MENUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA PADA SISWA

Tulisan ini merupakan deskripsi aksi nyata kegiatan calon guru pengerak yaitu: Menjadi Wirausaha Cilik  “Bazar Kuliner Nusantara Melalui Instagram”

Latar belakang Wirausaha Cilik

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnyakodrat itu.” Berbekal filosofi Ki Hajar inilah seorang guru mulai tergerak, bergerak, dan menggerakkan roda pendidikan di masa penuh tantangan.

Kegiatan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 membuat guru harus selalu berbenah diri, inovatif, dan kreatif menciptakan pembelajaran yang bahagia dan bermakna bagi anak. Memberikan bimbingan belajar kepada peserta didik di masa ini memang bukan hal yang mudah.

Membangkitkan gairah belajar anak tak sekadar memberikan tugas mengerjakan buku paket maupun LKS. Belajar yang bermakna sepatutnya diikuti dengan karya dan aksi nyata anak. Aksi-aksi nyata berupa pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan tetap menuntun anak dengan nilai- nilai kemanusiaan dan budi pekerti. Karya adalah bukti nyata bahwa anak telah melewati proses belajar yang bermakna.

Wirausaha menjadi sebuah kegiatan kreatif yang mampu menuntun sang anak untuk mengolah cipta, rasa, dan karsa sehingga melahirkan sebuah karya berbudaya. Kegiatan berwirausaha juga akan membangkitkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab bagi diri anak. Jiwa kepemimpinan nantinya menjadi bekal mereka untuk lebih tangguh menghadapi segala tantangan zaman.

Salah satu kegiatan wirausaha yang mampu membangkitkan rasa persatuan dalam keberagaman dalam diri siswa adalah membangkitkan kuliner khas nusantara. Siswa di tengah pandemi masih bisa merasakan betapa beragamnya kuliner daerah dengan jalan menciptakan kuliner tersebut bersama keluarga, kemudian belajar untuk mempromosikan dan menjualnya secara online. Kegiatan ini dirancang dengan jalan mengadakan “Bazar Kuliner Nusantara melalui Instagram”.

Adapun tujuan dari kegiatan wirausaha cilik adalah agar anak memperoleh baragam nilai karakter sepanjang mereka berproses.

Pertama, anak diharapkan mencintai makanan khas nusantara dan ikut serta dalam upaya melestarikan warisan makanan nenek moyang bangsa kita.

Kedua, anak memiliki kemampuan bergotong royong bersama keluarga untuk menghasilkan produk makanan tradisional yang berkualitas.

Ketiga, seorang anak akan tertantang untuk menggali ide wirausaha secara kritis dengan menemukan di berbagai sumber.

Keempat, penemuan ide akan menuntun anak untuk berkreasi dan berinovasi, sehingga menghasilkan produk yang berbeda dari yang telah ada.

Kelima, anak akan belajar untuk mandiri mengatur dan mengelola keuangan.

Keenam, anak juga akan mengamalkan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesopanan, dan rasa syukur saat melakukan kegiatan jual beli.

Selain tujuan di atas, kegiatan kewirausahaan juga dapat mencapai hasil belajar secara holistik di setiap mata pelajaran yang terintegrasi dalam pembelajaran tematik. Dalam pembelajaran PPKn siswa diharapkan mampu mencapai tujuan di atas.

Pembelajaran IPS siswa mampu melakukan kegiatan usaha mikro  dan melakukan kegiatan ekonomi yang berdampak bagi diri sendiri dan banyak orang. Pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu mempromosikan produknya dengan bahasa yang santun, menarik, memikat, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Terakhir, dengan mengunggah foto yang menarik dan bahasa iklan yang memikat, siswa mampu mempraktikkan secara langsung pembuatan iklan dalam pembelajaran SBDP.

Aksi Nyata Wirausaha Cilik

Wirausaha menjadi kegiatan pembelajaran yang sangat menarik, berguna, dan sangat kontekstual bagi pribadi seorang anak. Wirausaha bukan hanya sebuah profesi berdagang, tapi sebuah skill yang mampu mengantarkan anak untuk bisa berkembang di era 4.0.

BAZAR KULINER NUSANTARA MELALUI INSTAGRAM

Kegiatan berwirausaha bermanfaat untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan keberanian anak dalam berinovasi secara merdeka. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mengimplementasikan aksi nyata “Bazar Kuliner Nusantara melalui Instagram” adalah sebagai berikut.

  1. Guru menayangkan video proses wirausaha local kekinian yang inspiratif melalui zoom
  2. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa mengenai kegiatan wirausaha, seperti kuliner nusantara apa yang disukai siswa, di mana mereka suka membeli kuliner tersebut, adakah kuliner nusantara kekinian yang mereka jumpai atau mereka jumpai di swalayan/ mall?
  3. Siswa dituntun untuk memikirkan ide secara kritis untuk menemukan usaha apa yang tepat untuk mereka jalankan
  4. Siswa mengemukakan buah pemikirannya kepada teman dan guru
  5. Siswa melakukan aksi nyata dan praktik baik bersama keluarga atau orang terdekat dengan membuat produk kuliner nusantara
  6. Siswa memposting hasil karya mereka ke instagram dengan mencantumkan keterangan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik, santun, menarik, dan memikat, sehingga  masyarakat di media social tertarik untuk mencoba dan membeli
  7. Dalam keterangan produk, siswa juga menjelaskan kandungan nutrisi atau manfaat kesehatan dari produk yang mereka pasarkan
  8. Siswa melakukan transaksi jual beli dengan pendampingan orang tua dan tetap menjaga protokol kesehatan
  9. Siswa dan guru melakukan refleksi setelah kegiatan bazar usai untuk mengetahui hal-hal baik yang mereka terima saat berwirausaha, menceritakan tantangan yang mereka hadapi, dan menyampaikan perbaikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
  10. Guru memberikan apresiasi terhadap perjuangan siswa secara adil dan bermakna

Hasil Bazar Kuliner Nusantara melalui Instagram

Kegiatan kewirausahaan cilik ini berproses selama tiga minggu. Diawali dengan langkah merencanakan aksi nyata, menyampaikan perencanaan belajar kepada orang tua dan siswa melalui WA group, mengadakan pertemuan melalui zoom meeting I, yang diikuti oleh 47 siswa kelas VIC untuk membuat kesepakatan belajar.

Dalam pertemuan zoom tersebut, guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai kuliner nusantara yang masih eksis dan bertahan di era 4.0. Siswa kemudian dituntun untuk menyaksikan video inspiratif wirausaha local kekinian “Raja Cendol: Waktu Tak Pernah Berjalan Mundur, Hidup adalah Tentang Maju”. Usai menonton tayangan tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk berefleksi, mengemukakan pendapatnya tentang sikap yang harus dimiliki seorang wirausaha dalam membangkitkan kuliner khas nusantara agar mampu bertahan di setiap zaman.

Di akhir pertemuan zoom, siswa diminta memikirkan kuliner daerah yang akan dibuat dan dijual siswa secara online. Kegiatan berpikir kritis ini dilakukan bersama orang tua atau orang terdekat di rumah dan dipertemuan berikutnya siswa telah siap dengan alasan- alasan mereka membuat dan mengangkat kuliner nusantara tersebut sebagai produk wirausahanya.

Tibalah siswa di pertemuan  zoom meeting II, setiap anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan setiap ide dan alasan mereka secara merdeka mengangkat kuliner nusantara pilihannya. Siswa dan guru membuat kesepakatan kembali target pembuatan produk selama 5 hari dan setiap proses didokumentasikan dengan terperinci.

Saat hari ke lima tiba, guru kembali mengadakan zoom meeting III untuk merefleksi kendala- kendala yang mereka hadapi selama proses pembuatan produk kuliner. Siswa diberikan kemerdekaan mencurahkan kesulitannya, diskusi bersama teman untuk menemukan jalan keluar, serta menceritakan hal baik yang mereka rasakan selama proses pembelajaran itu berlangsung di rumah.

Sebagian besar siswa mengaku tidak mengalami kesulitan saat berproses karena didukung penuh oleh orang tua, terutama ibu mereka. Mereka juga mengaku tugas ini sebuah tantangan yang sangat menarik, merasakan belajar yang seru, membuat kebiasaan baru bersama orang tua di rumah, serta menjalin kedekatan dengan keluarga dalam menuntaskan tugas belajar.

Namun, ada beberapa siswa yang mengalami kendala karena tidak dapat menuntaskan tugas secara tepat waktu. Hal ini dikarenakan kesibukan orang tua bekerja serta adanya kegiatan keagamaan atau adat saat pembelajaran ini berlangsung. Untuk mengatasi masalah tersebut, guru memberikan kelonggaran waktu kepada siswa untuk tetap berkarya sesuai dengan kemampuan mereka bersama keluarga.

Dalam kegiatan belajar wirausaha ini, dorongan dan motivasi tidak hanya tampak diberikan guru kepada siswa, melainkan siswa satu dan lainnya juga saling mensupport, mendukung, dan memberikan semangat. Orang tua dalam tiap prosesnya juga berusaha memberikan kontribusi positif kepada tugas-tugas anak yang ditunjukkan dalam respon-respon positif orang tua di WA group belajar.

Selain melakukan refleksi, dalam pertemuan zoom meeting III siswa juga menyimak beberapa contoh foto dan bahasa iklan yang efektif dalam mempromosikan kuliner nusantara di Instagram. Siswa kembali diberikan waktu selama 5 hari melakukan aksi nyata mempromosikan kuliner khas nusantara di akun Instagram pribadi, kelas, dan instagram milik guru.

KULINER NUSANTARA KARYA DIDI DAN MAMA

Promosi dilakukan dengan memposting atau mengunggah foto dan video menarik produk kuliner nusantara yang dijelaskan pula dengan kalimat iklan persuasif yang santun, efektif, dan menarik. Siswa dalam kurun waktu lima hari tersebut juga dapat melakukan transaksi seizin orang tua, baik melalui aplikasi Gojek, Grab, atau diantar langsung.

Setelah lima hari proses promosi produk berakhir, siswa kembali mengadakan zoom meeting IV untuk menceritakan sejauh mana respon masyarakat Instagram tertarik terhadap produk mereka. Respon-respon tersebut ditunjukkan dari komentar, apresiasi, dan pemesanan yang muncul dalam kolom komentar.

Sebagian besar siswa menceritakan dengan riang bahwa mereka telah menerima pesanan dari usaha yang mereka lakukan. Namun, ada beberapa siswa yang belum mendapatkan pesanan. Mengatasi ketimpangan ini, guru berusaha memberikan semangat dan dukungan agar siswa tidak menyerah begitu saja.

Setiap perjuangan dan proses yang dilalui anak adalah sesuatu yang berharga dan mulia. Semua patut mendapatkan apresiasi. Pada pertemuan ini guru memberikan kesempatan kepada siswa selama empat hari untuk tetap berpromosi sambil merekap seluruh modal usaha, keuntungan, bahkan kerugian yang dialami dalam berwirausaha.

AKSI NYATA COK DE WIRAUSAHA CILIK

Siswa diminta untuk memaparkan secara jujur di pertemuan berikutnya tanpa harus malu ataupun minder. Siswa juga diberikan pengertian untuk mengelola keuntungan secara bijaksana.  Dengan cara, menggunakan keuntungan untuk hal-hal penting dan bermanfaat, serta menyisihkannya untuk misi kemanusiaan.

Zoom meeting V menjadi akhir perjuangan anak-anak dalam misi Bazar Kuliner Nusantara melalui Instagram. Di pertemuan ini siswa memaparkan modal, keuntungan, serta kerugian mereka melalui kolom chat. Siswa juga menceritakan aksi kemanusiaan yang sudah mereka lakukan dari laba yang diperoleh.

Ada anak yang menggunakan labanya untuk membeli masker dan dibagikan kepada para tetangga. Adapula siswa yang membelikan bingkisan kecil untuk ibu yang telah membantunya memasak, adapula yang dipakai berdana punia di pura.

Di akhir pembelajaran ini siswa mengaku sangat bahagia mengikuti setiap proses berwirausaha meskipun tidak semua anak merasakan keuntungan dari dagangan yang di jual. Akan tetapi, pengalaman yang mereka rasakan adalah perjuangan yang menjadi kenangan indah bersama.

Pembelajaran yang diperoleh dari wirausaha cilik

Segala sesuatu yang telah direncanakan tentu dalam pengimplementasiannya tidak berjalan sempurna. Ada keberhasilan, ada hambatan, bahkan kegagalan. Ketiga hal tersebut merupakan pengalaman yang dapat menyempurnakan pembelajaran agar lebih bermakna. Tercapainya keberhasilan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

  1. Siswa berhasil melestarikan kuliner nusantara dan mengemasnya menjadi makanan kekinian yang dijual online melalui Instagram
  2. Siswa memiliki kemampuan bergotong royong bersama keluarga untuk menghasilkan produk makanan tradisional yang berkualitas.
  3. Siswa mampu mempromosikan produknya dengan gambar yang menarik dan bahasa pemasaran yang efektif, persuasif, dan santun
  4. Siswa menjadi pribadi yang mandiri mengelola sosial media dengan bijaksana, bermanfaat, dan bertanggungjawab.
  5. Siswa belajar kejujuran, kesabaran, dan nilai kemanusiaan dari proses dan hasil berjualan
  6. Siswa berhasil menjadi pemimpin  kegiatan usaha mikro yang berdampak bagi diri sendiri dan banyak orang
  7. Respon dan semangat orang tua dalam membantu sang anak selama proses mereka berkarya, hingga mempromosikan di akun social medianya.

Ada beberapa hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran ini, diantaranya:

  1. Kegiatan zoom meeting tidak sepenuhnya bisa diikuti oleh seluruh siswa dikarenakan kendala sinyal ataupun kesibukan siswa bersama keluarganya.
  2. Keterbatasan siswa dalam mengirimkan produknya ke konsumen karena dampak pandemic covid 19
  3. Ketidaktepatan waktu pengumpulan tugas karena kondisi dan kesibukan orang tua yang harus dimaklumi

Dibalik keberhasilan, ada beberapa kegagalan dalam proses pembelajaran bazar kuliner nusantara melalui Instagram, diantaranya.

  1. Ketidakberhasilan guru dalam membeli dan mencoba kuliner seluruh siswa karena banyak siswa sejumlah 47 anak, sehingga prinsip keadilan kurang terimplementasi dengan baik.
  2. Kurangnya pengawasan guru dalam menyaksikan siswa berproses karena segala kegiatan dilakukan secara daring
  3. Sulitnya memberi motivasi dari hati ke hati kepada peserta didik karena pelaksanaan dilakukan secara daring

Penulis:
Ida Ayu Eka Yuniasri
CGP Kota Denpasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *