya mengupayakan kesadaran bukan paksaan yang bersifat hukuman. Hal tersebut sesuai dengan visi mendasar dari pendidikan nasional adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, yang merdeka belajar dan berkualitas, sehingga guru dapat merumuskan visi yang jelas, dengan membuat ekosistem pembelajaran yang berpihak pada murid, serta diupayakan bentuk pelayanan di lingkungan sekolah sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Ditegaskan pula dalam konsep Ki Hajar Dewantara yaitu, pendidikan tidak mencabut akar budaya bangsa Indonesia yang membuat murid menjadi asing dengan realitasnya, pendidikan harus membuat eksistensinya mampu berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan mengatur dirinya sendiri. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sangat menggugah hati saya untuk melakukan aksi perubahan adalah “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

Menjalankan perubahan positif di sekolah tidaklah mudah, karena suatu perubahan perlu adanya kerjasama oleh semua pihak, dan upaya yang konsisten dari pihak sekolah dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah, untuk terus melakukan inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang sedang dihadapi pada masa kini dan datang.

Dengan adanya kenyakinan terhadap visi yang dirancang, guru terpacu melakukan usaha peningkatan kualitas diri serta menguatkan interaksi di lingkungan sekolah menjadi upaya perbaikan yang berkesinambungan guna memberikan pelayanan pembelajaran yang diperlukan murid, lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka, yang memiliki kemandirian dan motivasi instrinsik yang tinggi dengan proses pembelajaran yang efektif.

Mengelola perubahan positif di sekolah membutuhkan sebuah manajemen perubahan, pada modul kali ini, calon guru penggerak disodorkan dengan materi “paradigma inkuiri apresiatif BAGJA”, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan, inkuiri apresiatif mengutamakan psikologi positif dan pendidikan positif, dimana setiap murid memiliki inti positif yang dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perencanaan perubahan, dengan menerapkan tahapan inkuiri apresiatif (IA) yang disebut BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi).

Kurikulum merupakan seperangkat rencana yang di dalamnya terdiri dari tujuan, isi dan evaluasi, kurikulum yang digunakan di SD Saraswati 3 Denpasar adalah kurikulum 2013 (K 13) yang menekankan peran aktif siswa secara mandiri atau kelompok, serta pembentukan karakter siswa melalui pengalaman langsung sehingga dapat menambah kekuatan untuk mengeksplor kemampuannya dalam berpikir kritis, namun jika pembelajaran kurang bervariasi cenderung murid jenuh, murid yang belajar diawali dengan kejenuhan sulit menggali potensi yang dimilikinya, terlebih lagi dalam hal berpikir kritis, karena itu penggunaan K.13 belum sepenuhnya diaplikasikan dengan maksimal.

Pada dasarnya murid memiliki perkembangan dan karakteristik yang berbeda-beda, ketika guru telah menyadarinya dan mengetahui karakteristik semua murid yang diampunya, guru dapat mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan murid dalam tiap proses pembelajaran (tematik). Ketika proses pembelajaran berlangsung di kelas, berbagai stimulus diberikan agar perkembangan kognitif, afektif dan psikomotornya terkontrol.

Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas dapat direncanakan oleh guru pada saat sebelum proses pembelajaran dilaksanakan. Permasalahan yang terjadi pada saat proses pembelajaran di kelas VI D SD 3 Saraswati 3 Denpasar, yaitu; (1) pada proses pembelajaran hanya beberapa orang murid yang antusias bertanya, (2) belum semua murid dapat mengemukakan argumennya, (3) murid belum dapat memilih atau menentukan suatu tindakan sesuai dengan pembelajaran.

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah penulisan ini, yaitu: Bagaimanakah visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021?

Tujuan

Pada laporan tentang “Visi Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2020/2021” ini memiliki dua tujuan yaitu:

1.3.1 Tujuan Umum

1)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk meningkatkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya, yang terampil dan cerdas berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

2)   Secara umum laporan ini bertujuan untuk mendukung tercapainya Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran inkuiri apresiatif Bagja untuk penumbuhan murid yang merdeka.

2) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk membuat rencana perubahan diri guna mendukung penguatan visi mengelola perubahan dan lingkungan yang positif.

3) Secara khusus laporan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021.

Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan memberikan kontribusi berarti, sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Penerapan model inkuiri memberikan stimulus kepada siswa untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan proses pembelajaran, mencari dan menemukan sendiri topik dan permasalahan yang dibahas, mulai dari pemberian pertanyaan, memunculkan rasa percaya diri pada pesserta didik untuk mengemukakan pendapat, sehingga mampu mencerminkan murid yang mandiri dan kritis. 

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

1) Bagi murid, sebagai sarana untuk meningkatkan berpikir kritis, belajar mandiri dalam pembelajaran (sains), dan lain sebagainya, inkuiri apresiatif bagja adalah model pembelajaran yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi murid.

2) Bagi guru, inkuiri apresiatif (IA) Bagja dapat digunakan sebagai referensi dalam merencanakan pembelajaran Tematik, khususnya pembelajaran IPA (sains), kemudian kreatifitas guru terpacu untuk menggunakan berbagai model pembelajaran, sehingga guru termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

3) Bagi sekolah, inkuiri apresiatif (IA) yang disebut BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi) merupakan perubahan positif yang sangat dibutuhkan sekolah, karena inkuiri apresiatif mengutamakan psikologi positif dan pendidikan positif, dimana setiap murid memiliki inti positif yang dapat memberikan konstribusi pada keberhasilan sebuah organisasi dalam melakukan perencanaan perubahan secara bertahap.

4) Bagi penulis, mendeskripsikan tentang visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021, adalah hal yang sangat baru, sehingga diharapkan diperoleh informasi mengenai rencana-rencana untuk melakukan perubahan (di lingkungan sekolah).

*****

Landasan teori adalah konsep yang dapat menjawab masalah yang ditimbulkan dalam kegiatan penulisan tentang, visi inkuiri apresiatif BAGJA dalam penumbuhan merdeka belajar murid kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar tahun pelajaran 2020/2021, digunakan dasar-dasar teori yang erat hubungannya dengan permasalahan, yaitu: 1) Inkuiri Apresiatif “Bagja” (Appreciative Inquiry 5D), dan 2) Pengertian Merdeka Belajar

Inkuiri Apresiatif “Bagja” (Appreciative Inquiry 5D)

Istilah Appreciative Inquiry (AI) menjadi pembicaraan populer dewasa ini, karena sifatnya yang mendobrak paradigma lama, yaitu pemecahan masalah yang biasanya berbasis pada penyimpangan antara kondisi nyata dan kondisi sempurna menjadi lebih berbau positif, yaitu mendorong tindakan dengan berbasis pada tingkah laku yang positif (positif attitude).

Akronim dari ‘BAGJA’ (Buat pertanyaan, Ambil pembelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi), merupakan terjemahan bebas yang diadaptasi dari model 5D (define, discover, dream, design, deliver), suatu metode tentang tangga perubahan bertahap yang menyerupai gerak melingkar spiral, mulai dari tahap penetapan, pencarian/penemuan, membangun mimpi, rancangan dan implementasi/eksekusi.

Gambaran sederhana dari tahapan-tahapan Inkuiri Apresiatif Bagja tersebut dijabarkan sebagai berikut: (1) Buat pertanyaan (define) pada tahap ini melihat dan mendefinisikan suatu masalah dengan mencari solusi yang telah ada, (2) Ambil pembelajaran (discover), melihat dan mengidentifikasi suatu proses yang sudah dan sedang berjalan dengan baik, memperkuat yang bekerja, focus pada hal-hal positif yang menjadikannya hidup dan yang terbaik,

(3) Gali mimpi (dream) pada tahap ini melihat gambaran ke masa depan, dari proses tersebut dipilih mimpi/gambaran yang mungkin bekerja dengan baik di masa yang akan datang, karena keberhasilan masa lalu digunakan sebagai titik beranjak dalam menggambarkan suatu kondisi ideal yang dikehendaki terjadi di masa depan, (4) Jabarkan rencana (design) berarti merencanakan dan memprioritaskan proses-proses yang mungkin bekerja dengan baik untuk masa depan yang dirancang secara mengesankan,

(5) Atur eksekusi (deliver) implementasi dari rancangan (design) yang diajukan tersebut, diimplementasikan kedalam tindakan nyata yang merujuk pada kompetensi dan pengalaman yang pernah dilakukan. Pandangan logis menunjukkan, jika sesuatu beranjak dari ‘eksisting’ pengalaman yang dimiliki, dapat membangkitkan rasa percaya diri komunitas tersebut. Maka impian menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi (destiny).

Menurut Cooperrider (2001), inkuiri berarti untuk menyatakan sistem terbuka dalam melihat potensi dan kemungkinan baru, apresiatif berarti menyadari kehebatan orang-orang atau dunia di sekitar kita untuk menyatakan kekuatan, kesuksesan, dan potensial di masa lalu atau masa sekarang, adalah proses penguatan, yang mengalirkan kekayaan pengalaman dan keseluruhan kekuatan yang dimiliki.

Pendekatan ini tidak terfokus pada masalah yang sedang dihadapi akan tetapi pada kekuatan yang bisa dilihat dalam memecahkan masalah tersebut. Pendekatan ini melihat kapasitas masa lalu dan masa depan tentang; prestasi, asset, potensial yang belum tereksplor, inovasi, kekuatan, pikiran mendalam, kesempatan, momen-momen penting, nilai kehidupan, tradisi, kemampuan strategis, riwayat, ekspresi kebijaksanaan, dan visi dari suatu nilai dan masa depan yang mungkin terjadi.

Inti dari inkuiri apresiatif terletak pada ‘seni mengajukan pertanyaan’ yakni bagaimana melihat kemungkinan masa depan dengan dasar yang kuat yaitu pengalaman terbaik dan hubungan positif subjek (seseorang, organisasi, komunitas) terhadapnya. Dengan demikian, inkuiri apresiatif (appreciative inquiry) bekerja dengan asumsi bahwa lingkungan ini tercipta untuk mendukung sistem kehidupan dan selalu tersedia kapasitas yang sedang berjalan dengan baik.

Gagasan penting lain yang ditawarkan inkuiri apresiatif (appreciative inquiry) adalah lebih baik mengembangkan apa yang sudah berjalan dengan baik di dalam suatu komunitas/organisasi, ketimbang mencoba memperbaiki masalah. Ini berlawanan dengan cara lama yang cenderung mencari penyelesaian masalah (problem solving). Sebaliknya, inkuiri apresiatif  justru memusatkan pada keberhasilan yang pernah terjadi dan yang sekarang berjalan dengan baik, kemudian memperkuatnya. Dan hasilnya, ternyata memberikan dampak yang melebihi dari penyelesaian masalah itu sendiri.

Dalam penelitian yang berjudul Visi Dan Inkuiri Apresiatif BAGJA Dalam Penumbuhan merdeka Belajar Murid Kelas VI D SD Saraswati 3 DenpasaTahun Pelajaran 2020/2021, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok murid yang belajar dengan strategi pembelajaran inkuiri dengan strategi pembelajaran langsung terhadap kemampuan berpikir kritis maupun pemahaman konsep.

Hasil pengujian hipotesis tersebut memberikan gambaran bahwa strategi pembelajaran inkuiri berdampak konstruktif, karena pada proses pembelajaran cenderung berpusat pada siswa yang menjadikan siswa sebagai subjek dan menekankan keaktifan siswa untuk belajar menemukan topik dan materi pembelajaran.

Pengertian Merdeka Belajar

Kata “merdeka” (independent) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni: (1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Sedangkan kata “belajar” yang dirasakan sebagai kebutuhan yang vital, karena hampir semua kecakapan, keterampilan, dan kebiasaan manusia terbentuk dari proses belajar yang dimodifikasi bagi setiap orang.

Menurut Jihad, (2008: 01) menyatakan, “belajar adalah kegiatan berproses melalui jenjang pendidikan, keberhasilan tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar di sekolah. Merdeka belajar adalah suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Mengajar dengan nuansa yang nyaman akan lebih menyenangkan bagi guru maupun murid. Pembelajaran akan lebih nyaman, jika murid dapat berdiskusi lebih dengan gurunya serta dapat belajar di luar kelas, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan dari guru, tetapi lebih membentuk karakter murid yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking, yang menurut beberapa survey hanya meresahkan anak dan orang tua, karena setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda.

Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan berkompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat. Kondisi yang menyenangkan, aman, dan nyaman akan mengaktifkan bagian otak berpikir dan mengoptimalkan proses belajar mengajar serta meningkatkan kepecayaan diri anak. Suasana kelas yang kaku, penuh beban, guru yang kurang menyenangkan akan menurunkan fungsi otak anak dan anak tidak berpikir efektif, reaktif atau agresif.

Deskripsi Aksi Nyata

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim adalah pencetus program merdeka belajar. Merdeka belajar bertujuan agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia saat belajar. Merdeka belajar adalah proses pendidikan  yang harus menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan. Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Di sinilah pendidik harus mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya.

Diperlukan waktu yang cukup serta kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik.

Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik. Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk mendengarkan pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada keterampilan berpikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.

Program merdeka belajar dilahirkan dari banyaknya keluhan terhadap sistem pendidikan. Salah satunya keluhan soal banyaknya peserta didik yang dipatok oleh nilai-nilai tertentu. “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir, terutama esensi kemerdekaan berpikir harus diterapkan oleh guru terlebih dahulu. Jika guru tidak menerapkan, tidak mungkin bisa terjadi pada peserta didik.”

Saat kita percaya kemerdekaan guru dan kemerdekaan belajar, maka akan bersinggungan dengan banyak hal. Salah satunya kemerdekaan dalam proses belajar.  Proses belajar butuh kemerdekaan, sudah tentu. Sebab, kemerdekaan harus melekat pada subyek yang melakukan proses belajar, guru ataupun peserta didik. Perspektif kemerdekaan itu sendiri, bukan sekedar kepatuhan atau perlawanan. Kemerdekaan adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan diberikan. Kemerdekaan adalah bagian penting dari pengembangan guru.

Sama seperti burung yang tidak berani keluar dari kandang, kompetensi guru tidak akan bisa optimal jika tidak diberikan  kemerdekaan atau kebebasan berpikir. Sebab, hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak, hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu pada anak dan hanya guru belajar secara terus menerus yang pantas mengajar. Apa yang dipercayai guru adalah bagian penting dari apakah dia mampu mencapai kemerdekaan dan memerdekakan belajar.

Dalam situasi seperti ini, guru yang memiliki kemerdekaan juga seringkali disalahartikan sebagai perlawanan terhadap aturan atau kebijakan. Ini pendefinisian yang kurang tepat, karena kemerdekaan sesungguhnya selalu berkaitan dengan inisiatif diri. Guru perlu merdeka untuk mencapai cita-cita, bukan sekadar ”merdeka” dari kebijakan.

Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Evaluasi menggali munculnya berpikir divergen, pemecahan masalah secara ganda atau tidak menuntut satu jawaban benar karena pada kenyataannya tidak ada jawaban siswa yang salah, yang ada adalah pertanyaan pendidik yang salah.

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata, artinya evaluasi lebih menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok.

Hasil Aksi Nyata

Peningkatan mutu sumber daya manusia menghadirkan masyarakat yang kaya akan kreativitas dalam pengaktualisasian ilmunya sendiri dan memaksa supaya tidak berpikir monoton merupakan tujuan yang paling utama dalam perubahan kebijakan pendidikan saat ini.

Fokus pada peningkatan tiga indikator yaitu numerasi, merupakan peningkatan kemampuan penguasaan tentang angka-angka, literasi yaitu kemampuan menganalisa bacaan, dan memahami di balik tulisan tersebut dan pembinaan karakter yaitu melakukan pembelajaran gotong royong ke-bhinnekaan dan sebagainnya.

Dalam pembelajaran berbasis budaya, budaya menjadi sebuah metode bagi siswa untuk mentransformasikan hasil observasi mereka kedalam bentuk-bentuk dan prinsip-prinsip yang kreatif tentang alam. Dengan demikian, melalui pembelajaran berbasis budaya, siswa bukan sekadar meniru atau menerima saja informasi yang disampaikan, tetapi siswa dimerdekakan untuk menciptakan makna, pemahaman,dan arti dari informasi yang diperolehnya

Pengetahuan, bukan sekedar rangkuman naratif dari pengetahuan yang dimiliki orang lain, tetapi suatu koleksi yang dimiliki seseorang tentang pemikiran, perilaku, keterkaitan, prediksi dan perasaan, hasil transformasi dari beragam informasi yang diterimanya. Pembelajaran berbasis budaya merupakan salah satu cara yang dipersepsikan dapat;

(1) menjadikan pembelajaran bermakna dan kontekstual yang sangat terkait dengan komunitas budaya, di mana suatu bidang ilmu dipelajari dan akan diterapkan nantinya, dan dengan komunitas budaya dari mana kita berasal.

(2) menjadikan pembelajaran menarik dan menyenangkan. Kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya penciptaan makna secara kontekstual berdasarkan pada pengalaman awal sebagai seorang anggota suatu masyarakat budaya. Hal ini sejalan dengan pemikiran aliran konstruktivisme yaitu aliran pementasan drama yang menolak pemakaian latar lukisan dan bentuk dekorasi realistis agar diganti dengan konstruksi lain, seperti tangga dan sebagainya.

Jadi, belajar bukan hanya menerima apa yang ditransfer guru, tetapi peserta didik bebas menerima dan mengembangkan ilmu yang ditransfer guru sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, pendidikan yang berkualitas akan mencerminkan masyarakat yang maju, damai dan mengarah kepada sifat-sifat yang konstruktif. Pendidikan juga menjadi roda penggerak kehidupan bangsa.

Keberhasilan Dan Kegagalan Dalam Proses Pelaksanaan Pembelajaran

Inkuiri, merupakan salah satu model yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi siswa yaitu: berpikir kritis, belajar secara mandiri, dan lain sebagainya, merupakan salah satu model pendekatan yang berpusat pada siswa dan sesuai untuk diaplikasikan di Sekolah Dasar, terutama sekolah yang menggunakan kurikulum 2013.

Beberapa keunggulan pembelajaran berbasis inkuiri, yaitu: (1) merangsang untuk belajar aktif, (2) mengembangkan kemampuan berpikir kritis dengan mencari dan menemukan sendiri topik dan materi pembelajaran sendiri, (3) meningkatkan penguasaan konsep, dan (4) menekankan komunikasi siswa. Keunggulan tersebut merupakan alasan penggunaan model pembelajaran inkuiri, agar kemampuan berpikir murid meningkat,

Kekurangan pembelajaran berbasis inkuri, yaitu “(1) pembelajaran sedikit sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasan siswa dalam belajar, (2) memerlukan waktu yang panjang dan itu menjadikan guru kesulitan untuk menyesuaikan waktu yang sudah ditentukan, (3) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran, maka penggunaan model inkuiri akan sulit diterapkan oleh setiap guru” (Sanjaya, 2010: 208).

Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Ada murid yang memiliki pengharapan tinggi, dapat mengoseptualisasikan tujuan dengan jelas, menentukan tujuan berdasarkan kinerja sebelumnya, memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari yang dapat dicapai, dapat menyelaraskan diri dengan tujuan mereka sendiri dan mengendalikan bagaimana mencapainya, kemudian termotivasi secara intrinsik dan berkinerja baik secara akademis dikatagorikan murid merdeka belajar, sebaliknya murid yang memiliki pengharapan rendah, ragu-ragu, tidak jelas dengan tujuan diibaratkan murid yang berlayar tanpa menggunakan peta, hal tersebut sangat membahayakan karena itu murid dengan motivasi rendah, memerlukan tuntunan yang lebih dari guru, orangtua, dan masyarakat.

Dari uraian tersebut di atas, perubahan-perubahan yang sangat diperlukan di kelas VI D SD Saraswati 3 Denpasar, demi terwujudnya “visi murid merdeka” dengan lebih efektif, yaitu:

(1) Penumbuhan karakter yang baik dan semakin baik, jadi murid bukan hanya pintar dalam pengetahuan saja, tetapi murid dapat diterima secara utuh dimasyarakat,

(2) Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengutamakan terjadinya peningkatan komunikasi 2 arah (dialog) bukan monolog yang kaku, dengan model yang beragam contohnya: Tanya-jawab, diskusi perorangan/kelompok, kuis, percobaan (riset) di laboratorium, perpustakaan dan lain sebagainya

(3) Memperkuat dasar-dasar pengetahuan, bakat, kesukaan, sehingga murid dapat menentukan pilihan pada satu bidang yang ingin digelutinya di masa datang sebagai sebuah profesi (ahli dibidangnya),

(4) Selalu mengaitkan hal-hal yang telah dipelajari dengan dunia nyata (masyarakat), baik dari tujuan, manfaat, penerapan, sehingga murid mengetahui dengan pasti potensi dirinya dengan jiwa dan akhlak yang mulia,

(5) Pembelajaran di luar kelas, yaitu guru mendesain pembelajaran di luar kelas, dengan merancang daerah atau lokasi yang akan digunakan untuk belajar (botanical garden, lahan persawahan, lahan pertanian, perindustrian, pertamina, pantai, pegunungan, lapangan, dan lain sebagainya) yang sudah dipikirkan juga bagaimana menuju daerah/lokasi tersebut, apakah menggunakan transportasi sekolah (bus/minibus), atau lokasi dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau mengendari sepeda gayung yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Guna mendukung perubahan-perubahan tersebut di atas, hal yang paling dibutuhkan murid adalah transportasi sekolah yang memadai, laboratorium, ruang perpustakaan yang lengkap dan nyaman untuk menumbuhkan minat membaca, internet dengan kapasitas jaringan yang baik.

Dokumentasi proses Aksi Nyata

****

Simpulan

Pendekatan Inkuiri, merupakan salah satu model yang dapat memberikan stimulus yang baik bagi siswa yaitu: berpikir kritis, belajar secara mandiri dengan penggambaran strategi pembelajaran inkuiri berdampak konstruktif, karena pada proses pembelajaran cenderung berpusat pada siswa yang menjadikan siswa sebagai subjek dan menekankan keaktifan siswa untuk belajar menemukan topik dan materi pembelajaran.

Merdeka belajar adalah proses pendidikan dengan menciptakan suasana-suasana yang membahagiakan, sekolah tak lagi menakutkan dengan berbagai aturan yang mengikatnya, murid bisa merasa nyaman dan aman di sekolahnya, maka murid menjadi manusia yang merdeka dengan tetap memelihara ketertiban dan dan kedamaian di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Aditya Dharma. 2020. Modul 1.3: Visi Guru Penggerak. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Ali, Mohammad Prof., Dr., dan Asrori, Mohammad Prof., Dr. 2006. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara

Danim, Sudarwan. 2007.  Metode Penelitian untuk Ilmu-Ilmu Perilaku. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara.

Dimyati., Dr. dan Mudjiono., Drs. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.

Ducha, Marrisa Nurul. 2016. Konsep Pendidikan Ki hadjar Dewantara Sebagai Penguatan Manajemen Mutu Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Hasibuan., Ibrahim dan Toenlioe, A.J.E. 1991. Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Mengajar Mikro. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jihad, Asep dan Haris, Abdul. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Multi Pressindo.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Muslich, Masnur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara

Nasution, M.A., Prof., Dr. 2008. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Rooijakkers, Ad. 1991. Mengajar dengan SuksesPetunjuk untuk Merencanakan dan Menyampaikan Pengajaran”. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana, Indonesia.

Sardiman A.M. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. PT RajaGrafindo Persada.

Samho Bartolomeus., SS., M.Pd dan Yasunari Oscar., SS., MM. 2010. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Dan Tantangan-Tantangan Implementasinya Di Indonesia Dewasa Ini. Bandung: Lembaga penelitian Dan Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.

Suryosubroto, B., Drs. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Penulis:
I Made Sukarda
CGP Kota Denpasar

One Reply to “Menerapkan Inkuiri Apresiatif BAGJA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *